Kamis, 14 November 2013

MAKASSAR ART MOMENT 2013



Panggung Makassar Art Moment 2013


Makassar Art Moment, sebuah event tahunan yang diselenggarakan atas kerjasama Fakultas Seni dan Design Universitas Negeri Makassar dengan Pemerintah Kota Makassar. Makassar Art Moment 2013 merupakan kali kelima event art performance ini digelar. Bertolak dari kesuksesan pertama kali event ini digelar tahun 2009, Fakultas Seni dan Design Universitas Negeri Makassar berkomitmen untuk menyebarkan gairah seni di Kota Makassar dengan menyajikan tari, musik, nyanyian, seni rupa, dan dongeng, dalam satu pementasan yang apik Makassar Art Moment, “Spirit to Manurung”.



Digelar selama dua hari 11-12 November 2013, Makassar Art Moment mampu menyedot perhatian masyarakat Kota Makassar khususnya anak muda untuk menyaksikan pertunjukan seni yang sengaja diselenggarakan untuk memeriahkan HUT Kota Makassar ke 406. Lapangan  Benteng Fort Roterdam, Museum Lagaligo disulap menjadi sebuah panggung yang representative untuk menampilkan Art Performance. Tata lampu,  tata letak panggung di ruangan terbuka sangat mendukung pertunjukan tari, tangan perkusi, sendratari, dongeng dan nyanyian.
Tarian Alekawako


Hari pertama pertunjukan, 11 November 2013, dengan dibuka oleh Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, ditampilkan sebagai suguhan pembuka dalam bentuk teater dipadu dengan tari, dan musik yang memukau penonton, dengan melibatkan sedikitnya 50 pemeran Sendratasik “Spirit To Manurung”.

Hari kedua, 12 November 2013, Art Performance beruntut disuguhkan ke penonton dengan apik, walaupun waktu pertunjukkan tidak sesuai dengan yang dijadwalkan, tetapi penampilan para penari, pendongeng, dan penabuh gendang tangan perkusi mampu membayar kekecewaan penonton. Dibuka dengan musik etnik kontemporer Saratalua “Totimora” yang menggabungkan musik modern dengan rampak gendang Makassar disajikan dengan apik oleh mahasiswa Fakultas Seni dan Design UNM.
Tarian Alekawako


Tidak hanya pertunjukan musik, disusul kemudian ilustrasi pembuatan kapal Phinisi disuguhkan dalam bentuk tarian dengan koreografer Nurul Inayah (Dosen Fakultas Seni dan Design UNM) mampu membuat penonton kagum. Diawali dengan suasana mistis dengan dupa sebagai asesories penari, Tarian Alekawako menceritakan tentang proses pembuatan Kapal Phinisi. Arti Alekawako sendiri adalah bumi tempat manusia hidup dan berinteraksi dengan makhluk hidup lainnya. Musik dari Tarian Ale Kawako pun perpaduan musik tradisional dan musik kontemporer.
Penampilan Tangan Perkusi


Acapela Anging Mamiri turut menyambung penampilan Makassar Art Moment 2013, lagu anging mamiri dibawakan dengan musik beatbox membawa suasana baru di Benteng Roterdam pada malam 12 november 2013. Tak kalah menarik, penampilan tangan perkusi yang mengangkat judul ‘Nyanyian Senja’ ikut memeriahkan Makassar Art Moment 2013. Paduan musik dihasilkan dari “katok-katok” (alat musik tradisonal yang terbuat dari bamboo) dan pukulan-pukulan pemuda Makassar pada kursi kayu. Suasana menjadi dramatis ketika gadis bugis melakukan akkelong (nyinden kalo istilah jawanya) sambil menari di atas tumpukan kursi-kursi kayu yang dipukul-pukul untuk menghasilkan musik etnik.
Pameran Seni Rupa di depan Museum La Galigo


Seorang pendongeng muncul dari depan penonton dengan menggunakan pakaian hitam-hitam, membawakan dongeng Nene Pakande. Nene berarti nenek sedangkan pakande berarti pemangsa, bercerita tentang nenek pemangsa yang mempunyai kebiasaan memangsa anak kecil yang nakal dan pemalas. Cerita Nene Pakande lebih cocok untuk usia anak-anak, tetapi gaya mendongeng patut diajungi jempol, ekspresi dan olah suara tersusun dengan rapi.

Tarian Membali Puang


Membali Puang, visualisasi ritual rambu solok, upacara adat Tana Toraja disajaikan dalam bentuk tarian oleh D’ art Studio. Setting gelap hanya diterangi oleh obor-obor di tepi panggung menambah khidmat tarian ini, campuran tarian kontemporer dan tarian tradisional Tana Toraja disuguhkan dengan rancak. Ditutup dengan prosesi pengantaran jenazah ke lakkean oleh para penari yang berselimut kain panjang merah dan membawa rumah adat tongkonan menjadikan tarian Membali Puang tidak mudah untuk dilupakan.
Pameran Seni Lukis di Benteng Fort Rotterdam Makassar



Penutupan acara Makassar Art Moment 2013 disisi oleh paduan suara SMA Nasional Makassar asuhan dari Fakultas Seni dan Design UNM. Tak hanya pertunjukan seni tari, drama, dan suara, tetapi Makassar Art Moment menampilkan hasil seni lukis yang dipamerkan di depan museum Lagaligo Benteng Fort Rotterdam.
Makassar Art Moment 2013 dapat dikatakan cukup sukses dalam penyelenggaraannya, tetapi masih perlu dibenahi mengenai ketepatan waktu dan setting panggung nya. Event art performance seperti ini yang patut dilestarikan di Kota Makassar agar masyarakat Makassar tidak lupa akan seni tradisonal mereka dalam balutan perkembangan modernisasi.

Berikut saya sisipkan cuplikan video Makassar Art Moment 2013:




Author : Repyssa


Rabu, 25 September 2013

Ojo De Dios Craft Corner

Sering bingung untuk memanfaatkan barang-barang disekitar kita yang sudah tidak terpakai? Atau sering bingung untuk memberikan hadiah unik kepada seseorang? Manusia diciptakan dengan akal pikir yang luar biasa, seharusnya keistimewaan itu disyukuri dengan memanfaatkanya sebaik-baiknya. Memanfaatkan sumpit yang sudah tidak terpakai menjadi kerajinan dan pernak-pernik unik khas Suku Indian Kuno akan menjadi pengalaman baru bagi Anda.

Ojo De Dios, Eye of God , di Meksiko biasanya diselenggarakan secara tradisi untuk memperingati dan menyelamati rumah mereka agar aman dari bahaya. Ojo De Dios yang berarti Mata Tuhan dipercaya dapat menjaga mereka dari bahaya dan melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat mata langsung. Terlepas dari kepercayaan tersebut, kerajinan-kerajinan Ojo De Dios sangat menarik untuk dipelajari, ingin tahu lebih lanut tentang Kerajinan ala Suku Indian Kuno ini?


Ojo de Dios photo by Anaroza
Blog teman saya @tjuandha , sedang mengadakan open class bagi siapa pun yang ingin belajar membuat kerajinan dari sumpit bekas ala-ala Suku Indian Kuno, untuk lebih jelasnya dapat masuk ke halaman ini (klik) dan submit formulir kamu melalui link berikut (klik).


Tidak ada salahnya menambah keahlian diluar batas bayangan kita, siapa tahu akan berguna dikemudian hari.Keistimewaan akal pikir kita harus selalu disyukuri.

poster by tjuandha


Sabtu, 21 September 2013

Suku Bajo Mola beradaptasi di Wangi-wangi, Wakatobi.







kanal-kanal kecil Suku Bajo Mola
Puluhan Kanal - kanal kecil yang berukuran tidak lebih dari 2 m mengelilingi rumah mereka Sampan kayu nan ramping tertambat di bahu kanal, pemandangan anak-anak kecil berlarian riang, para gadis bajo yang malu-malu terlihat mengintip dari jendela sambil menggunakan bedak dingin. Di ujung kanal, terlihat sampan hilir mudik dengan pengendara ibu-ibu yang menungu para ‘Palele’ pulang melaut.



Itulah suasana kampung Mola pada sore hari. Kampung Mola yang terletak di Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menjadi tempat tinggal Suku Bajo yang terkenal ulung dalam melaut. Suku Bajo memang tak terpisahkan dari laut. Sejak dulu, mereka dikenal sebagai pelaut ulung, gemar mengarungi lautan Nusantara. Sejak puluhan tahun lalu, para orang tua mereka mendapat berkah dari hasil laut perairan ini. Mereka bisa menangkap ikan dan penyu di mana pun tanpa larangan.



Sampan menjadi alat transportasi Suku Bajo
Suku Bajo yang sering disebut sea nomads atau manusia perahu karena sejak zaman dahulu mereka adalah petualang laut sejati yang hidup sepenuhnya di atas perahu sederhana. Mereka berlayar berpindah-pindah dari wilayah perairan yang satu dan lainnya. Perahu adalah rumah sekaligus sarana mereka mencari ikan di luas lautan yang ibaratnya adalah ladang bagi mereka.



Ikan-ikan yang mereka tangkap akan dijual kepada penduduk di sekitar pesisir pantai atau pulau. Inilah asal mula mereka disebut sebagai manusia perahu atau sea nomads. Kini mereka banyak bermukim di pulau-pulau sekitar Pulau Sulawesi, Madura, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Persebaran suku Bajoe di beberapa daerah di Nusantara tentunya terjadi karena cara hidup mereka yang berpindah-pindah dan berlayar dengan perahu.

Tak hanya menyebar di perairan Nusantara, Suku bajo juga menyebar sampai Filipina dan Thailand. Fakta yang menarik, walaupun tersebar, mereka tetap menggunakan bahasa yang sama, bahasa Ibu Suku Bajo. Suku Bajo terbesar bermukim di kepulauan Wakatobi, mulai dari Pulau Wangi-wangi sampai Pulau Kaledupa. Pada bulan September 2013 akan dilaksanakan Festival Suku Bajo, semua Suku Bajo seluruh dunia akan berkumpul di Wakatobi, akan ada Tarian Duata di atas  kapal yang menyambut para tamu yang datang. Tradisi Bangke Mbule-mbule juga tidak lupa akan dipertunjukan dalam festival ini. Bangke Mbule-mbule merupakan tradisi suku Bajo melarung sesajen ke laut untuk menjauhkan dari marabahaya dan menambahkan rezeki, berupa tanggkapan ikan  yang melimpah.

Suku Bajo yang terkenal hidup nomaden di lautan, mulai merubah cara hidup mereka, dengan mendirikan perkampungan dengan rumah-rumah pancang kayu beratap rumbia yang berdiri di lautan, tidak ada listrik, dan sampan sebagai sarana transportasi mereka. Rumah satu dengan rumah lainnya terhubung kanal-kanal kecil. Suku Bajo menganggap perairan bukan sebagai pemisah melainkan sebagai penghubung. Pelajaran penting buat kita, Indonesia negara kepulauan terhubung oleh lautan bukan terpisah oleh lautan.


Sebagian rumah Suku Bajo Mola sudah berbahan semen
Pemandangan Suku bajo yang identik dengan perkampungan di atas laut akan berubah ketika kita masuk perkampungan Suku Bajo Mola di Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi. Sentuhan modern di rumah mereka mulai terlihat, dinding tembok, listrik, sepeda motor, jembatan beton, seakan mulai mengubur tradisi asli Suku Bajo yang serba sederhana. Suku Bajo Mola berasal dari Suku Bajo Pulau Kaledupa yang masih masuk dalam Kabupaten Wakatobi. 

Berdasar hasil wawancara dengan Ibu Surtina, penduduk Suku Bajo Mola, hampir semua penduduk Suku Bajo Mola berasal dari Kaledupa, mereka pindah ke desa Mola, Pulau Wangi-Wangi karena terkait gerakan DI/TII.


Suku Bajo Mola mulai merasakan modernisasi, melalui listrik, televisi, sepeda motor dan jembatan dan rumah mereka. Naluri laut mereka tidak berubah, sebagian besar penduduk Suku Bajo Mola pergi kelaut dengan alat sederhana untuk menangkap ikan. ‘Palele’ orang yang bertugas menangkapikan ke laut pada subuh hari akan disambut kedatangannya oleh ibu-ibu Suku Bajo Mola pada sore harinya. Setiap hari paling tidak ada 2 rombongan Pelele yang pergi melaut. Hasil tangkapan ikan ini akan di jual ke Pasar Wanci. Suku Bajo Mola mulai  beradaptasi dengan masyarakat Wanci, Pulau Wangi-Wangi. 




Ibu Nurtina, pembuat Topio Longara
“Selain sebagai nelayan ada juga Suku Bajo Mola yang berkebun,” tutur Ibu Nurtina saat ditemui sedang membuat Topio Longara. Ibu Nurtina yang bermata pencaharian sebagai pembuat Topio Longara mengaku senang tinggal di Mola, walaupun keluarganya masih berada di Pulau Kaledupa. Perlu diketahui, Topio Longara merupakan topi yang terbuat dari daun Nipa dan dijahit menggunakan lidi untuk dipakai para nelayan pergi melaut agar wajahnya tidak terbakar sinar matahari. Cuaca di perkapungan Mola sangata panas, maka tidak heran apabila kita menjumpai banyak gadis Suku Bajo Mola menggunakan bedak dingin untuk melindungi wajah mereka dari sengatan Matahari.

Begitu banyak wujud adaptasi yang dilakukan penduduk Suku Bajo Mola setelah pindah ke Pulau Wangi-Wangi, mereka ramah saat ada pengunjung datang. Tidak ada rasa malu dan enggan saat kami berfoto bersama, anak-anak kecil berlarian riang menyambut kami saat melakukan kunjungan ke Suku Bajo Mola ini. Dimanapun kita berada sudah seharusnya kita beradaptasi dengan lingkungan yang ada. 

Berikut suasana sore hari di perkampungan Suku Bajo Mola :


Jernihnya sungai-sungai Kampung Suku Bajo

menggunakan sampan menjemput Palele
pancang-pancang kayu menyangga rumah Suku Bajo
gadis Suku Bajo dan bedak dinginnya
suasana sore hari Suku Bajo, tenang dan damai
Foto diambil dari atas kapal

Jika anda berkunjung ke Wakatobi, sempatkanlah untuk berinteraksi dengan masyarakat Suku Bajo, baik yang berada di Pulau Wangi-wangi maupun Pulau Kaledupa. Mereka akan sangat ramah menyambut anda, selayaknya ramahnya mereka menjaga lautan.Untuk lebih jelasnya tentang keseharian Suku Bajo Mola, silakan dilihat video liputan saya di Suku Bajo Mola Wakatobi.






Author : Repyssa





Rabu, 04 September 2013

KICKFEST 2013 (KPDDP Independence Day Festival)




Dirgahayu RI ke-68 sering dirayakan dengan pawai kendaraan hias, pawai kostum daerah, atau lomba permainan tradisional. Beragam perlombaan setiap tanggal 17 Agustus seperti menjadi sebuah kebiasaan bahkan adat yang lumrah di masyarakat kita.

Kebiasaan bermula dari sebuah perbuatan, perbuatan bermula dari sebuah pikiran. Suatu kebiasaan jika berulang-ulang kali dilakukan akan menjadI gaya hidup, dan semakin ke dalam akan menjadi sebuah kepercayaan.


Begitu pula dengan lomba 17 an, darimana asal  lomba 17 an sehingga menjadi sebuah kebiasaan? Kebiasaan adalah pengulangan perbuatan dan semua perbuatan bermula dari pikiran. Sejarawan dan budayawan JJ Rizal, mengatakan, tradisi perlombaan mengisi hari kemerdekaan Indonesia sebenarnya baru dimulai pada tahun 1950-an dari inisiatif masyarakat (sumber : http://www.beritasatu.com/nasional/


Inisiatif dapat disamakan dengan pikiran. Tapi sepertinya tidak perlu terlalu dipermasalahkan darimana asal pemikiran lomba 17an, yang menjadi point penting adalah kita mampu menikmatinya dan mempertahankan agar kebiasaan ini tidak berubah menjadi kepercayaan. Kepercayaan bahwa untuk memperingati kemerdekaan itu hanya dengan melaksanakan lomba. 


KPDDP Makassar, sebuah Kantor Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan yang berlokasi di Makassar mengikuti kebiasaan masyarakat pada umumnya untuk memeriahkan Dirgahayu RI ke-68. Dengan mengusung nama KICKFEST 2013 (KPDDP Independence Day Festival), semua pegawai KPDDP menyatu untuk bertanding dalam lomba-lomba 17 an.


Apa saja dan bagaimana keseruan KICKFEST 2013 yang diselenggarakan oleh KPDDP Makassar? Kita lihat foto dan video di bawah.


lomba naga bonar (naga balon bikin onar)
lomba botol
estafet kelereng
balap karung
makan kerupuk
 
member of KPDDP Makassar










Tim Sultan Hasanuddin (saya termasuk dalam tim ini hahaha) berhasil menjadi juara umum di KICKFEST 2013, dan bukan JUARA YANG KITA TUJU TAPI USAHA UNTUK MENJADI SATU.