Rabu, 03 April 2013

SURAT UNTUK BAPAK



Assalamualaikum wr.wb

Bapak, bagaimana kabarnya, sehat? Semoga senantiasa dalam lindungan Allah SWT, begitu juga dengan kabar keluarga semoga senantiasa dalam Rahmat Allah SWT.


Lima Tahun sudah ade’ merantau , jauh dari ibu dan bapak, belajar hidup mandiri, belajar bagaimana harus berbagi, dan belajar mencari jati diri.  Sampai sekarang ade’ masih mencoba belajar dan mencari apa itu sabar dalam balutan sifat tegar yang senantiasa Bapak contohkan selama ini, tentunya dalam dukungan doa bapak dan ibu di rumah.

“Perbanyak istighfar de,” itu yang selalu Bapak sarankan ketika ade’ mulai lupa apa itu sabar dan bagaimana untuk tegar.
“Harus lebih qana’ah de,” itu yang selalu Bapak sarankan ketika ade’ mulai lupa bagaimana caranya bersyukur dan  tenggelam dalam tafakur.

Anak Bapak yang dulu mengikat tali sepatu saja harus dipakaikan oleh tangan Bapak dan harus selalu terlihat rapi, mungkin kelak Anak Bapak itulah yang harus memakaikan sarung Bapak saat hendak shalat.

Anak Bapak yang dulu memotong kuku saja harus dengan bantuan tangan Bapak, mungkin kelak Anak Bapak itulah yang harus membantu bapak berwudhu saat hendak shalat.

Anak Bapak yang dulu penakut menyalakan korek api, mungkin kelak Anak Bapak itulah yang harus berdiri di depan Bapak dan menatih Bapak saat mulai sulit untuk berjalan.

Ade’ semakin dewasa, Bapak semakin tua, masih banyak pelajaran yang belum ade’ pelajari dari Bapak secara utuh.


Sabar saat menghadapi masalah, mengalah yang bukan berarti kalah. Menerima sesuatu dengan lapang dada, jika memang sudah bukan jalan takdirnya. Jangan mengambil dan menerima apa yang bukan hak kita. Selalu jelas terbayang saat Bapak nasihatkan pelajaran-pelajaran ini, terucap tenang dan membekas sebagai pegangan kehidupan.




Lima Tahun hidup jauh dari Bapak dan Ibu bukan hal yang singkat dan bukan hal yang mudah
Bapak…., Ibu…., semua yang ade’ raih sekarang bukan hanya atas usaha ade’ , bukan hanya karena doa-doa ade’ , bukan hanya atas pamrih ade’, semua itu berkat doa-doa Bapak Ibu yang selalu mengalir tak pernah putus sampai tak terasa sudut mata berair. 

Bapak yang rajin I’tikaf dan shalat malam, Ibu yang rajin menyebut nama ade’ dalam setiap doa, yang senantiasa khawatir  akan anaknya yang jauh dari mata, semua itu yang membuat ade’ tenang dan kuat

Bapak yang selalu mengalah…
Bapak yang selalu tahu lebih baik diam daripada amarah…

Bapak yang sehat ya…
Bapak sudah sepuh, jangan terlalu banyak pikiran dan kerjaan

Selamat ulang tahun, jika ini hanya diartikan hanya mengulang tahun, tapi lebih bagi ade’ saatnya ade berlari mencoba belajar apa yang Bapak ajarkan sampai berani berkata, “Anakmu sudah dewasa Pak,”.

Wassalamualaikum wr.wb


Makassar, 24 Januari 2013

4 comments:

Amela mengatakan...

Ah rere.. sekalinya apdet blog bikin mewek..

REPYSSA mengatakan...

hehhee maaf amel, ga bermaksud bikin mewek.. anyaway surat ini sudah sampai ke tangan bapak beberapa bulan yang lalu

Tyas Wardoyo mengatakan...

ayoooo, pulang dek...

REPYSSA mengatakan...

hahaha nunggu lebaran mbak tyas, saya akan pulang