Kamis, 08 Juli 2010

Bilik Kerinduaan Sang Burung (Twitter)


Saya harus mengakui kali ini saya benar-benar merasakan kerinduan itu semakin sendu, mengharu hingga bibir menjadi kelu untuk mengeluh kepada ibu. Lagi, dengan diiringi dengan tabuhan lincah dari sang hujan yang membuat irama rampak pada bumi, bayang-bayangnya seakan tergambar jelas di sela-sela air hujan dengan raut muka yang sangat teduh seperti biasa saat dia selalu mengatakan , “Hati-hati ya de di Jakarta,”.

Seminggu lalu jejaring sosial (Twitter) ramai akan hastag “rindu adalah….” Mungkin banyak orang yang merasakan rindu waktu itu. Dengan gelagat latah, saya ikut merangkai kata tentang kerinduan. Saya anggap sepele waktu itu, hanya keahlian merangkai kata yang timbul di kepala dan menuangkan pada twit-twit yang disertai “#rindu adalah…..”. Hampir belasan kalimat saya rangkai waktu itu dan semua keluar dengan mudah , apapun yang ada di kepala ku ku ketik di bilik kerinduan sang burung (Twitter).




Tidak seperti biasanya kali ini hujan membelai tanah lebih awal, pukul 6 pagi sudah terdengar gelak tawa keriangan hujan yang telah lama rindu bermain dengan tanah den bersatu menjadikan suatu lumpur yang legit akan kasih sayang.
Sang awan pun harus dengan ikhlas menghilangkan warna putihnya dan berganti hitamnya mendung untuk bersabar menunggu indahnya warna pelangi….. kerinduan.
Air laut pun harus rela berpisah dengan halusnya belaian pasir saat membelai pantai untuk naik ke langit hanya demi pengorbanan kembali lagi ke laut,…… sebuah kerinduan.

Katak pun riang bermain di pinggir kolam setelah lama memendam rasa rindu pada teman-temannya akan segarnya air hujan yang jatuh di kolam dan dengan nyanyian rindunya mereka bersautan bersyukur pada Zat Yang Maha Merdu atas syukur…. Sebuah kerinduan.

Sang anak hanya bisa mendengar tangis ibunya mendoakan kesehatan anaknya di telepon, tanpa harus bersuara dan hanya bisa memendam rasa rindunya pada sosok yang tengah meneteskan air mata dan terus menerus berdoa demi kesuksesan anaknya, pegangan telepon pun mulai bergetar sang anak tak kuasa membendung air kerinduan dengan menahan suara isaknya sang anak hanya berkata amin.. dan menutup telepon.

Terkadang sulit untuk mengakui kita rindu pada orang tua kita, tapi saat rasa itu muncul saya yakin di rumah orang tua kita sepuluh kali lebih rindu dari apa yang kita rasakan. Pernah suatu saat tangan tua menengadah dengat urat-urat kelelahan setelah seharian mencari nafkah, sang ayah menunduk dan terisak sehari sebelum keberangkatan sang anak ke tanah perjuangan. Tak henti-henti nya mulut bijak itu mengeluarka kata-kata dashyat nan indah dan berulang kali nama sang anak disebut dan tak pernah terdengar namanya sendiri terucap dari bibir tuanya. Dari yang kelihatannya begitu tabah dan tegar, sang ayah mampu menahan rasa kerinduan dan melampiaskan dengan selalu bersujud dan bersujud pada Zat Yang Menciptakan Rindu.

Rabu, 12 Mei 2010

mengganti ambisi menjadi hati yang siap diuji

Sejenak berhenti dari himpitan semua deadline, yang ku yakin mampu menyelesaikannya.
Muncul sebersit niat untuk mengantikan ambisi menjadi hati yang siap untuk diuji atau pemahaman akan kekurangan diri.
Banyak hal-hal yang kurang disyukuri keberadaanya tidak perlu list panjang untuk menyebutkan, tak perlu pengakuan dosa untuk memahami, hanya cukup berhenti sejenak dari semua aktivitas dan memejamkan mata..
Banyak teman-teman yang terlupa. Aku sudah lupa bagaimana mereka tertawa, aku mulai kabur bagaimana cara mereka menggerakkan bibirnya menceritakan setiap kesehariannya hanya karena merasa nyaman untuk diceritakan kepada orang yang tepat.
Terlalu asyik dengan dunia sendiri, seakan sudah siap untuk menempuh dunia baru. Terus menatap ke depan dan aku rasa ini prinsip yang tepat saat ini berharap semua cita dan obsesi saya terpenuhi. Kadang menoleh ke belakang adalah pemikiran yang bodoh kuanggap. Terlalu membuang waktu hanya untuk parkir di kesenangan semata sedangkan sepedaku masih kuat untuk kukayuh.
Pernahkah tersadar olehku jika kawanku yang sedang mengayuh sepeda dibelakangku mungkin terjatuh, mungkin kelelahan, mungkin membutuhkan semangatku untuk mengayuh bersama. Hal itu semua kuanggap tidak terlalu penting dan akan memperlambat ku sampai pada tujuan akhir sepedaku.
Hingga suatu saat kukayuh sepedaku terlalu kencang tak sengaja ku terjatuh dan kakiku terkilir, temanku dibelakang dengan terengah-engah segera mengayuh sepedanya dengan kuat. Ku tahu dia kelelahan saat kutinggal tadi, kutahu dia pernah terjatuh dan ku tak menghiraukan, tapi dengan sekuat tenaga dia mengayuh sepeda untuk menolongku.
Wajah paniknya, mulutnya yang mulai berkata mulai tergambar jelas kembali. Masih dengan cara khasnya dia membantuku. Tak perlu penggambaran akan perlakuan, hanya jiwa yang mampu merasakan. Semua geraknya kembali jelas setalah sekian lama mulai kabur dari ingatan.
Tak pernah mempermasalahkan yang pernah dia rasakan dia dengan ikhlas terus merawat sang pengayuh sepeda yang terjatuh.
(tulisan yang kukirim ke salah satu teman terbaikku saat ulang tahun)

Senin, 01 Februari 2010

HUJAN PUN MAMPU MENGAJARI

Hujan kali ini begitu deras… ponsel saya tertinggal di kamar untuk waktu yang lama.
3 hari setelah tanggal 24, 3 hari setelah doa itu terucap, 3 hari setelah semua permintaanku akan kemuliaannya.. . Hujan kali ini begitu deras..
Kayu-kayu dalam tempat tinggal saya mulai kedinginan karena hujan kali ini begitu deras..
Suara panggilan telepon dari ponsel saya tidak terdengar karena hujan kali ini begitu deras..
Tawa kami di ruang tengah rumah kayu ini semakin berlomba karena hujan kali ini begitu deras…
Semakin lupa akan keprihatinan akan keringnya syukur karena hujan kali ini begitu deras…
Tujuan-tujuan semula tentang pencarian segarnya air mulai lupa karena hujan kali ini begitu deras..

3 hari yang lalu, saat mulut dengan mudah memanjatkan doa untuk kesehatannya, kebahagiaannya dan semua bakti ku akan kuberikan padanya dalam 56 tahun beliau mencoba bertahan hidup dan dalam 20 tahun beliau membentuk suatu sosok pemuda yang kadang bertingkah angkuh…
3 hari yang lalu, saat dengan mudah air mata itu menetes dalam sujud untuk mengharapkan hidupnya panjang agar beliau dapat melihat sosok pemuda yang sudah dibentuknya selama 20 tahun, tanpa pamrih, tanpa balasan, dan kadang terlupakan..
3 hari yang lalu, dengan mudah tangan ini menekan tombol nuts ponsel untuk mendengar suara bijaknya yang begitu berwibawa, dimana saat suaranya meninggi saya tidak berani menatap matanya hanya tertunduk lesu, dan mencoba menyadari kesalahan saya..
3 hari yang lalu, suaranya begitu lain dengan biasanya, begitu lirih begitu sayup, yang seharusnya terdengar keras menurutku… tanpa pikir panjang saya dengan tidak sopan memotong pembicaraannya, saat dimana kata-kata beliau harusnya menjadi pengatur kambali ke track yang benar,,, dengan kekanak-kanakan saya ucapkan “selamat ulang tahun yah”….
Hujan kali ini begitu deras….
Dering telepon menderu-deru dikamar, tak terdengar karena tertutup kesenangan sesaat yang sering mengalahkan keprihatinan, tertutup kesombongan sesaat yang mengalahkan kesahajaan…
“Halo, Bu, assalamualaikum….!!,”
“Iya, wa’alaikumsalam ade, sedang solatkah? Tadi ibu telepon tidak diangkat-angkat?, maaf kalo ibu mengganggu, bagaimana sehat ade?.”
Hujan kali ini begitu deras, suara ibu pun semakin lirih tak terdengar jelas..dari telepon hingga terdapat suatu penekanan pada bagian penting “ade, bapak sakit…, ade kirim doa ya biar bapak cepat sembuh..”

HUJAN KALI INI SEMAKIN DERAS DAN BERTAMBAH DERAS….
Air hujan mulai adil membasahi kayu-kayu di tempat tinggalku
Air hujan mulai adil membasahi jiwa-jiwa yang kering akan rasa syukur
Air hujan mulai adil mengingatkan arti kesehajaan
Air hujan mulai mengajari caranya merendah dan selalu menyatu dengan bumi
Air hujan mulai mengajari bagaimana setia dengan tanah saat mereka kering, dia membelainya dengan lembut
Air hujan mulai mengajari caranya berterima kasih pada matahari yang menjadikannya dapat bertemu kekasihnya, bumi, dengan selalu mengalah saat matahari datang
Air hujan selalu bersahaja, setia, bersyukur dan tak lupa mendoakan kepada siapa pun di sekelilingnya yang menjadikannya ada ataupun tiada, MATAHARI..
Air hujan ikhlas, saat matahari menjadikannya tiada dengan sekejap,dan menguapkannya untuk berpisah sementara dengan kekasihnya, BUMI..
HUJAN KALI INI BEGITU MAKIN DERAS DAN BERTAMBAH DERAS…
Mungkin sengaja mengingatkan saya caranya berterimakasih kepada yang membentuk saya dari kecil dan mengajarkan saya bagaimana caranya setia untuk selalu mendoakan beliau yang sekarang sudah tidak sekuat dulu lagi..saat dia mengangkat tubuh kecil saya dan berkata dengan bangga… “ini, anak saya…. “

Selasa, 26 Januari 2010

GADIS KECIL DALAM ANGKOT (extended)


You know that feeling where everything is right, where you don’t have to worry about tomorrow or yesterday, but you feel safe and know you’re doing the best you can? There’s word for that feeling. It’s called love. L-O-V-E.
And it’s what I feel for all my family, all my coaches in my neighborhood where I come from, where I learned how to spell. (akeelah & the bee)
Gaya bicaranya lincah sekali, dengan lancar dia menceritakan kembali apa yang dia alami seharian ini kepada wanita setengah tua disampingnya. Tak henti-hentinya gadis itu tertawa renyah sambil meyakinkan wanita disebelahnya bahwa dia hari ini mendapatkan nilai sepuluh.
Dengan tatapan halus dan senyum bangga wanita itu mencubit hidung gadis itu dan berkata “ Itu baru anak mama,” . tiba-tiba dengan tangan kecilnya gadis itu membalas cubitan di hidung mamanya sungguh menggelikan.
Saya merasakan suasana lain dalam angkot yang masih meluncur menuju tempat kosku berada. Setelah lima belas menit yang lalu, suasana di bus kota yang benar-benar melelahkan. Melihat para pegawai yang kembali pulang ke rumah dengan sesegera mungkin. Di dalam bus trans bintaro hampir semua pegawai kantoran dengan wajah lesu tertidur dengan mendengarkan mp3 lewat headset. Berbeda sekali dengan wajah gadis ini yang menunjukkan semangat menggebu gebu menceritakan apa yang dia alami seharian ini.
“Ibu, tadi ade mulai belajar membaca lo,” sambil bercerita gadis itu tak lupa menikmati es krim di tangan kanannya, sampai mulutnya penuh,terlihat menggemaskan sekali. “Ade tahu sekarang bagaimana mengeja nama ade sendiri bu, ibu guru juga bilang bahwa ade juga harus bisa mengeja nama ayah dan ibu ade.” Angkutan kota terus melaju dengan 3 penumpang di dalamnya, gadis itu terus saja bercerita seakan tidak ada hari esok. “Ibu, bagaimana mengeja nama ibu?, ajari ade, bu.” Dengan sabar sang ibu mulai mengajari gadis itu mengeja namanya. Mungkin hari ini, ibu itu hanya mengajarkan bagaimana mengeja namanya, tapi kelak akan selalu diingat oleh gadis itu.
Saat suatu dimulai dari proses kecil yaitu mengeja kata, kita tahu darimana kata itu terbentuk. Saat ibu mengajarkan anaknya mengeja, itu akan selalu membekas di benak anak itu, bahwa sesuatu dimulai dengan proses belajar. Selalu sabar dan penuh kasih sayang, ciri khas seorang pengajaran seorang ibu yang tidak dapat ditemukan oleh guru manapun. Mungkin saat ini gadis itu masih beruntung dapat diajarkan bagaimana cara mengeja nama ibunya.
Saat tumbuh dewasa, dituntutlah dia bertindak mandiri tanpa bantuan ibunya lagi, mencari pengetahuan dengan kemampuannya, bukan mengeja nama lagi tapi mengeja kehidupan. Dia harus belajar mengeja masa depannya dari sekarang. Mulai bertindak melsayakan sesuatu secara berurutan seperti mengeja kata yang dulu diajarkan ibunya.
Saat gadis itu mendapatkan semua pengetahuannya dengan usahanya sendiri, saat itulah dia berusaha dengan kuat mengingat bagaimana dulu ibunya mengajarkan mengeja nama ibunya. Semakin berusaha, semakin dia susah untuk mengingat. Sudah terlalu lama gadis itu tidak mengucapkan nama ibunya dalam doanya, sudah terlalu lama gadis itu tidak mengucapkan nama ibunya di setiap pengharapannya. Terlalu sombong dengan menutup doanya hanya untuk namanya, hanya untuk ambisinya lupa akan nama ibunya.
“Ibu, ibu baik banget ngajarin ade mengeja nama ibu, ade ga akan lupa sama ibu sampai kapanpun,”kata gadis kecil itu yang masih menikmati es krim dengan pelukan erat ibunya di sampingnya.

Senin, 25 Januari 2010

GADIS KECIL DALAM ANGKOT


Gaya bicaranya lincah sekali, dengan lancar dia menceritakan kembali apa yang dia alami seharian ini kepada wanita setengah tua disampingnya. Tak henti-hentinya gadis itu tertawa renyah sambil meyakinkan wanita disebelahnya bahwa dia hari ini mendapatkan nilai sepuluh.
Dengan tatapan halus dan senyum bangga wanita itu mencubit hidung gadis itu dan berkata “ Itu baru anak mama,” . tiba-tiba dengan tangan kecilnya gadis itu membalas cubitan di hidung mamanya sungguh menggelikan.
Aku merasakan suasana lain dalam angkot yang masih meluncur menuju tempat kosku berada. Setelah lima belas menit yang lalu, suasana di bus kota yang benar-benar melelahkan. Melihat para pegawai yang kembali pulang ke rumah dengan sesegera mungkin. Di dalam bus trans bintaro hampir semua pegawai kantoran dengan wajah lesu tertidur dengan mendengarkan mp3 lewat headset. Berbeda sekali dengan wajah gadis ini yang menunjukkan semangat menggebu gebu menceritakan apa yang dia alami seharian ini.
Teringat masa kecilku, senang sekali aku menceritakan semua apa yang aku lihat kepada ayahku, entah mengapa bukan kepada ibuku sama seperti yang dilakukan gadis kecil ini dalam angkot yang kadang harus berhenti lama demi mengejar setoran yang tentunya teringat anaknya harus membayar buku dan lain-lain.
Dulu tak henti-hentinya aku bercerita kepada ayahku dan tak jarang aku seperti wartawan yang ingin menemukan jawaban yang diinginkan yang aku ajukan kepada ayhku. Ibuku selalu tersenyum melihat tingkahku jika aku sudah bercerita tak henti-hentinya sehingga lupa akan makan malamku. Ayahku pun dengan sabar mendengarkanku walaupun sudah seharian beliau bekerja keras.
Gadis itu pun tak malu-malu untuk bernyanyi sebgaimana dia bernyanyi tadi pagi… Rasa lelahku seharian hilang seketika melihat tingkah gadis lucu di dalam angkot,,, semoga dia tumbuh sebagai gadis yang cerdas dan mampu membuat ibunya selalu tersenyum bangga…
Cerita yang diuraikan gadis kecil ini mampu membuat tapakan pertama agar selalu jujur menjalani hidup…