Jumat, 07 Juni 2013

Pulau Lanjukang : Sejauh Mata Memandang, Lukisan Tuhan Terbentang




Di sebelah barat jazirah Sulawesi Selatan terdapat gugusan pulau-pulau kecil yang sering disebut dengan Kepulauan Spermonde. Kalau Jakarta punya Kepulauan Seribu, Sulawesi mempunyai Kepulauan Spermonde yang terdiri dari sekitar 120 pulau yang membentang dari Kabupaten Takalar di selatan hingga Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) di utara.


 
Bibir Pantai Pulau Lanjukang


Pulau Lanjukang, merupakan salah satu dari gugusan Kepulauan Spermonde. Secara administratif, Pulau Lanjukang berada di Kelurahan Barrangcaddi, Kec. Ujung Tanah, Kota Makassar dan merupakan pulau terluar di Makassar. Pulau ini tergolong sangat sepi, dengan luas sekitar 3,4 hektar, hanya dihuni 15 Kepala Keluarga. Konon nama Lanjukang berasal dari kata “Lanjutkan” karena pulau ini sebagai pulau transit nelayan yang beristirahat sebelum hendak pulang menangkap ikan.


 
Pelabuhan Poetere, pelabuhan warisan Raja Gowa Tallo



Pulau Lanjukang, dapat ditempuh dari Kota Makassar melalui Pelabuhan Paotere dengan waktu tempuh +- 2 jam mengunakan kapal motor dengan kuota 30 orang penumpang (biaya sewa 1,4 juta -2 juta). Sekedar info, Pelabuhan Poetere merupakan salah satu pelabuhan rakyat warisan tempo dulu yang masih bertahan. Pelabuhan ini peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar) yang sudah ada sejak abad ke-14. Pada masa Raja Tallo ke-2, sebanyak 200 armada kapal pinisi diberangkatkan dari pelabuhan Poetere untuk menyerang Malaka. Sampai sekarang kapal pinisi masih dapat dilihat di pelabuhan ini.



Kembali ke Pulau Lanjukang, jumlah penduduk sekitar 50 orang dan sebagian besar terdiri dari orang tua dan anak-anak. Tidak ada sekolah, jaringan listrik, fasilitas kesehatan atau jaringan telekomunikasi sinyal handphone. Berbeda jauh dengan Kota Makassar yang begitu gemerlap dengan cahaya dan fasilitas, di Pulau Lanjukang air bersih dan fasilitas listrik hanya menggunakan genset yang hanya mampu bertahan selama 3 jam.




 
Alat Snorkling dibawa langsung dari Makassar, Photo Credit : Bang Arief

 
Untuk menikmati keindahan bawah laut Pulau Lanjukang, para wisatawan diharapkan membawa alat snorkel atau diving sendiri, karena di pulau ini tidak menyediakan penyewaan alat snorkeling. Rumah sewa pun hanya terdiri dari 2 bangunan rumah panggung milik keluarga Manggabarani, kami lebih memilih untuk mendirikan tenda dan bermalam di pinggir pantai setelah ijin dari Kepala Dusun Pulau Lanjukang.  Air bersih dan bahan makanan juga lebih baik dibawa dari Makassar, karena kebutuhan akan barang-barang tersebut dangat terbatas di pulau ini, kita bisa memasak sendiri untuk mengisi perut setelah puas snorkling.

 
 
Menikmati hidangan hasil masakan sendiri setelah snorkling

Terdapat beberapa penduduk Lanjukang yang memiliki keunikan fisik dengan tinggi badan tidak lebih dari 150 cm atau bisa disebut (maaf) manusia kerdil dengan punggung sedikit membungkuk. Menurut beberapa sumber, keganjilan fisik itu dikarenakan mereka kawin dengan sesamanya sehingga menghasilkan gen yang cacat. Namun, seiring berjalannya waktu sudah banyak warga local yang menikah dengan penduduk pulau lain. Salah satunya ibu (namanya lupa… kebiasaan haha) yang mengajak saya ngobrol tentang kehidupan di pulau. Beliau berasal dari pulau Moko-Moko dan menikah dengan penduduk Pantai Tanjung Bayan Makassar.
 
Penduduk Pulau Moko-moko yang hijrah Ke Pulau Lanjukang

  

Ibu dan bapak tersebut hidup dari menangkap ikan yang dijual ke Makassar dengan jarak tempuh 2 hingga 3 jam ke Kota Makassar. Dengan alat transportasi yang sama milik Bapak Kadus, mereka harus bayar ongkos dua kali lipat lebih tinggi. Untuk menunjang penghasilan, mereka menangkap Kelomang (penduduk asli menyebutnya “Dondo’”) di Pulau Kapoposan berjarak 4 jam dari Pulau Lanjukang menggunakan perahu petek-petek.




 
Penduduk Lanjukang beternak Kelomang



Kelomang itu dikumpulkan dan diternakan untuk dijual ke Penduduk Macopa Maros yang nantinya digunakan sebagai hiasan. Sangat sedikit hasil yang didapat dari penjualan kelomang ini, 1 ember kecil kelomang hanya dihargai Rp1000. Usaha ini tetap dilakukan oleh pasangan suami istri ini untuk menambah penghasilan.

 
Perahu petek-petek yang digunakan oleh penduduk lokal Lanjukang

Dibalik segala keterbatasan Pulau Lanjukang, sejauh mata memandang terdapat air sebening biru kristal dengan gradasi warna yang sangat memikat. Sejauh mata memandang terhampar pasir putih dari ujung pulau ke ujung pulau satunya. Sejauh mata memandang tampak terumbu karang yang menghiasi biota bawah laut dari Pulau Lanjukang ini.





 
Suasana sepi nan damai di bibir Pantai Lanjukang

Deburan ombak dan suara angin yang menyapu pasir putih di Pulau Lanjukang mampu mengobati rasa penat di sela-sela aktivitas kantor. Sejauh mata memandang dari kapal motor hendak berlabuh kita dapat melihat birunya air laut laksana kolam renang raksasa pribadi di tengah lautan.



 
Jernihnya air Lanjukang




Sejauh mata memandang, kita akan dimanjakan oleh garis pantai yang seakan-akan tak putus menyatu dengan lautan. Saat sore hari dan pagi hari sejauh mata memandang kita juga akan melihat kebesaran karya Tuhan lewat lukisan agung di langit.



 
menjelang pagi di Lanjukang

menjelang pagi di Lanjukang

Bagi yang ingin melepas lelah dan ingin menikmati kedamaian di pulau nan sepi, Pulau Lanjukang menjadi alternative pilhan yang tepat. Tidak seperti Pulau Samalona yang sudah sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan, Pulau Lanjukang masih jarang dikunjungi, jadi serasa mempunyai pulau pribadi.
Berikut cuplikan gambaran bahwa Lanjukang itu "surga bocor alus," (quote teman):








Terlepas dari indahnya Pulau Lanjukang, terdapat dilema sulitnya kehidupan penduduk Pulau Lanjukang. Kita sebagai pengunjung jangan memperberat beban mereka dengan meninggalkan sampah di pulau ini, kalau perlu saat kita berkunjung ke pulau ini dapat membawa buku alat tulis, air bersih, dan bahan makanan untuk disumbangkan. 



Seluruh Tim bersama anak-anak Lanjukang, Photo Credit : Kak Wira

Sekian liputan tentang Pulau Lanjukang, sejauh mata memandang hanya lukisan Tuhan yang terbentang.


Author : Repyssa Photo credit : Kak Ganda

7 comments:

filosofia mengatakan...

Indah banget re pulaunyaa....

REPYSSA mengatakan...

iya berasa gigantic swimming pool wiga....

Adibah Shahrudin mengatakan...

Hai. I'm from Malaysia and very interested with this Pulau Lanjukang. May be coz yesterday, one channel Tv at my country shows about this place. I agree that how beautiful it is and friendly there are. Seems like impossible i can go there. I want to ask:
Is the majority people there are Islam or what (coz looks like there got masjid over there)?
And how your government backside in handling this pulau? and people over there take it.
If you don't mind, please reply me any main website about this place.
Thank you.

REPYSSA mengatakan...

HI ADIBAH, yes the biggest religion in Indonesia is Islam, This island have not received electricity. It is such a irony scenery that near this island there is Makassar, the city where the electricity goin smoothly..

Anyway thx for reading my post adibah

Adibah Shahrudin mengatakan...

makassar? orait. thanks 4 reply.

Efenerr mengatakan...

ternyata rere ada blog. salam kenal. :)

wah pulaunya indah sekali, malah melewatkan pulau seindah ini ketika di Makassar. :D

REPYSSA mengatakan...

@EFENER hai salam kenal juga, iya lain kali bisa dikunjungi mas.... terima kasih sudah mau mampir di blog saya