GADIS KECIL DALAM ANGKOT (extended)


You know that feeling where everything is right, where you don’t have to worry about tomorrow or yesterday, but you feel safe and know you’re doing the best you can? There’s word for that feeling. It’s called love. L-O-V-E.
And it’s what I feel for all my family, all my coaches in my neighborhood where I come from, where I learned how to spell. (akeelah & the bee)
Gaya bicaranya lincah sekali, dengan lancar dia menceritakan kembali apa yang dia alami seharian ini kepada wanita setengah tua disampingnya. Tak henti-hentinya gadis itu tertawa renyah sambil meyakinkan wanita disebelahnya bahwa dia hari ini mendapatkan nilai sepuluh.
Dengan tatapan halus dan senyum bangga wanita itu mencubit hidung gadis itu dan berkata “ Itu baru anak mama,” . tiba-tiba dengan tangan kecilnya gadis itu membalas cubitan di hidung mamanya sungguh menggelikan.
Saya merasakan suasana lain dalam angkot yang masih meluncur menuju tempat kosku berada. Setelah lima belas menit yang lalu, suasana di bus kota yang benar-benar melelahkan. Melihat para pegawai yang kembali pulang ke rumah dengan sesegera mungkin. Di dalam bus trans bintaro hampir semua pegawai kantoran dengan wajah lesu tertidur dengan mendengarkan mp3 lewat headset. Berbeda sekali dengan wajah gadis ini yang menunjukkan semangat menggebu gebu menceritakan apa yang dia alami seharian ini.
“Ibu, tadi ade mulai belajar membaca lo,” sambil bercerita gadis itu tak lupa menikmati es krim di tangan kanannya, sampai mulutnya penuh,terlihat menggemaskan sekali. “Ade tahu sekarang bagaimana mengeja nama ade sendiri bu, ibu guru juga bilang bahwa ade juga harus bisa mengeja nama ayah dan ibu ade.” Angkutan kota terus melaju dengan 3 penumpang di dalamnya, gadis itu terus saja bercerita seakan tidak ada hari esok. “Ibu, bagaimana mengeja nama ibu?, ajari ade, bu.” Dengan sabar sang ibu mulai mengajari gadis itu mengeja namanya. Mungkin hari ini, ibu itu hanya mengajarkan bagaimana mengeja namanya, tapi kelak akan selalu diingat oleh gadis itu.
Saat suatu dimulai dari proses kecil yaitu mengeja kata, kita tahu darimana kata itu terbentuk. Saat ibu mengajarkan anaknya mengeja, itu akan selalu membekas di benak anak itu, bahwa sesuatu dimulai dengan proses belajar. Selalu sabar dan penuh kasih sayang, ciri khas seorang pengajaran seorang ibu yang tidak dapat ditemukan oleh guru manapun. Mungkin saat ini gadis itu masih beruntung dapat diajarkan bagaimana cara mengeja nama ibunya.
Saat tumbuh dewasa, dituntutlah dia bertindak mandiri tanpa bantuan ibunya lagi, mencari pengetahuan dengan kemampuannya, bukan mengeja nama lagi tapi mengeja kehidupan. Dia harus belajar mengeja masa depannya dari sekarang. Mulai bertindak melsayakan sesuatu secara berurutan seperti mengeja kata yang dulu diajarkan ibunya.
Saat gadis itu mendapatkan semua pengetahuannya dengan usahanya sendiri, saat itulah dia berusaha dengan kuat mengingat bagaimana dulu ibunya mengajarkan mengeja nama ibunya. Semakin berusaha, semakin dia susah untuk mengingat. Sudah terlalu lama gadis itu tidak mengucapkan nama ibunya dalam doanya, sudah terlalu lama gadis itu tidak mengucapkan nama ibunya di setiap pengharapannya. Terlalu sombong dengan menutup doanya hanya untuk namanya, hanya untuk ambisinya lupa akan nama ibunya.
“Ibu, ibu baik banget ngajarin ade mengeja nama ibu, ade ga akan lupa sama ibu sampai kapanpun,”kata gadis kecil itu yang masih menikmati es krim dengan pelukan erat ibunya di sampingnya.

Komentar

Postingan Populer