Bilik Kerinduaan Sang Burung (Twitter)


Saya harus mengakui kali ini saya benar-benar merasakan kerinduan itu semakin sendu, mengharu hingga bibir menjadi kelu untuk mengeluh kepada ibu. Lagi, dengan diiringi dengan tabuhan lincah dari sang hujan yang membuat irama rampak pada bumi, bayang-bayangnya seakan tergambar jelas di sela-sela air hujan dengan raut muka yang sangat teduh seperti biasa saat dia selalu mengatakan , “Hati-hati ya de di Jakarta,”.

Seminggu lalu jejaring sosial (Twitter) ramai akan hastag “rindu adalah….” Mungkin banyak orang yang merasakan rindu waktu itu. Dengan gelagat latah, saya ikut merangkai kata tentang kerinduan. Saya anggap sepele waktu itu, hanya keahlian merangkai kata yang timbul di kepala dan menuangkan pada twit-twit yang disertai “#rindu adalah…..”. Hampir belasan kalimat saya rangkai waktu itu dan semua keluar dengan mudah , apapun yang ada di kepala ku ku ketik di bilik kerinduan sang burung (Twitter).




Tidak seperti biasanya kali ini hujan membelai tanah lebih awal, pukul 6 pagi sudah terdengar gelak tawa keriangan hujan yang telah lama rindu bermain dengan tanah den bersatu menjadikan suatu lumpur yang legit akan kasih sayang.
Sang awan pun harus dengan ikhlas menghilangkan warna putihnya dan berganti hitamnya mendung untuk bersabar menunggu indahnya warna pelangi….. kerinduan.
Air laut pun harus rela berpisah dengan halusnya belaian pasir saat membelai pantai untuk naik ke langit hanya demi pengorbanan kembali lagi ke laut,…… sebuah kerinduan.

Katak pun riang bermain di pinggir kolam setelah lama memendam rasa rindu pada teman-temannya akan segarnya air hujan yang jatuh di kolam dan dengan nyanyian rindunya mereka bersautan bersyukur pada Zat Yang Maha Merdu atas syukur…. Sebuah kerinduan.

Sang anak hanya bisa mendengar tangis ibunya mendoakan kesehatan anaknya di telepon, tanpa harus bersuara dan hanya bisa memendam rasa rindunya pada sosok yang tengah meneteskan air mata dan terus menerus berdoa demi kesuksesan anaknya, pegangan telepon pun mulai bergetar sang anak tak kuasa membendung air kerinduan dengan menahan suara isaknya sang anak hanya berkata amin.. dan menutup telepon.

Terkadang sulit untuk mengakui kita rindu pada orang tua kita, tapi saat rasa itu muncul saya yakin di rumah orang tua kita sepuluh kali lebih rindu dari apa yang kita rasakan. Pernah suatu saat tangan tua menengadah dengat urat-urat kelelahan setelah seharian mencari nafkah, sang ayah menunduk dan terisak sehari sebelum keberangkatan sang anak ke tanah perjuangan. Tak henti-henti nya mulut bijak itu mengeluarka kata-kata dashyat nan indah dan berulang kali nama sang anak disebut dan tak pernah terdengar namanya sendiri terucap dari bibir tuanya. Dari yang kelihatannya begitu tabah dan tegar, sang ayah mampu menahan rasa kerinduan dan melampiaskan dengan selalu bersujud dan bersujud pada Zat Yang Menciptakan Rindu.

Komentar

Dias "Deeast" mengatakan…
rere, slalu rindu rumah ya???
sama :)
REPYSSA mengatakan…
iya yas, karena ga ada yg menggantikan suasana rumah,
faizal21 mengatakan…
mapir re...saya juga kangen :)
REPYSSA mengatakan…
mapir apaan,?? ini cboz kan ya

Postingan Populer