Rabu, 24 Agustus 2016

Mpok Ris Pendekar Jelita dan Plawad Sakti (tentang sejarah, humor, silat, dan tari)



Teater Mpok Ris Pendekar Jelita dan Plawad Sakti




Masyarakat yang terarah adalah masyarakat yang menghargai akan sejarah. Sejarah  Betawi tidak berhenti hanya di si pitung yang berjuang melawan kumpeni. Ada pendekar cantik nan sakti yang dipunyai masyarakat betawi, tetapi tidak begitu dikenal oleh remaja masa kini. Tersebutlah Mpok Ris, warga Desa Cipondoh Tangerang. Mpok Ris  merupakan pendekar dengan ciri khas selendang warna kuning kunyit dan tongkat plawad sebagai senjatanya. Plawad sendiri merupakan sejenis batang tebu dengan  kondisi  lebih kuat. Legenda tentang mpok ris ini menjadi cikal bakal nama desa poris plawad di daerah Tangerang. Poris berawal dari kata Mpok Ris, dan Plawad berasal dari senjata Mpok Ris kayu plawad dalam berperang melawan kumpeni. Bagi Jakartrans kaum urban, nama poris plawad sudah tidak asing lagi. Nama poris plawad sering muncul di Jurusan Bus APTB PuloGadung via Poris Plawad (hahahaha).

Tari Topeng sebagai opening act teater


Sekelumit sejarah di atas, saya dapatkan setelah menonton pertunjukkan teater Mpok Ris Pendekar Jelita dan Plawad Sakti. Teater tentang pendekar Betawi ini dibawakan oleh Teater Jagad Ratu dengan sutradara dan koreografer Yuyun Arfah. Bertempat di Galeri IndonesiaKaya, Minggu 21 Agustus 2016 pertunjukan Teater Mpok Ris Pendekar Jelita dan Plawad Sakti berhasil mengocok perut penonton. Menceritakan sejarah dengan komedi khas betawi ditampilkan dengan apik dalam teater ini. Tarian-tarian betawi yang khas dengan goyangan dan musiknya yang rampak,menghiasi di sela-sela pertunjukkan.


Humor Betawi kental ditampilkan di teater ini


Diperankan oleh Poppy Parisa sebagai Mpok Ris, Rosita Oche dan Adhe Chandra sebagai sahabat Mpok ris, berhasil membuat emosi penonton naik turun, mulai dari takjub dengan tarian, aksi pencak silat dan komedi-komedi segar. Tokoh Betawi asli juga turut andil dalam memainkan peran sebagai guru ngaji dan babe Mpok Ris, ialah Sabar bin Bokir, tokoh betawi yang cukup terkenal. Herry Bodong yang wajahnya sering muncul di televisi ikut meramaikan teater ini dengan banyolan-banyolan konyolnya.Berperang sebagai bodong,murid silat babe yang naksir Mpok Ris, si Bodong mampu mengambil hati penonton dengan tingkah lucunya. Tak ketinggalan mantan Abang None Jakarta Selatan 2012, Lutfi Ardiansyah berperan sebagai suami Mpok Ris dan Jawara Kampung, apik dalam memerankan dan menunjukkan kemampuan silatnya. Teater dengan durasi 1,5 jam dalam penampilannya ditambahkan ilustrasi-ilustrasi gambar karya Ahmad Inggar Gusmayana.



Silat khas Betawi


Diawali dengan tari topeng, Yuyun Arfah sebagai narator mengantarkan teater Mpok Ris Pendekar Jelita dan Plawad Sakti. Teater ini menceritakan tentang kehidupan gadis betawi yang kental dengan aturan dari orang tuanya (babe). Masyarakat Betawi zaman dahulu yang jago mengaji dan silat ditampilkan dalam teater ini. Setting surau pengajian dan suara orang-orang mengaji mencoba menampilkan budaya betawi islam dalam masa penjajahan kompeni. Yuyun Arfah sebagai sutradara berhasil menggambarkan bahwa budaya Betawi Islam sudah ada sejak jaman penjajahan.

Adegan perebutan jawara sayembara calon suami Mpok Ris


Berlanjut ke adegan-adegan silat yang dibumbui dengan humor khas betawi si Bodong mampu membuat penonton terpingkal-pingkal. Unsur seni silat benar-benar ditonjolkan. Kagum dengan jurus-jurus silat yang tidak asal-asalan dan manuver-manuver bantingan bantingan benar-benar diperhatikan oleh koreografer dari teater ini.
Diceritakan Mpok Ris sendiri merupakan  anak perempuan Babe yang jago mengaji dan bela diri. Mpok Ris sendiri punya dua sahabat Mpok chandra dan Mpok Oche. Karakter Mpok Chandra lebih keras dan agak tomboy, sedangkan Mpok Oce genit dan senang dengan Bodong, teman satu perguruan silatnya. Teater  ini menggabungkan antara cerita cinta, komedi, agama dan bela diri. Paket lengkap dalam belajar sejarah budaya betawi, khususnya asal muasal Desa Poris Plawad di Tangerang.

Koreografi nan apik menceritakan tentang pernikahan Mpok Ris



Kembali ke cerita Mpok Ris di masa penjajahan kolonial. Konon saat itu, kompeni menduduki wilayah Cipondoh (tempat  tinggal Mpok Ris)  sebagai basis pergudangan. Hal ini benar jika dilihat dari posisi benteng pertahanan kompeni di sekitar Batu Ceper, yang hanya berjarak sekilo sampai dua kilometer dari Cipondoh. Gudang pembekalan kompeni sendiri pernah ditemukan di sekitar Cipondoh.



Aktifitas kompeni cukup banyak menimbulkan derita di hati masyarakat. Diceritakan penjarahan atas hasil pertanian masyarakat kerap kompeni lakukan. Padahal masyarakat Cipondoh yang notabene suku Betawi sangat mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian. Mpok Ris yang mendengar berita ini tidak tinggal diam. Niat mulia membela rakyat jelata dengan kemampuan silatnya. Mpok ris berhasil menaklukkan centeng-centeng kumpeni. Ketenaran Mpok Ris semakin naik dikalangan warga Cipondoh.

Tari Pernikahan Mpok Ris


Mpok Ris dikenang sebagai pendekar yang menguasai cukup banyak jurus silat, bahkan diceritakan dia pernah berguru kepada jawara-jawara Betawi sampe jagoan kungfu. Meski begitu, Mpok Ris juga digambarkan sebagai sosok jelita. Sampai pada suatu saat, Sang Babe menginginkan Mpok Ris untuk menikah. Mpok Ris bersedia menikah dengan orang yang mampu melindungi dirinya. Akhirnya Sang Babe membuka sayembara di kampungnya. Sayembara itu berisi, bagi siapa yang mampu mengalahkan Silat dari Mpok Ris maka akan dia nikahkan dengan putrinya. Pertarungan pun dimulai antara pendekar-pendekar jagoan betawi untuk memperebutkan Mpok Ris. Akhirnya menyisakan satu jawara yang akan melawan kesaktian jurus-jurus Mpok Ris. Mpok Ris bertekuk lutut di hadapan pria ini, dan berhasil menikahi Mpok Ris.

Mpok Ris dan Plawad Saktinya


Walaupun setelah menikah, Mpok Ris tetap membela rakyat jelata melawan centeng-centeng kumpeni. Entah berapa lama Mpok Ris melawan penjajah, namun ia terkenal selalu menggunakan batang pohon Plawad yaitu sejenis pohon tebu dan selendang warna kuning kunyit  dalam aksinya. Dalam pertempuran terakhir Mpok Ris berhasil dikalahkan centeng-centeng kumpeni. Ada yang bilang Mpok Ris kalah karena ia menikah padahal keperawanannyalah sumber kesaktiannya.
di akhir acara, penonton diajak menari bersama


Teater Jagad Ratu berhasil mencampuradukkan emosi penonton, dari yang tertawa terpingkal-pingkal, takjub pertarungan silat, sampai terenyuh karena kematian Mpok Ris. Suatu pertunjukkan yang komplit dalam mempelajari sejarah Betawi. Karena belajar sejarah itu mudah. Terima kasih Galeri Indonesia Kaya dalam ranngka memperingati Dirgahayu RI ke-71 menampilkan teater ini untuk mengingat kembali jasa-jasa pahlawan. Bertambah lagi satu pengetahuan bahwa pendekar dan pahlawan Betawi tidak hanya Si Pitung, melainkan ada pendekar jelita Mpok Ris.
Seluruh pemain dan Sutradara Teater Jagad Ratu




Repyssa 























Untuk mengetahui keseruan tentang teater ini,berikut saya buat cuplikan pertunjukan Mpok Ris Pendekar Jelita dan Plawad Sakti:








Selasa, 17 November 2015

Punthuk Sukmojoyo, Mongkrong dan Pos Mati di Pagi Hari

 

Rumah Pohon Sukmojoyo

 Bukan, foto di atas bukan rumah pohon Kalibiru Kulon Progo Yogyakarta yang tersohor itu, tapi pemandangan foto di atas ada di Magelang.


Puncak Sukmojoyo
Bukan, foto di atas bukan Tebing Keraton yang terkenal di Bandung itu. Pemandangan foto di atas dapat ditemukan di Magelang.



 
Sunrise Sukmojoyo



Magelang kota kecil yang teletak di tengah Pulau Jawa yang dikelilingi lima gunung berapi dan 2 sungai besar membuat kota ini sejuk dan setiap orang yang tinggal di kota ini akan merasa damai. Panca Arga atau istilah lima gunung yang mengelilingi Magelang adalah Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Telomoyo dan Menoreh. Magelang merupakan satu-satu nya kota yang dikelilingi lima gunung dan yang menambah keunikan kota ini adalah terdapatnya Bukit Tidar di tengah Kota Magelang yang menjadi poros dari kelima gunung tersebut. Menurut Legenda, Magelang merupakan pakunya Pulau Jawa dengan adanya Bukit Tidar ini. Jika Bukit Tidar rusak, maka Pulau Jawa akan tenggelam. Tidak heran apabila di kota ini banyak pesona sunrise view karena keadaan geografis yang seperti ini.



Sekilas Sunrise Spot di Magelang

Sebutlah satu,  nirwana sunrise Punthuk Setumbu, dimana kita bisa melihat sunrise di tempat ini dengan background candi Borobudur yang seakan melayang di awan. Punthuk dalam bahasa Jawa berarti gundukan tanah. Punthuk Setumbu sudah terkenal di kalangan wisatawan mancanegara dan domestik. Akses dan fasilitas di tempat ini juga sudah dikelola dengan baik. Terletak di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Punthuk Setumbu saat hari libur ramai dikunjungi wisatawan.


 
Sunrise Setumbu
 

Magelang tidak berhenti di punthuk setumbu untuk melihat sunrise dengan background Borobudur. Pesona sunrise ditawarkan di tempat lain yang menjadi bekas patilasan perjuangan Pangeran Diponegoro. Tiga punthuk yang menjadi tempat beristirahatnya Pangeran Diponegoro saat berperang melawan Belanda. Sebutlah ketiga tempat beristirahat tersebut Puncak Mongkrong, Punthuk Sukmojoyo dan Pos Mati. Ketiga spot ini terdapat di Desa Giri Tengah, Kecamatan Borobudur, Magelang. Bagi wisatawan domestik maupun mancanegara mungkin ketiga spot ini belum terlalu terkenal, bahkan orang Magelang pun tidak semua tahu tentang keberadaan punthuk-punthuk ini untuk melihat sunrise
Puncak Mongkrong


Mongkrong, Punthuk Sukmojoyo dan Pos Mati berada di lereng Bukit Menoreh. Dari ketiga puncak ini kita dapat melihat pemandangan sunrise dengan ornamen gunung-gunung yang mengelilingi Magelang. Bonus dari semua itu yang tidak dapat ditemukan di tempat lain adalah pemandangan Candi Borobudur yang seakan melayang di lautan awan, yang sering disebut sebagai nirwana sunrise.

 
Nirwana Sunrise, Borobudur seakan melayang di awan


Berdasarkan dari ukuran ketinggian, tempat tertinggi adalah Puncak Mongkrong, kemudian Punthuk Sukomojoyo dan yang terakhir Pos Mati. Semua berada pada jalan yang searah di lereng Menoreh. Kondisi dari ketiga spot tersebut pun berbeda-beda. Namun, semuanya membutuhkan perjuangan untuk mencapai puncaknya, rata-rata tracking untuk mencapai puncaknya menghabiskan waktu tempuh sekitar 15-30 menit. Ketiga tempat tersebut juga belum memberlakukan sistem tiket wisata yang sudah diberlakukan di Punthuk Setumbu. Saat kita datang kesana kita hanya perlu menitipkan kendaraan pada masyarakat sekitar dan membayar ongkos parkir. Saat sampai di atas akan tersedia kotak amal yang dapat kita isi seikhlasnya.

 
Ujung Krethek Mongkrong


“Bade tindak nginggil mas?” sapaan ramah penduduk akan selalu kita temui saat kita tracking sampai atas. Ini salah satu saya suka bepergian ke alam dan bertemu masyarakat lokal. Kearifan, keramahan, dan suka bercerita yang akan selalu dirindukan di masing-masing tempat.
Mbah-mbah yang ramah ke pendatang


Kilas Sejarah Mongkrong, Punthuk Sukmojoyo dan Pos Mati

Cerita tentang kilas sejarah tiga tempat ini juga saya dapatkan saat saya menitipkan motor di parkiran puncak Mongkrong. Saat perang melawan belanda, Pangeran Diponegoro melakukan perjalanan ke Magelang dari Yogyakarta melalui perbukitan Menoreh. Puncak Mongkrong merupakan tempat persinggahan Pangeran Diponegoro sebelum melanjutkan perjalanan. Punthuk Sukomojoyo pun menjadi tempat beristirahat Pangeran Diponegoro, menurut keterangan warga yang sudah menjadi cerita turun-menurun. 


Tugu Mongkrong



Pasukan Diponegoro saat beristirahat di Punthuk Sukomojoyo kekurangan air untuk perbekalan. Dengan segera Pangeran Diponegoro menancapkan tongkatnya dan Alhamdulillah berkat kuasa Allah, munculah sumber air dari tanah berdiameter sebesar tongkat. Sumber mata air ini sekarang menjadi tempat bernama Sendang Suruh, yang letaknya masih di Desa Giri Tengah. Setiap Sura dilakukan Festival Sendang Suruh untuk memperingati sejarah Pangeran Diponegoro, keterangan ini saya dapatkan dari mbah-mbah yang akan pergi ke sendang suruh untuk mandi.

 
Makam Kyai Muhammad Sholeh


Sejarah tentang ketiga tempat ini tidak berhenti di sini. Di puncak Punthuk Sukomojoyo, terdapat makam Kyai RM. Muhammad Soleh yang merupakan keturunan ke-14 dari Prabu Browijoyo V. Menurut sejarah Prabu Browijoyo V itu raja Majapahit yang memeluk agama Islam (mualaf). Prabu Browijoyo V ini juga merupakan moyang dari Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam Yogyakarta. Makam Kyai RM. Muhammad Soleh juga tidak dibuka untuk umum. Makam ini digunakan untuk wisata ziarah beretapatan dengan Festival Sendang Suruh saat Sura.


Silsilah Kyai Muhammad Sholeh
Sejarah tentang Pos Mati merupakan pemberhantian berikutnya Pangeran Diponegoro. Di Pos Mati, Pangeran Diponegoro melakukan pengintain gerak-gerik pasukan Belanda. Semua cerita sejarah di atas saya dapatkan ketika saya berbincang dengan penduduk sekitar, kemudian saya konfirmasikan dengan sumber internet. Lumayan menambah wawasan sejarah, liburan murah wawasan sejarah bertambah.


Kondisi Mongkrong, Punthuk Sukmojoyo dan Pos Mati

Kondisi Lahan Mongkrong
Mongkrong, untuk mencapai puncak ini disarankan tidak menggunakan sepeda motor automatic. Jalanan masih terjal curam dam menanjak. Karena berada di posisi paling tinggi, dari puncak Mongkrong kita dapat melihat Punthuk Sukomojoyo dan Pos Mati. Terdapat dua jalur tracking untuk mencapai puncak Mongkrong dari tempat parkir kendaraan. Track pertama kita melewati perkebunan penduduk, dan memang jalannya lebih landai. Track kedua kita langsung menuju puncak dengan rute yang menanjak dengan sengkedan tanah dan pegangan bambu di kiri dan kanan jalan. Di atas puncak terdapat satu rumah pohon dan dua krethek (jembatan dalam bahasa jawa) yang dibentuk seperti huruf V. Krethek ini merupakan best spot photo dengan background sunrise jika kita beruntung. Tugu patilasan juga terdapat di puncak Mongkrong yang dibangun warga sekitar untuk mengenang sejarah Pangeran Diponegoro.



 
Krethek berbentuk V d Mongkrong, bawahnya jurang


Punthuk Sukmojoyo lebih lengkap daripada Mongkrong. Di Punthuk Sukmojoyo ada beberapa wista yang ditawarkan seperti pada gambar di bawah:




Daftar Wisata Sukomojoyo

Rute tracking Punthuk Sukmojoyo hanya satu dan itu pun sangat menanjak. Disarankan sebelum tracking, dilakukan pemanasan dahulu meregangkan otot. Mengapa hal ini perlu dilakukan? Setelah berkendara lama menuju parkir Sukmojoyo, maka aliran darah akan sedikit tidak lancar. Apabila dipaksakan tracking dengan medan berat yang ada bisa terjadi cidera.



 
Jalan Menuju Puncak Sukmojoyo


Saat tracking kita sudah dapat melihat punthuk Sukomojoyo dari kejauhan dengan pemandangan rumah pohonnya. Hal ini lah yang membuat semangat agar segera sampai puncak. Di Puncak Punthuk Sukmojoyo terdapat satu rumah pohon, satu krethek dan beberapa gubuk-gubuk buat beristirahat setelah perjalanan menanjak. Tidak usah khawatir haus dan kelaparan, di puncak Punthuk Sukmojoyo ada warung sederhana yang menyediakan minuman hangat dan camilan sederhana. “Ya lumayan mas, kalo sabtu minggu yang naik punthuk banyak, rejeki juga banyak,” sambil senyum ramah ibu-ibu penjaga warung.

 
Krethek Sukmojoyo untuk melihat Sunrise, max 3 orang


Pos mati, trackingnya lebih pendek tapi tetap saja curam. Walaupun posisi paling rendah diantara dua spot sebelumnya, dari pos mati kita bisa melihat Candi Borobudur saat sunrise.
 
Akses / Rute menuju Mongkrong, Punthuk Sukojoyo, dan Pos Mati
Ketiga spot sunrise ini berada pada satu jalur. Rute yang dilalui pun sama. Punthuk Sukmojoyo berada di ketinggian kurang lebih 1000 mdpl yang terletak di Desa Giri Tengah, Kecamatan Borobudur. Jalan akses kesana belum bagus, walau sudah jalan aspal namun sangat sempit. Punthuk Sukmojoyo lebih tinggi daripada Punthuk Setumbu, oleh karena itu jalan akan lebih lama. Jika kalian berangkat dari Yogyakarta langsung menuju Borobudur dan menuju ke Amanjiwo Hotel atau Rumah Kamera. Kearah Candi Borobudur di pintu masuk candi kalian menemukan pertigaan yang dikenal dengan pertigaan BU SUM - lurus ikuti jalan ke arah Rumah Kamera dan Amanjiwi Hotel. Nanti ada perempatan sebelum SDN TUKSONGO 1 kalian ambil arah jalan ke kanan menuju perempatan Gunden Trus ambil Kiri arah jalan ke Balai Desa Giritengah.Rute jalan yang pertama dari Balai Desa Giritengah ambil arah ke kanan melewati Dusun Gedang Sambu kemudian ada pertigaan ambil kanan lurus terus udah ada petunjuk jalan tinggal kalian mengikutinya rute jalan yang Kedua dari Balai Desa Lurus terus ada pertigaan belok kanan menuju Dusun Kamal lurus terus kalian tinggal mengikuti petunjuk jalan.

 
Saat musim libur, Sukmojoyo ramai dikunjugi wisatawan


Kalau dibayagkan susah ya, oke ringkasnya rute untuk menuju ke punthuk sukomojoyo adalah:



Ke candi Borobudur (pintu masuk) – Tanya arah ke rumah Kamera atau Hotel Amanjiwo – Lurus terus sampai ketemu plang rumah Kamera – ambil arah kanan sebelum SDN TUKSONGO- Cari Balai Desa Giri Tengah- Cari Masjid/Mushola Punthuk Sukomojoyo




Tips Perjalanan Menuju Mongkrong, Punthuk Sukmojoyo dan Pos Mati:


1.       Berangkat sebelum subuh, sekitar pukul 03.30. Lebih baik shalat subuh di masjid saat pejalanan.
2.       Pastikan tahu rutenya dahulu, karena saat masih gelap penunjuk jalan jarang kelihatan.
3.       Jangan menggunakan kendaraan automatic, medannya menanjak dan berkelok di beberapa titik.
4.       Bawa bekal minum untuk tracking menuju puncak.
5.       Gunakan sandal/ sepatu gunung ya minimal sandal yang tidak licin karena rute tracking Punthuk Sukmojoyo sangat curam.
6.       Bersikap ramah ke penduduk sekitar, meraka senang dikujungi asalakan ita sopan dan menjaga kebersihan.
7.       Patuhi rambu-rambu yang ada di masing-masing puncak, misal rumah pohon maksimal dinaiki 3 orang dan sebagainya.

 




Magelang kota kecil berhawa sejuk, seakan tak lelah menyediakan tempat-tempat bersahaja untuk menikmati alam. Magelang dengan anugerah dikelilingi lima gunung da satu poros tengah bukit tidar akan selalu menjadi kota dengan penuh kenangan tersendiri, mari kunjungi Magelang yang bersahaja dengan hati lapang dada dan tanpa merusak alamnya.  

Berikut sedikit cuplikan tentang Punthuk Sukmojoyo dan Mongkrong yang saya rekam dengan backsound menenangkan dari Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku.





Author,
Repyssa A.


Jumat, 13 November 2015

Buniayu, Kecantikan Tersembunyi dalam Perut Bumi






 
Setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk meraih kebahagiaan. Bagi kami, bahagia itu dapat diraih dengan bepergian ke tempat yang belum pernah kami kunjungi dan menyatu dengan alam. Pasca sidang dan yudisium, kami (Adhira, Dinartika, Dian, dan saya Repyssa) memutuskan untuk meraih kebahagiaan kembali dengan mensyukuri alam yang ada. Kebahagian yang dulu sedikit tertutupi oleh sibuknya deadline dan tuntutan macam-macam. Pilihan kebahagiaan jatuh pada kegiatan caving dalam jaringan gua terluas di Jawa Barat. Diturunkan ke kedalaman 25m menggunakan tali dari mulut gua vertical dan harus menyusuri 3 km gua horizontal membuat kami tertantang untuk mencoba caving di gua ini.


mulut goa vertical Buniayu



Buniayu, nama goa yang terletak di Desa Kertangsana Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Kata Buni Ayu sendiri diambil dari bahasa Sunda yaitu “Buni” dan “Ayu” yang memiliki arti “Kecantikan yang tersembunyi”. Penulusuran dan pemetaan Gua Buniayu dilakukan untuk pertama kali pada tahun 1982 oleh seorang speleogiwan Indonesia – Dr. R.K.T. Kho, bersama beberapa penelusur berkebangsaan Perancis anggota Federasi De Speleleologie Francaise (FFS) yaitu : George Robert, Arnoult Seveau, Michael Chassier, keterangan dari Kang Gareng.” Kang Gareng itu guide kami selama kami di site Buniayu ini. 

Camp Site Buniayu




Hingga saat ini terdapat beberapa gua yang berada di areal Gua Buni Ayu telah berhasil dipetakan, di antaranya Gua Cipicung, dan gua-gua lain di sekitarnya, seperti Gua Bibijilan, Gua Adni Gua Nyangkut Kubang Lanang , Gua Tanpa Nama, Gua Karsim, Gua Bisoro, Gua Idin, Gua Gede, dan Gua Kole. Masyarakat sekitar lebih mengenal Goa Buniayu sebagai Goa siluman. Goa ini juga pernah dijadikan setting film Si Buta dari Goa Hantu dan Wiro Sableng (ini cuma generasi 90an yang tahu ;) ). Buniayu dikelola oleh Perhutani Unit III Jawa Barat. Bertempat di kawasan hutan pinus milik perhutani Goa Buniayu mulai dikembangkan untuk tujuan pariwisata mulai tahun 2007, dengan tetap memperhatikan kelestarian alam goa tersebut.


Pos pemberangkatan ke Goa Vertical



Rute ke Buniayu

Alasan kami memilih Buniayu untuk meraih kebahagiaan adalah akses menuju wisata ini cukup mudah dari Jakarta. Total waktu tempuh kami 5 jam untuk benar-benar sampai di saung buniayu dan disambut Kang Gareng guide kami. Perjalanan kami mulai menggunakan commuterline dari Bintaro menuju Tanah Abang. 




Kereta Pangrango Bogor-Sukabumi (kelas Ekonomi)



Dari Tanah Abang kami berganti jurusan Bogor. Dari stasiun Bogor, cukup berjalan sekitar 10 menit untuk pindah ke Stasiun Paledang Bogor. Menggunakan kereta Pangrango dari Stasiun Paledang menuju Stasiun Sukabumi yang hanya memakan waktu 2 jam dengan ongkos kelas ekonomi Rp. 20.000,- atau jika ingin nyaman dikit kelas executive Rp. 50.000,-. Dijamin pemandangan persawahan dan bebukitan yang menghijau di sepanjang rel membuat hati tenteram dan damai. Dari stasiun Sukabumi, pilih angkot jurusan terminal Jubleg dengan ongkos Rp. 3.000,- dengan waktu tempuh setengah jam (jika tidak ngetem) dan selanjutya nyambung sekali naik angkot atau elf jurusan Sagaranten atau Purabaya. Sampailah kita di Wana Wisata Buniayu.




Jalan-jalan hemat, bekal buat nikah, makanya naik kereta ekonomi


Ringkasnya:

Commuter Line: Pondok Ranji Tanah Abang Bogor

Kereta Pangrango: Stasiun Paledang Bogor Stasiun Sukabumi

Angkot Hitam 025: Stasiun Sukabumi Terminal Jubleg

Elf: Stasiun Jubleg Wana Wisata Buniayu

 

Akomodasi

Di Kawasan Gua Buniayu sudah dibuat saung-saung kecil untuk menginap, sedangkan untuk kapasitas besar ada saung yg bisa menampung kurang lebih 20 orang. Toilet dan Mushola juga tersedia. Pilihan untuk lebih menyatu dengan alam juga ada dengan menginap di tenda-tenda kecil (camping) di camp site yang disediakan di Buniayu.



 
Saung-Saung Buniayu


Untuk makanan, anda bisa memasak sendiri atau mengandalkan penduduk sekitar untuk menyediakan sarapan dan makan siang. Hitung-hitung menggerakan roda perekonomian masyarakat sekitar (ceileh…). Makanan yang disediakan pun akan membekas dihati dan lidah. Citarasa bumi pasundan dan kesederhanaan menunya yang kami cari di sini. Makan di saung-saung kecil dengan kicauan burung dan hutan , suasana sederhana ini yang kami cari untuk menenangkan hati. Ketersediaan air juga dibilang mencukupi walaupun kami datang saat musim kemarau.

 
Makanan khas sunda, sederhana tapi bahagia





Aktivitas di Buniayu

1.    Menikmati Museum Bawah Tanah

Goa dan segala keindahan di dalamnya merupakan fenomena alam yang luar biasa. Layaknya museum yang berada di bawah tanah goa menyuguhkan keindahan yang istimewa dengan ornamen-ornamen goa yang terbentuk dari proses alam ribuan tahun lamanya. Goa merupakan laboratorium evolusi binatang dan wahana penelusuran sejarah atas berjalannya proses pembentukan bumi.


 
Stalaktit Goa Buniayu Photo Credit: Adhira




2.   Sensasi Kegelapan Abadi

Pembagian zona cahaya dalam goa akan memberikan sensasi luar biasa yang belum pernah dialami sebelumnya. Hanya di dalam goa, kita dapat merasakan sensasi kegelapan abadi yang tidak bisa ditemui di manapun juga, yang menyadarkan kita terhadap kebesaran Sang Maha Pencipta.



Memasuki Zona Gelap Abadi




3.   Gerbang Vertikal

Hanya sedikit goa di Indonesia yang memiliki gerbang masuk vertikal, dan Goa Cipicung Buniayu adalah salah satunya. Pengalaman yang jarang bisa ditemui oleh paracavers di Indonesia. Caving di goa vertical memerlukan persiapan khusus. Dengan wearpack, headlamp, rope dan boots kami siap untuk menulusuri goa sepanjang 3km. 

Persiapan Caving Goa Vertical

Udah siap peralatan, tapi batin belum siap.....


Sepanjang perjalanan terdapat banyak Stalaktit, Stalakmit, Drapery, Gourdam, Canopy, Flow stone, Column. Benar-benar kuasa Allah, banyak banget keindahan-keindahan didalam gua, kita sempet nemuin batu yang dipukul bisa bunyi seperti gong. Selama perjalanan didalam gua banyak terdapat lorong2 sempit yg harus merayap, merangkak, bermandi lumpur, menyusuri sungai berbasah2an, menanjak dan turun lagi. Pernah lihat film 127 hours?  untuk melintasi goa vertical kami harus beradegan ala-ala film itu dengan menenmpelkan punggung di dinding gua dan menjejakkan kaki di dinding gua lainnya, harus hati-hati, kalau engga ya wassalam bakal jatuh ke celah sempit gua.






Berasa pekerja tambang ;)


Goa vertical atau yang yang diberi istilah goa minat khusus memang meiliki paket komplit. Di dalam goa ini ada sungai dalam goa, air terjun dalam goa hingga danau pun ada. Tak berhenti di situ, lumpur abadi yang berada dalam goa ini seakan mengelem kaki kami saat menginjakan di area lumpur abadi.

Contoh Aliran Sungai dalam Goa Photo Credit: Adhira




Goa vertical atau goa kerek dibagi menjadi beberapa zona. Zona pertama, zona terang tempat dimana kami diturunkan dari mulut gua sekitar 25m dari permukaan tanah. Berjalan beberapa menit kami mulai menyusuri sungai dalam gua. Sungai ini akan bermuara ke curug bibijilan. Aliran sungai ini sudah memasuki zona gelap abadi. Dalam zona gelap abadi terdapat fauna seperti laba-laba buta, jangkrik buta yang memang tidak membutuhkan cahaya untuk hidup.



Hanya bermodalkan headlamp dan lampu karbit dari pemandu kami, stalaktit dan stalagmit masih berdiri dan tergantung kokoh. Butiran-butiran kalasit yang seperti salju apabila terkena cahaya ikut menghiasi ornamen ini. Pemandangan yang luar biasa dan tidak dapat kami temui di permukaan.Berikut foto-foto Ornamen Goa Buniayu yang berhasil diabadikan oleh trip buddy saya Adhira.




Stalaktit Buniayu, masih tumbuh

Stalaktit menajam ke bawah dasar goa

Gourdam Kalasit seperti butiran salju putih

Canopy Goa Buniayu

Rembesan air pada stalaktit menandakan stalaktit tersebut masih akan terus tumbuh

Flow Stone Buniayu


Hanya bermodalkan headlamp dan lampu karbit dari pemandu kami, stalaktit dan stalagmit masih berdiri dan tergantung kokoh. Butiran-butiran kalasit yang seperti salju apabila terkena cahaya ikut menghiasi ornamen ini. Pemandangan yang luar biasa dan tidak dapat kami temui di permukaan.



Tidak hanya stalaktit dan stalagmit, gourdam ikut menghiasi zona gelap goa vertical. Gourdam itu ornament goa yang berbentuk seperti sengkedan dan biasanya yang masih aktif itu yang dialiri air.  Gemericik air menemani perjalanan menysusuri goa. Semakin lama gemericik itu semakin terdengar jelas, ternayat kami sampai pada air terjun dalam goa. Air terjun ini terletak di lapisan bawah kami, hanya terlihat melalui celah sempit goa. Tak berhenti-berhentinya saya kagum pada keindahan dalam goa buniayu. Paket komplit saya temukan di goa vertical ini.




dua wanita perkasa, yang ga takut buat berlumpur2an di dalam goa



4.   Goa Horizontal

Berbeda dengan goa vertical, goa horizontal lebih mudah untuk ditelusuri. Goa horizontal disebut juga goa angin atau ga minat umum. Ya memang untuk pengunjung yang ingin wisata goa dengan medan yang tidak terlalu menantang. Goa sepanjang 500 m yang dapat ditempuh selama 1 jam (plus waktu foto-foto) di dalam.


Kang Gareng menjelaskan struktur goa Horizontal




 
Selusur Goa Horizontal, tidak perlu memakai wearpack
Kang Gareng, guide kami menjelaskan bahwa sebenarnya goa horizontal ini juga sambungan ke goa-goa lain, namun untuk melewatinya sangat tidak mungkin karena medannya yang sempit. Di goa horizontal akan ditemui instalasi lampu-lampu penerangan yang sudah tidak terpakai lagi. Di goa horizontal lah dulu dilakukan syuting film si buta dari goa hantu. Maka tidak heran banyak ditemukan ornament batu yang berbentuk seperti meja kursi dan tempat pertapaan, hal-hal tersebut dimaksudkan untuk properti syuting.





5.   Rapling Curug Bibijilan

Satu lagi aktivitas yang dapat kita lakukan di Buniayu, rapling atau turun tebing dengan menggunakan tali dapat dilakukan di curug ini dengan catatan saat debit air besar. Saat kami ke sana, debit air kecil maka kegiatan rapling tidak dapat dilaksanakan (padahal belum tentu berani juga…..hahahahha). 

 
Curug Bibijilan, debit air saat kemarau


Bedanya dengan turun gua vertical tadi, kalo rapling itu menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong gerak turun. Sebenarnya penasaran dan takut akan aktivitas ini, mungkin lain kali bisa mencoba saat debit air cukup dan keberanian pun cukup. Jadi kami hanya sempat mandi-mandi di curug bibijilan membersihakan sisa-sisa lumpur dari goa vertical. 



Habis mandi seger di Bibijilan, bagus buat kesehatan kulit  (yakali...)

Bibijilan berarti jalan keluar, karena memang curug ini merupakan jalan keluar air dari goa vertical. Air dari curug ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan air bersih. Dari alam kembali ke alam dan menjaga untuk alam.




Waktu yang tepat ke Buniayu

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, untuk melakukan wisata ke site buniayu lebih baik saat pergantian musim dari kemarau ke penghujan (sekitar bulan . Hal ini disebabkan lumpur dan debit air dalam goa belum terlalu tinggi. Menurut keterangan guide kami, saat musim hujan air dapat menggenangi goa hingga ketinggian yang tidak ditentukan. Jalan akses goa bisa tertutup, dan lumpur semakin licin. Selain itu saat menjelang musim penghujan debit air di curug bibijilan belum terlalu penuh dan tidak banjir sehingga dapat digunakan untuk rapling dan mandi-mandi setalah caving. 

Sarana Transportasi kami, pick up!!!!!!!


Kemana-mana diangkutnya pake pick up





Persiapan yang diperlukan

-     1. Bawa headlamp dan sandal gunung, kenapa headlamp bukan sentar? Karena medanya sulit khususnya buat goa vertical, tangan kita akan sibuk mencari pegangan daripada megang senter. Kenapa sandal atau sepatu gunung? Karena medannya licin, walaupun sudah disediakan boots di sana apa salahnya persiapan dari awal.


-     2. Persiapkan stamina yang prima dan bagi yang syndrome ruang sempit gelap dan ketinggian, mungkin ini terapi yang bagus (hahahahaha)


-     3.Untuk menghindari dehidrasi, bawa air minum ketika menysuri goa  vertical, masukan dalam dry bag biar aman, berikut kamera dsb.


-   4.Berangkat lebih pagi karena jadwal kereta ke sukabumi hanya sekali yaitu pukul 08.00. disarankan menggunakan kereta daripada menggunakan bus untuk berangkat, begitu pula pulangnya.



Untuk lebih mudahnya akomodasi di site Buniayu, bisa menghubungi guide Kang Gareng di nomor 085759549615









Bahagia kami lengkap mulai tumbuh pascasidang dengan trip ini. Kami berpetualang untuk sesuatu yang ingin dikenang baik dalam perjalanan, tujuan, maupun melepas kepulangan.

Buniayu, kecantikan yang tersembunyi dalam perut bumi dengan bijak, boleh mengaggumi tanpa perlu menyakiti sejauh apapun kami melangkah,

Sejauh apapun kami berhijrah, yang kami yakini tujuan terindah adalah rumah...

Raih bahagiamu dengan caramu tanpa harus melukai rasa sedihmu. 


 Berikut Video perjalanan yang kami buat saat di Buniayu.... 


Author

Repyssa A.