Pulau Lanjukang : Sejauh Mata Memandang, Lukisan Tuhan Terbentang
Di sebelah barat jazirah Sulawesi
Selatan terdapat gugusan pulau-pulau kecil yang sering disebut dengan Kepulauan
Spermonde. Kalau Jakarta punya Kepulauan Seribu, Sulawesi mempunyai Kepulauan
Spermonde yang terdiri dari sekitar 120 pulau yang membentang dari Kabupaten
Takalar di selatan hingga Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) di utara.
Pulau Lanjukang, merupakan salah
satu dari gugusan Kepulauan Spermonde. Secara administratif, Pulau Lanjukang
berada di Kelurahan Barrangcaddi, Kec. Ujung Tanah, Kota Makassar dan merupakan
pulau terluar di Makassar. Pulau ini tergolong sangat sepi, dengan luas sekitar
3,4 hektar, hanya dihuni 15 Kepala Keluarga. Konon nama Lanjukang berasal dari
kata “Lanjutkan” karena pulau ini sebagai pulau transit nelayan yang
beristirahat sebelum hendak pulang menangkap ikan.
Pulau Lanjukang, dapat ditempuh
dari Kota Makassar melalui Pelabuhan Paotere dengan waktu tempuh +- 2 jam
mengunakan kapal motor dengan kuota 30 orang penumpang (biaya sewa 1,4 juta -2
juta). Sekedar info, Pelabuhan Poetere merupakan salah satu pelabuhan rakyat
warisan tempo dulu yang masih bertahan. Pelabuhan ini peninggalan Kerajaan
Gowa-Tallo (Makassar) yang sudah ada sejak abad ke-14. Pada masa Raja Tallo
ke-2, sebanyak 200 armada kapal pinisi diberangkatkan dari pelabuhan Poetere
untuk menyerang Malaka. Sampai sekarang kapal pinisi masih dapat dilihat di
pelabuhan ini.
Kembali ke Pulau Lanjukang, jumlah
penduduk sekitar 50 orang dan sebagian besar terdiri dari orang tua dan
anak-anak. Tidak ada sekolah, jaringan listrik, fasilitas kesehatan atau
jaringan telekomunikasi sinyal handphone. Berbeda jauh dengan Kota Makassar
yang begitu gemerlap dengan cahaya dan fasilitas, di Pulau Lanjukang air bersih
dan fasilitas listrik hanya menggunakan genset yang hanya mampu bertahan selama
3 jam.
Untuk menikmati keindahan bawah
laut Pulau Lanjukang, para wisatawan diharapkan membawa alat snorkel atau
diving sendiri, karena di pulau ini tidak menyediakan penyewaan alat
snorkeling. Rumah sewa pun hanya terdiri dari 2 bangunan rumah panggung milik
keluarga Manggabarani, kami lebih memilih untuk mendirikan tenda dan bermalam
di pinggir pantai setelah ijin dari Kepala Dusun Pulau Lanjukang. Air bersih dan bahan makanan juga lebih baik
dibawa dari Makassar, karena kebutuhan akan barang-barang tersebut dangat
terbatas di pulau ini, kita bisa memasak sendiri untuk mengisi perut setelah
puas snorkling.
Terdapat beberapa penduduk
Lanjukang yang memiliki keunikan fisik dengan tinggi badan tidak lebih dari 150
cm atau bisa disebut (maaf) manusia kerdil dengan punggung sedikit membungkuk.
Menurut beberapa sumber, keganjilan fisik itu dikarenakan mereka kawin dengan
sesamanya sehingga menghasilkan gen yang cacat. Namun, seiring berjalannya
waktu sudah banyak warga local yang menikah dengan penduduk pulau lain. Salah
satunya ibu (namanya lupa… kebiasaan haha) yang mengajak saya ngobrol tentang
kehidupan di pulau. Beliau berasal dari pulau Moko-Moko dan menikah dengan penduduk
Pantai Tanjung Bayan Makassar.
Ibu dan bapak tersebut hidup dari
menangkap ikan yang dijual ke Makassar dengan jarak tempuh 2 hingga 3 jam ke
Kota Makassar. Dengan alat transportasi yang sama milik Bapak Kadus, mereka
harus bayar ongkos dua kali lipat lebih tinggi. Untuk menunjang penghasilan,
mereka menangkap Kelomang (penduduk asli menyebutnya “Dondo’”) di Pulau
Kapoposan berjarak 4 jam dari Pulau Lanjukang menggunakan perahu petek-petek.
Kelomang itu dikumpulkan dan
diternakan untuk dijual ke Penduduk Macopa Maros yang nantinya digunakan
sebagai hiasan. Sangat sedikit hasil yang didapat dari penjualan kelomang ini,
1 ember kecil kelomang hanya dihargai Rp1000. Usaha ini tetap dilakukan oleh
pasangan suami istri ini untuk menambah penghasilan.
Dibalik segala keterbatasan Pulau
Lanjukang, sejauh mata memandang terdapat air sebening biru kristal dengan
gradasi warna yang sangat memikat. Sejauh mata memandang terhampar pasir putih
dari ujung pulau ke ujung pulau satunya. Sejauh mata memandang tampak terumbu
karang yang menghiasi biota bawah laut dari Pulau Lanjukang ini.
Deburan ombak dan suara angin
yang menyapu pasir putih di Pulau Lanjukang mampu mengobati rasa penat di
sela-sela aktivitas kantor. Sejauh mata memandang dari kapal motor hendak
berlabuh kita dapat melihat birunya air laut laksana kolam renang raksasa
pribadi di tengah lautan.
Sejauh mata memandang, kita akan
dimanjakan oleh garis pantai yang seakan-akan tak putus menyatu dengan lautan.
Saat sore hari dan pagi hari sejauh mata memandang kita juga akan melihat
kebesaran karya Tuhan lewat lukisan agung di langit.
![]() |
| menjelang pagi di Lanjukang |
Bagi yang ingin melepas lelah dan
ingin menikmati kedamaian di pulau nan sepi, Pulau Lanjukang menjadi
alternative pilhan yang tepat. Tidak seperti Pulau Samalona yang sudah sangat ramai
dikunjungi oleh wisatawan, Pulau Lanjukang masih jarang dikunjungi, jadi serasa
mempunyai pulau pribadi.
Berikut cuplikan gambaran bahwa Lanjukang itu "surga bocor alus," (quote teman):
Terlepas dari indahnya Pulau
Lanjukang, terdapat dilema sulitnya kehidupan penduduk Pulau Lanjukang. Kita
sebagai pengunjung jangan memperberat beban mereka dengan meninggalkan sampah
di pulau ini, kalau perlu saat kita berkunjung ke pulau ini dapat membawa buku
alat tulis, air bersih, dan bahan makanan untuk disumbangkan.
![]() |
| Seluruh Tim bersama anak-anak Lanjukang, Photo Credit : Kak Wira |
Sekian liputan tentang Pulau
Lanjukang, sejauh mata memandang hanya lukisan Tuhan yang terbentang.
| Author : Repyssa Photo credit : Kak Ganda |
















