HUJAN PUN MAMPU MENGAJARI

Hujan kali ini begitu deras… ponsel saya tertinggal di kamar untuk waktu yang lama.
3 hari setelah tanggal 24, 3 hari setelah doa itu terucap, 3 hari setelah semua permintaanku akan kemuliaannya.. . Hujan kali ini begitu deras..
Kayu-kayu dalam tempat tinggal saya mulai kedinginan karena hujan kali ini begitu deras..
Suara panggilan telepon dari ponsel saya tidak terdengar karena hujan kali ini begitu deras..
Tawa kami di ruang tengah rumah kayu ini semakin berlomba karena hujan kali ini begitu deras…
Semakin lupa akan keprihatinan akan keringnya syukur karena hujan kali ini begitu deras…
Tujuan-tujuan semula tentang pencarian segarnya air mulai lupa karena hujan kali ini begitu deras..

3 hari yang lalu, saat mulut dengan mudah memanjatkan doa untuk kesehatannya, kebahagiaannya dan semua bakti ku akan kuberikan padanya dalam 56 tahun beliau mencoba bertahan hidup dan dalam 20 tahun beliau membentuk suatu sosok pemuda yang kadang bertingkah angkuh…
3 hari yang lalu, saat dengan mudah air mata itu menetes dalam sujud untuk mengharapkan hidupnya panjang agar beliau dapat melihat sosok pemuda yang sudah dibentuknya selama 20 tahun, tanpa pamrih, tanpa balasan, dan kadang terlupakan..
3 hari yang lalu, dengan mudah tangan ini menekan tombol nuts ponsel untuk mendengar suara bijaknya yang begitu berwibawa, dimana saat suaranya meninggi saya tidak berani menatap matanya hanya tertunduk lesu, dan mencoba menyadari kesalahan saya..
3 hari yang lalu, suaranya begitu lain dengan biasanya, begitu lirih begitu sayup, yang seharusnya terdengar keras menurutku… tanpa pikir panjang saya dengan tidak sopan memotong pembicaraannya, saat dimana kata-kata beliau harusnya menjadi pengatur kambali ke track yang benar,,, dengan kekanak-kanakan saya ucapkan “selamat ulang tahun yah”….
Hujan kali ini begitu deras….
Dering telepon menderu-deru dikamar, tak terdengar karena tertutup kesenangan sesaat yang sering mengalahkan keprihatinan, tertutup kesombongan sesaat yang mengalahkan kesahajaan…
“Halo, Bu, assalamualaikum….!!,”
“Iya, wa’alaikumsalam ade, sedang solatkah? Tadi ibu telepon tidak diangkat-angkat?, maaf kalo ibu mengganggu, bagaimana sehat ade?.”
Hujan kali ini begitu deras, suara ibu pun semakin lirih tak terdengar jelas..dari telepon hingga terdapat suatu penekanan pada bagian penting “ade, bapak sakit…, ade kirim doa ya biar bapak cepat sembuh..”

HUJAN KALI INI SEMAKIN DERAS DAN BERTAMBAH DERAS….
Air hujan mulai adil membasahi kayu-kayu di tempat tinggalku
Air hujan mulai adil membasahi jiwa-jiwa yang kering akan rasa syukur
Air hujan mulai adil mengingatkan arti kesehajaan
Air hujan mulai mengajari caranya merendah dan selalu menyatu dengan bumi
Air hujan mulai mengajari bagaimana setia dengan tanah saat mereka kering, dia membelainya dengan lembut
Air hujan mulai mengajari caranya berterima kasih pada matahari yang menjadikannya dapat bertemu kekasihnya, bumi, dengan selalu mengalah saat matahari datang
Air hujan selalu bersahaja, setia, bersyukur dan tak lupa mendoakan kepada siapa pun di sekelilingnya yang menjadikannya ada ataupun tiada, MATAHARI..
Air hujan ikhlas, saat matahari menjadikannya tiada dengan sekejap,dan menguapkannya untuk berpisah sementara dengan kekasihnya, BUMI..
HUJAN KALI INI BEGITU MAKIN DERAS DAN BERTAMBAH DERAS…
Mungkin sengaja mengingatkan saya caranya berterimakasih kepada yang membentuk saya dari kecil dan mengajarkan saya bagaimana caranya setia untuk selalu mendoakan beliau yang sekarang sudah tidak sekuat dulu lagi..saat dia mengangkat tubuh kecil saya dan berkata dengan bangga… “ini, anak saya…. “

Komentar

Dias "Deeast" mengatakan…
kalo hujan kan basah, re?
bisa juga tho, ngajarin...
he,
sapidudunk mengatakan…
cie.. cie..cie.. aku udah follow blog mu yaa..
REPYSSA mengatakan…
dias : salah satunya yas, hahhaaha

ana ; makasi ana, baru belajar bikin ne

Postingan Populer