Rabu, 22 Mei 2013

Art's Day Festival Makassar


Pertunjukkan seni kembali digelar di Kota Makassar. Kali ini Art’s Day Festival  mengisi hari-hari warga masyarakat Makassar dengan pertunjukan seni baik dilakukan di dalam ruangan maupun luar ruangan (untuk menarik perhatian masyarakat).

Pementasan teater di pelataran Gedung Kesenian


Art’s Day Festival 2013 diselenggarakan untuk  memperingati 35 tahun usia Sanggar Merah Putih yang didirikan pada tahun 1978. Sanggar Merah Putih aktif dalam melakukan pagelaran Teater, salah satunya Teater Atas Nama Cinta yang membuka Art’s Day Festival 2013 di Societeit de Harmonie Makassar.

Acara ini berlangsung selama lima hari mulai tanggal 16 Mei 2013 – 20 Mei 2013 hasil kerja sama antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar dengan Sanggar Merah Putih Makassar (SMPM) . Adapun jadwal Art’s Day Festival 2013 sebagai berikut:

Jadwal Art’s Day Festival Makassar

Kamis, 16 Mei 2013
16.00-17.30 Opening Ceremony
17.00-17.30 Pertunjukan musik L-Met Project
20.00-selesai Pertunjukan teater: Atas nama cinta (SMPM)

Jumat, 17 Mei 2013
14.00-16.00 Pemutaran film
16.00-selesai Pertunjukan tari: Yayasan Angin Mamiri, Selfina Cepi palu, Nungky Yogjakarta, Aswani Makassar, Coco Dance Area Makassar, Fitri Setyaningsih Solo.

Sabtu, 18 Mei 2013
14.00-16.00 Pemutaran Film
20.00-Selesai Pertunjukan teater: Perutku Bicara, Komunitas Sapi Berbunyi

Minggu, 19 Mei 2013
14.00-16.00 Diskusi
16.00-17.00 Pertunjukan musik: Tangan Perkusi Makassar
20.00-Selesai Pertunjukkan musik: Urban Eggs Makassar, South ID Makassar, JK Etnika Makassar
Pembacaan karya sastra: Moch. Hasymi Ibrahim, Wawan Mattaliu, Aslan Abidin, Shinta Febriany, Luna Vidia, Muhary Wahyu Nurba

Senin, 20 Mei 2013
16.00-17.00 Seni Instalasi Ahmad Anzul
20.00-selesai Pertunjukan teater: Adong Pulang, Rombongan Sandiwara Petta Puang

Tak tanggung-tanggung, seniman dari luar Makassar pun ikut didatangkan untuk memeriahkan Art’s Day Festival kali ini. Seniman asal Solo, Yogjakarta, Samarinda, Palu, dan Lombok berantusias untuk meramaikan event ini.
Saat screening film, Art’s Day Festival menampilkan beragam film dari berbagai daerah, diantaranya:
  1. HIGH HILLS (Film pendek seorang guru yang di mutasi. Meski sempat pesimis tapi ia ubah sikap optimismenya demi menjadi seorang guru yg baik)
  2. POETERE (Film pendek Paotere kisah 2 orang anak yang punya cita2)
  3. Mattulada
  4.  Video poem dari Afrizal Malna "sebuah puisi dari selat sunda"
  5. "Matahari" dari Yusuf Radjamuda (Palu) satu-satunya film pendek animasi yg ada di event,
  6. Aluk To Raja, sebuah film dokumenter dgn cerita futuristik dari Toraja di buat oleh orang Prancis (Vincent Moon) dan diproduseri orang Makassar.
  7. Ingatan Sunyi dari sutradara Rusmin Nuryadin mengisahkan tentang Gerwani di Tahun 1960an, film ini juga diputar di Moviecoustic (klik di sini) (event festival film Independent Makassar).



Opening Act oleh Teater Kita

 
Opening act dari Teater Kita yang mengangkat judul Teater Tragos of Bagang, selalu dipentaskan tiap malam di pelataran Gedung kesenian Makassar selama lima hari berturut-turut, bercerita tentang seorang ibu nelayan yang melepas anaknya mengarungi lautan luas mencari ikan. Perpaduan yang menarik antara musik, monolog, dan tari di Teater Tragos of Bagang ini. Teater ini berhasil menarik perhatian anak muda yang sekedar lewat di depan Gedung Kesenian atau memang menyempatkan diri melihat pertunjukkan ini.



Pameran foto di Societeit de Harmonie




Selama Teater Tragos of Bagang berlangsung, pameran foto juga digelar di dalam Gedung Kesenian Makassar. Puluhan foto dipamerkan dengan berbagai tema. Pantomim dan aksi teatrikal ikut menghiasi pameran foto kali ini, suatu cara yang unik untuk menarik minat penonton.


Teater Perutku Bicara


Komunitas Sapi Berbunyi ikut meramaikan Art’s Day Festival Makassar dengan menggelar pertunjukkan Teater Perutku Bicara. Bercerita tentang kaum urban yang gagal bertahan hidup di kota besar dan mempertanyakan keeksistensian Tuhan saat mereka menahan lapar. Monolog  “Kentut” juga dibawakan secara apik oleh Bapak Adnan, salah satu anggota Komunita Sapi Berbunyi.




Bersama seniman lukis saat pementasan teater


Teater Perutku Bicara menggabungkan seni tari, seni musik perkusi, seni lukis, drama dan monolog menjadi satu. Interaksi dengan penonton pun tak kalah mengambil peran suksesnya teater ini. Yang unik dari teater ini, para pemain teater masih dalam plot alur cerita berusaha berinteraksi dengan penonton dengan membagikan Nasi Kotak seolah-olah ini bagian dari cerita.



Bersama Tokoh Utama Lakon "Perut Bicara"

Art’s Day Festival Makassar 2013 kali ini bisa dikatakan sukses, dengan tujuan utama memperkenalkan seni ke masyarakat Makassar. Sukses selalu untuk Sanggar Merah Putih yang sedang berulang tahun semoga panjang umur dan konsisten melakukan pertunjukkan seni.





Selasa, 14 Mei 2013

PAKARENA 4 : "Landorundun" ( Cerita dalam Tarian Beruntun)


Pagelaran budaya tari Indonesia ditampilkan lewat cerita rakyat Toraja. Sesuatu yang dikemas secara apik di event Pakarena 4, sebuah acara budaya kreasi UKM Tari Unhas. Tari daerah Indonesia Timur dikemas dalam satu rangkaian cerita, tak ada jeda hanya cerita  yang merangkai indahnya gerak mereka. 

Cerita rakyat yang diangkat kali ini berasal dari daerah Toraja. 

Tersebutlah Lambe’ susu, seorang gadis yang sedang mencari jodoh. Dia berkeliling nusantara untuk mencari belahan jiwanya, menyeberang pulau menuju Pulau Borneo. Tak ditemukan apa yang dicarinya, gadis itu kembali ke Bumi Celebes, menuju Mamuju, tetap berusaha mencari apa yang sebenarnya ia tuju. Tak berhenti di situ, dengan tekad yang kuat, berlayarlah ia ke Ternate, Maluku Utara. 

Dalam perjalanannya, terseliplah budaya-budaya yang ditampilkan di setiap daerah. Pakarena 4 mengemasnya secara halus, bercerita sambil menari, paduan yang sempurna, membuat penonton tidak bosan menikmati Teater “Landorundun” ini.  

Tiga tarian dengan tiga daerah yang berbeda, Kalimantan, Mamuju dan Ternate, berhasil memukau penonton. 

 
Tari enggang, Dayak
  
Tari enggang, Dayak ditarikan oleh sekelompok gadis dengan pakaian adat Kalimantan dengan hiasan kepala dari bulu Burung Enggang, menceritakan kehidupan penduduk Kalimantan jaman dahulu yang berpindah secara berkelompok.
 
 
Tari Sayo (Kalumpang)

Tari Sayo (kalumpang), yang dulunya berasal dari Kabupaten Mumuju yang kini menjadi Ibu Kota Propinsi Sulawesi Barat, ikut juga menghiasi Pakarena 4 kali ini.
 
Tari Soya-Soya (Ternate)
 
Tari Soya-soya, Ternate Maluku Utara, sekelompok pemuda keluar dengan langkah dinamis diiringi dengan musik yang rancak, berpakaian putih dan bandana kuning serta membawa pedang (ngana-ngana) yang terbuat dari daun woka. Derap langkah, yang dinamis dari Pemuda UKM Unhas ditambah semangat yang tebersit itu menyerupai semangat pasukan Sultan Ternate, yakni Sultan Baabullah, ketika hendak mengambil jenazah Sultan Khairun dari tangan Portugis di Benteng Sao Paulo, Ternate, sekaligus mengusir Portugis pada akhir abad ke-16. 

Merasa belum menemukan apa yang dia cari, dan hatinya semakin gundah, maka berpindahlah Lambe’ susu ke Pulau Papua. Disambut dengan Tarian Yospan khas Papua, hati Lambe’ Susu mulai terhibur, apalagi secara tak sengaja saat berlayar dia berjumpa dengan seorang pelayar bernama Solokang. 





Tari Papua, Yospan


UKM Tari Unhas sepertinya mengemas Tari Papua seperti Tarian Medley, berawal dari sekelompok pemuda yang masuk dengan tombak dan tameng menggambarkan Tari Perang, yang kemudian dilanjutkan dengan Tari Yospan, tari pergaulan muda-mudi Papua. Tari di Papua beragam gerak, tetapi gerakan akrobatik yang dibubuhi loncatan dan melompat mendominasi gerakan tari Papua di tambah dengan lengkingan suara kegembiraan, sebuah tampilan yang kaya, begitu pula budaya Indonesia.


Kembali ke cerita “Landorundun”, karena tertarik dengan Solokang, Lambe’ susu berusaha mencari tahu, darimana asal pemuda tersebut. Berlayar kembali ke Bumi Celebes dan bertemulah Lambe’ susu dengan seorang nenek. Nenek itu  memberinya kipas dan menceritakan bahwa kipas itu bisa membuat hatinya tenang saat ia menari menggunakannya.


 
Tari Pakarena

Tari Pakerena, berasal dari daerah Gowa Sulawesi Selatan suku Makassar. Konon Tari Pakarena ini merupakan ritual rasa syukur penduduk penghuni lino (bumi) kepada boting langi (negeri kahyangan), karena pada zaman dahulu, penduduk boting langi mengajarkan penduduk lino bagaimana bertahan hidup melalui bercocok tanam, beternak dan berburu melalui gerakan tangan, badan dan kaki. Semenjak itulah setiap ada upacara adat penduduk lino bersyukur lewat gerakan Tari Pakarena untuk penduduk langi. Banyak kisah menarik dibalik Tari Pakarena.

Lambe’ susu menarikan tari pakarena, kegundahan hatinya makin berkurang seriring dengan bertemunya dia dengan Solokang, pemuda yang dicarinya. Di Tana Toraja, menikahlah mereka dan Pakarena 4 pun tak lupa menyelipkan Tarian BareAllo di upacara perkawinan mereka.



 
Tari BareAllo (Toraja)

Tari BareAllo, berasal dari Tana Toraja biasanya ditampilkan saat upacara kegembiraan seperti pesta perkawinan, syukuran panen, dan acara penerimaan tamu terhormat. Tarian ini dilakukan oleh remaja putri berjumlah ganjil (waktu itu UKM Tari Unhas menampilkan 7 orang gadis), yang menarik dari tari ini adalah  para penari menari di atas gendang.

Setelah menikah dengan Solokang, Lambe’ susu dikaruniai seorang putri yang sangat cantik dengan rambut panjang nan indah yang menyentuh tumitnya. Landorundun, nama putri Lambe’ susu, digila-gilai oleh banyak raja-raja Bumi Celebes. Berulangkali lamaran ditolaknya, karena Landorundun tidak tega meninggalkan ibunya di Tana Toraja.


Suatu Hari, Landorundun pergi mandi ke sungai, tak sengaja sisir emas yang digunakan untuk menyisir rambutnya hanyut terbawa arus sungai sampai ke laut. Di tempat lain, tersebutlah Bendurana, raja Bone sedang berlayar di laut lepas tak sengaja melihat benda kecil yang bersinar terang di tengah laut. Tertarik untuk memilikinya Bendurana memerintahkan pengawalnya untuk mengambilnya. Tak berhasil perintah dilaksanakan, akhirnya Bendurana sendiri yang mengambilnya.


Bendurana pun penasaran akan siapa pemilik sisir emas itu, dia berlayar untuk mencari pemilik sisir emas itu, sampai di tengah perjalanan ada burung Kaluppini (wallet) , kawanan burung itu terbang terus mengikuti aliran sungai mulai dari mulai dari muara sampai ke Tana Toraja dan tiba di daerah Malangngo’,  Kecamatan Rantepao, Bendurana pun mengikuti arah terbang burung itu. Tak lupa Pakarena 4 selalu menyisipkan Tarian budaya di perjalanan Bendurana ini, Tarian Bone dan Tarian Mandar menghiasi perjalanan Bendurana.
 
Saya terpukau dengan tarian yang berasal dari daerah Bugis (Tari Sompereng Lino), sekelompok gadis menari bersama-sama dengan musik yang lembut, tiba-tiba irama musik berubah menjadi dinamis. Para pemuda dengan hentakan yang ritmik masuk ke panggung, gerakan hentakan kaki seirama dengan dentuman gendang para pemain musik, ternyata ini tarian pasangan muda-mudi daerah Bone, betul-betul indah.




Tari Towaine, dari daerah mandar juga ikut menyambut kedatangan Bendurana dalam perjalanan mencari pemilik sisir emas tersebut. Tarian yang menggambarkan keelokan, keindahan dan keayuan putrid-putri mandar dalam pergaulan keseharian yang begitu lemah lembut, gemulai  dalam kesederhanaan.

Berkat bantuan burung Kuluppini Bendurana sampai di Rantepao, Tana Toraja. Bendurana turun dari perahunya dan bertemu dengan Landorundun, sang pemilik sisir emas. Landorundun menanyakan maksud kedatangan Bendurana. Bendurana terus terang ingin memperistri Landorundun, tetapi Landorundun menolaknya, dia mengatakan tak butuh harta benda Bendurana sekaligus dia tak tega meninggalakan ibunya Lambe’ susu di Tana Toraja.

Tak kehilangan akal, Bendurana menanam pohon mangga ajaib di tepi sungai tempat Landorundun mandi. Suati hari, Landorundun memakan buah mangga tersebut dan hal itu diketahui Bendurana. Bendurana menyindir Landorundun, dan meminta agar Landorundun menikah dengannya. Karena termakan perkataanya sendiri yang tak membutuhkan harta benda Bendurana, akhirnya Landorundun menikah dengan Bendurana.

Bendurana ingin mengajak Landorundun ke negeri asalnya, Bone. Keinginan itu tak diseteujui oleh ibunya, Lambe’ susu , dengan diam-diam Bendurana membawa lari Landorundun tanpa sepengetahuan Lambe’ susu. Menyadari anaknya diambil, murka lah Lambe’ susu dan mengucapkan kutukan yang membuat kapal Bendurana menjadi batu.

UKM Tari Unhas dalam Upacara Mapasili
Konsep yang menarik di Pakarena 4 ini, menggabungkan cerita rakyat dengan tarian tradisional. Terlepas dari banyak versi dengan akhir cerita rakyat Landorundun, tetapi kreasi anak-anak UKM Tari UNHAS patut diapresiasi. Acara yang digelar di Baruga A.P. Pettarani Unhas Makassar 11 Mei 2013 bertujuan melestarikan budaya nusantara ditengah gencarnya budaya mancanegara, seuatu yang berbeda tapi bermakna. 


Tontonan menarik disela-sela rutinitas pekerjaan kantor, mengenalkan budaya daerah secara halus terutama ke masyarakat umum, apalagi pendatang seperti saya.Maaf, foto-fotonya kurang jelas, untuk melihat indahnya gerak tari mereka dapat dilihat di sini (klik).  
Salam Budaya!!!



               







Jumat, 03 Mei 2013

Partisipasi Turnamen Foto Perjalanan 20 : Tari Paraga


Dengan tuan rumah mas yoesrianto , Turnamen Foto Perjalanan ronde 20 kali ini mengangkat tema Festival / Tarian. Tema ini dipilih karena dalam melakukan perjalanan, kita pasti bertemu dengan moment festival/tarian yang unik dari satu daerah/wilayah. Dan memang saya menemukan moment festival yang unik dengan pertunjukkan Tari Paraga dari Makassar. 

Saya katakan unik karena Tari Paraga ini ditampilkan saat perayaan Cap Go Meh Tahun 2012 di Chinatown Makassar. Sebuah akulturasi budaya yang indah, Cap Go Meh yang identik dengan etnis Tionghoa dan Tari Paraga dari Makassar berpadu syahdu dalam kerukunan budaya bangsa.

Tari Paraga dimainkan oleh 6 pemuda yang memakai pakaian adat passapu' dan bola rotan takraw yang menjadi media dari tarian ini. Para penari saling memanggul dan menendang-nendang bola takraw tersebut dari kaki penari yang satu ke penari lainnya. Atraksi ini sangat menarik perhatian penonton, keseimbangan penari dan gerakan yang tak diduga-duga menambah apiknya tarian ini.





Tari Paraga saat perayaan Cap Go Meh


Saya mengambil foto di atas saat saya menghadiri festival Cap Go Meh di Chinatown Makassar tahun 2012, decak kagum mulai terlihat dari penonton yang hadir, biasanya Cap Go Meh dihiasi dengan tarian Barongsai, tapi kali ini berbeda. Secara tiba-tiba terdengar iringan gendang Makassar dari kejauhan, dan terlihat 6 pemuda berbaju merah siap unjuk kebolehan menarikan Tari Paraga. Akulturasi budaya yang indah.


  Foto ini saya ikutkan dalam turnamen foto perjalanan ronde 20 dengan tema : Festival/Tarian.



Untuk blogger yang penasaran seperti apa tari paraga, berikut dapat disimak video di bawah ini:




Kamis, 02 Mei 2013

Europe On Screen

Mei akan dimeriahkan oleh event tahunan Europe On Screen, saya kira tahun ini saya akan absen melihat event ini, setalah cari info ternyata event ini juga digelar di Makassar. Harus rela datang lebih awal agar masuk wiating list daftar penonton. Walaupun tak sebanyak Jakarta film yang diputar, tapi sudah alhamdulillah sudah digelar juga di Makassar, tepatnya di FIB Unhas. 





Untuk jadwal lengkap film yang akan diputar di Europe On Screen, dapat dilihat di bawah ini:





Selamat menikmati Europe On Screen kawan-kawan di Jakarta, Denpasar, Makassar, Medan, Surabaya, Yogyakarta dan Bandung.Selamat menonton juga Kak Dita dan Kak Nila. (masih inget pulang kantor buru-buru kejar tiket dan harus melawan macetnya Jakarta)



Info lebih lengkap silakan buka website resminya : http://www.europeonscreen.org/