Jumat, 03 Oktober 2014

Banyuwangi, Sebuah Perjalanan Mensyukuri Nikmat Illahi -Taman Nasional Baluran-



The Sunrise of Java, julukan yang diberikan kepada Kabupaten Banyuwangi sebagai tempat pertama di Pulau Jawa yang merasakan cahaya matahari. Banyuwangi menyimpan berbagai keindahan ciptaan Illahi. Kita akan lebih mensyukuri sesuatu saat kita benar-benar menikmati langsung dengan mata kepala sendiri. Dengan waktu tiga hari kami melakukan sebuah perjalanan ke Banyuwangi untuk mencoba mensyukuri nikmat Illahi dalam balutan keindahan alam.
 
Taman Nasional Baluran
  
 
Baluran sebagai tempat pertama yang kami jelajahi. Taman Nasional Baluran merupakan salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo (sebelah Utara Banyuwangi). Taman Nasional Baluran sebagai salah satu kawasan konservasi yang di dalamnya memiliki berbagai macam flora dan fauna. Taman Nasional Baluran memiliki beberapa objek dan daya tarik wisata alam yang cukup beragam. Kombinasi daya tarik ekosistem laut, pegunungan, savana, dan keberanekaragaman jenis satwa dan tumbuhan menjadi satu dalam Taman Nasional Baluran. 

   
 
Rute Menuju Padang Savana Bekol

Taman Nasional ini merupakan destinasi yang berbeda dari taman nasional lainnya. Hamparan savanna terluas di Indonesia dapat di temukan di sini. Hutan kering, vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pegunungan, hutan rawa, dan hutan yang selalu hijau sepanjang musim (evergreen) menjadi habitat bagi berbagai macam hewan di Taman Nasional Baluran ini. 



 
Evergreen, Hutan Hijau yang tumbuh sepanjang musim




Bagi penggemar fotografi yang ingin hunting foto di Baluran, disarankan dating ke sini pada musim kemarau bulan juli-september. Pada musim kemarau air di hutan kering, rumput bewarna kuning, pohon-pohon meranggas, menjadi pemandangan layaknya di savanna Afrika. Saat musim kering ini, rusa, banteng, dan ayam hutan, monyet yang berada dalam hutan akan keluar menuju savana. Air dan kubangan disediakan di Savana Bekol untuk berkubang binatang mengurangi hawa panas kemarau. 

     
Musim Kemarau di Taman Nasional Baluran
  

Taman Nasional Baluran dapat dicapai dari pusat Banyuwangi dengan waktu tempuh 1.5 jam menuju pos perijinan Taman Nasional Baluran. Di pos perijinan Taman Nasional Baluran ini terdapat petugas yang akan menanyakan tujuan berkunjung. Taman Nasional Baluran terdiri dari beberapa wilayah dengan vegetasi yang berbeda-beda. Setelah mendapatkan ijin berkunjung kami masuk ke kawasan Taman Nasional. Jalan terjal dan bergelombang sepanjang 12 km harus kami lewati untuk mencapai padang savanna Bekol. Dalam perjalanan menuju padang Savana Bekol, di kanan dan kiri kami terdapat pohon-pohon yang kering dan meranggas, aliran sungai yang biasanya terisi air kini mongering, debu kemarau berterbangan. Terdapat beberapa tempat yang memang rawan bahaya kebakaran apabila musim kemarau datang.




 
Pos Penjagaan Gardu Pandang Bekol

Gunung Baluran dilihat dari savana Bekol

      
Nama Taman Nasional Baluran diambil dari Gunung Baluran yang berada di dekat taman tersebut. Perjalanan menuju Padang Savana Bekol tidak akan membosankan karena di sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan-pemandangan yang mengejutkan. Seperti pemandangan yang benar-benar bertolak belakang dengan keadaan kering sekelilingnya, kami sampai di wilayah dimana pohon dan rumput tetap segar bewarna hijau tidak meranggas, wilayah ini dinamakan Evergreen, hutan hijau yang akan selalu tumbuh di segala musim. Selang berapa lama kami akhirnya sampai di Padang Savana Bekol yang berjarak 12 km dari pos perijinan tadi. Dengan berlatar Gunung Baluran dan hamparan padang rumput yang mengering membuat eksotisme Taman Nasional Baluran semakin terasa.  Kami sampai pada gardu pandang pos Bekol yang sering digunakan untuk mengamati satwa di Taman Nasional Baluran ini. Dari atas gardu pandang terlihat kerbau, banteng, dan rusa yang mendekati kubangan mencari sumber air saat musim kemarau di taman nasional Baluran. 




Jalur Menuju Gardu Pandang Bekol

Gardu Pandang Bekol tempat mengamati hewan di Taman Nasional Baluran


   

Perjalanan di Taman Nasional Baluran tidak berhenti di Bekol, 3 km dari Bekol kami menemukan Pantai Bama. Pemandangan penuh monyet di bibir pantai akan ditemui di sni. Musim kemarau memaksa para monyet untuk keluar dari hutan dan migrasi menuju bibir pantai.  Pantai Bama merupakan wisata bahari dari Taman Nasional Baluran, memancing, beach walking, bird watching, pantai mangrove dan mata air alami ada di Pantai Bama ini
 
Pantai Bama
Kalitopo bagian dari Pantai Bama terdiri dari batu-batu besar di pinggir pantai sering dijadikan tempat untuk memancing, hati-hati dengan barang bawaan anda apabila akan bersantai di Kalitopo. Monyet-monyet nan usil akan mengincar barang bawaan anda.


Pantai Kalitopo, sering digunakan tempat untuk memancing

Manting dan lekor, masih terdapat di Pantai Bama. Manting merupakan mata air alami yang berada di dalam hutan Baluran dan setiap syawal masyarakat sekitar sering datang ke mata air ini. Sedangkan lekor merupakan kumpulan pohon-pohon bakau yang berada di tengah laut apabila kita lihat dari dalam hutan. Kedua objek ini akan ditemui apabila kita masuk ke kawasan bird watching. Burung rangkong yang paling banyak kami temui dalam kawasan Bird Watching ini.



 
Hutan Bird Watching 1

Hutan Bird Watching 2

Sumber Mata Air abadi Manting




Begitu banyak kekayaan alam yang dapat dinikmati di Taman Nasional Baluran. Nikmati alamnya, jangan ambil apapun selain gambar, jangan tinggalkan apapun selain jejak.
ehm..... ini no caption aja,  


Lekor

Tips perjalanan ke Taman Nasional Baluran:

  • Datanglah ke Taman Nasional Baluran saat musim kemarau (juli-september) dimana pohon dan rumput akan meranggas, binatang akan keluar dari hutan menuju padang savanna.
  • Tidak perlu menginap di Baluran jika hanya ingin menikmati Baluran, semua objek dapat ditempuh dalam sehari apabila menggunakan kendaraan pribadi.
  • Jaga kelestarian alam, jangan membuang sampah sembarangan, jangan menyalakan api sembarangan, jangan memarkir mobil di padang savanna.
  • Bawa mobil yang tahan terhadap jalan terjal dan bergelombang, jalan menuju padang Savana Bekol belum begitu bagus.
  •  
    Author : Repyssa A.

Kamis, 02 Oktober 2014

Banyuwangi, Sebuah Perjalanan Mensyukuri Nikmat Illahi -Green Bay (Teluk Hijau)-



Tak cukup dengan Gunung, Kawah dan Padang Savana, Banyuwangi masih menyimpan berbagai nikmat alam dari Sang Illahi untuk kami nikmati. Sebuah tempat tersembunyi di ujung Banyuwangi akan kami jelajahi. Teluk Hijau atau Green Bay terletak di Kabupaten Banyuwangi, bagian selatan Pesanggaran, Desa Sarongan. 



Teluk Hijau


Teluk Hijau masuk dalam kawasan Taman Nasional Meru Batiri.  Untuk mencapai Teluk Hijau memang membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Quote  teman saya, Bro Ganda “perjalanan ke teluk ijo itu sama kayak perjuangan buat ngedapetin cewek cantik harus sabar dan ga gampang”. Perjalanan ke Teluk Hijau terlebih  dahulu melewati Rajegwesi dan harus menggunakan mobil pribadi jeep atau mobil yang tahan dengan medan yang terjal dan berbatu, jangan sekali-kali bawah Honda Jazz atau Yaris kesini.


Jalan Komplek Sungai Lembu sebelum jalan terjal perkebunan


Dari Pusat Banyuwangi kami akan menuju Jajag, kemudian Pesanggaran dan terakhir Desa Sarongan, dimna Teluk Hijau berada. Jalan menuju Teluk Hijau searah dengan jalan menuju Pulau Merah. Pasar Pesanggaran merupakan penanda tempat yang mudah untuk menuju tempat ini, apabila sudah menemui Patung Penyu simpang empat pasar dan ambil arah yang ke Sumberagung. Setelah dari Sumberagung kami memasuki  perkebunan milik PTPN XII Perkebunan Nusantara. Di perkebunan Sungai lembu ini, kami harus meminta ijin masuk ke kawasan perkebunan mereka untuk megakses jalan menuju Desa Sarongan. Begitu kami masuk area Perkebunan Nusantara, kami disuguhi jalan yang berkelok-kelok dan di kanan kiri terdapat pembatas jalan nan cantik. Pembatas jalan yang terbuat dari tumbuhan merah berjajar rapi menyambut kami. 

 
Perkebunan Sengon tumbuh miring


Perkebunan Sungailembu adalah perkebunan dengan tanaman karet, coklat dan pohon sengon. Sepanjang perjalan kami, pohon karet dan sengon berjajar rapi seakan menunduk akan kedatangan kami (oke,,,, ini agak lebay). Sebenarnya pemandangan unik ini  disebabkan oleh penanaman karet dan sengon di daerah perbukitan sehinga tumbuhnya ke arah yang mendapat sinar matahari lebih banyak, yaitu ke arah lembah yang menurun. Setelah melewati pos perkebunan Sungailembu milik PTPN XII jalanan yang semula beraspal nan asri dengan pembatas jalan nan cantik, kemudian berubah menjadi jalan off road yang bergelombang. Perjalanan menjadi kurang nyaman, tetapi di sinilah serunya pertualangan menuju Teluk Hijau.

 
Rute Tracking menuju Teluk Hijau


Setelah melalui jalan bergelombang, kami tiba di Desa Sarongan dan lanjut ke Desa Rajegwesi yang merupakan pintu masuk Taman Nasional Meru Batiri. Tiba di pos pemeriksaan kami diharuskan membayar tiket masuk sebesar Rp 35.000 untuk lima orang dan 1 mobil. Petugas menyarankan apabila parkir di atas penuh kami diminta berjalan sepanjang 2 km atau memanfaatkan fasilitas kapal penyeberangan ke Teluk Hijau dari Pantai Rajegwesi. Biaya penyeberangan kapal tersebut sebesar Rp 25.000 per orang. Kami mengambil alternative pertama, walaupun dengan  risiko tidak mendapat parkir dan harus berjalan 2 km. Jadi untuk mencapai teluk hijau ada dua rute lewat darat (lewat Sukamande) atau lewat laut (Pantai Rajegwesi). 





Kapal dari Pantai Rajegwesi apabila lewat Jalur Laut ke Teluk Hijau
Selama perjalanan menuju Teluk Hijau kami menyusuri jalan tanah berbatu yang menurun dengan pemandangan alam yang menyegarkan. Start point menuju Teluk Hijau dinamakan Teluk Damai. Ada dua jalur tracking dari Teluk Damai ini, rute pertama menuju Goa Jepang dimana banyak bunker-bunker Jepang di bangun jaman dulu, dan ada pula ditemukan bunga bangkai di sekitar bunker tersebut. Rute kedua merupakan jalur tracking 1 km menuju Pantai Batu dan Teluk Hijau. Jalur setapak yang menurun sekan bukan menjadi halangan yang berarti apabila di kiri kami disuguhi pemandangan laut dengan tebing-tebing karang nan tinggi. Untuk mengurangi risiko kecelakaan, di bagian tertentu yang curam dan licin, dipasang tali tambang agar pengunjung yang melakukan tracking bisa berpegangan pada tali tersebut.




Teluk Hijau diihat dari jalur tracking Teluk Damai

Setelah berjalan sekitar 15 menit kami menemui bibir pantai yang memanjang dengan batuan halus diseluruh tepi pantainya. Tidak ditemukan pasir sedikitpun di pantai ini, Konon katanya dulu pantai ini berpasir, setelah terjadi bencana tsunami maka pantai ini dipenuhi batu-batu dari laut. Sungguh pemandangan yang tidak biasa dari sebuah pantai.



Pantai batu memanjang sebelum Teluk Hijau


Dari Pantai Batu, lokasi Teluk Hijau semakin dekat, karena hanya terpisah oleh tebing karang yang tinggi. Akses menuju Teluk Hijau ada di jalur kecil di balik tebing menyusuri aliran sungai dan hutan. 

 
 

Tebing yang memisahkan Pantai Batu dan Teluk Hijau



Tidak berapa lama kami mendengar deburan ombak dan woooow…. Pasir putih lembut memanjang dan melengkung berpadu dengan air laut yang hijau benar-benar membuat kami takjub. Sempat berhenti sebentar di pintu masuk Teluk Hijau, kembali mensyukuri nikmat Illahi akan indahnya ciptaan Tuhan nan Agung yang dibayangkan saja mungkin sulit, Subhanallah, Banyuwangi, sekali lagi mempesona kami dengan keindahan ciptaan Illahi nya.





Pintu Masuk Teluk Hijau

Warna air Laut yang hijau di Teluk Hijau (engggg.... aneh kalimatnya)

Terdapat Air Terjun di sisi Bukit Teluk Hijau



Teluk Hijau ini baru dibuka untuk pengunjung sekitar dua tahun yang lalu, menurut penduduk setempat. Di sini kita bisa berenang atau sekedar bermain air di pantainya, tidak jauh dari pantainya terdapat bukit kecil dan air terjun yang mengering karena kemarau yang melanda. 
Berasa milik sendiri ya, gegoleran di pantai
Sebuah pemandangan alam yang unik. Keunikan dari Teluk Hijau ini adalah air lautnya yang benar-benar jelas bewarna hijau yang berasal dari biota laut dibawahnya. Perlu diketahui, waktu berkunjung ke Teluk Hijau hanya sampai jam 5 sore. Tidak diperkenankan untuk camping demi menjaga kelestarian alam teluk hijau. Sekali lagi, ada banyak cara bersyukur atas nikmat illahi dengan tidak ingin menikmatinya terlalu berlebihan sehingga yang timbul adalah ketiadaan.



Author : Repyssa. A


All Photo Credit by : Depecelebes Brotherhood

Banyuwangi, Sebuah Perjalanan Mensyukuri Nikmat Illahi -Kawah Ijen-



Banyuwangi, Ujung Timur Jawa yang mendapat julukan The Sunrise of Java merupakan sebuah karunia illahi dengan alamnya yang mempesona. Banyuwangi sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, yang berbatasan dengan Kabupaten Situbondo, Kabupaten Jember dan Selat Bali ternyata mempunyai pemandangan alam yang lengkap, mulai dari Gunung, Kawah, Pulau, Pantai, Teluk, Padang Savana, Hutan Lindung, Perkebunan nan Cantik, Air terjun semua ada di Kabupaten ini. 

 
 
Suasana Sunrise Kawah Ijen



Saya berkesempatan untuk membuktikan kecantikan dari The Sunrise of Java dalam 3 hari. Dengan menyusun jadwal perjalanan yang padat ingin sekedar melepas penat dari kesibukan sehari-hari. Gunung, Kawah, Air Terjun, Perkebunan, Pulau, Pantai dan Teluk ingin dijelajahi dalam tiga hari. 

 
Tepi Kawah Ijen 1

Tepi Kawah Ijen 2




Kawah Ijen

Kawah ijen merupakan danau kawah yang bersifat asam yang berada di Puncak Gunung Ijen dengan ketinggian sekitar 2000an meter. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Kawah ijen merupakan perbatasan antara Banyuwangi, Situbondo dan  Bondowoso. Untuk mencapai puncak dari kawah Ijen kita harus mendaki sepanjang 3 km dengan waktu tempuh 1,5 – 2 jam. Bertempat di Dusun Bayusari, Kawah Ijen dapat didaki melalui starting point pendakian Paltuding yang merupakan pos PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam).


 
Jalur Pendakian dari Pos Paltuding



Di kawasan kawah ijen ini terdapat pertambangan belerang, mengindikasikan kawah ini masih aktif dan beraktivitas. Kawah Ijen merupakan pusat danau kawah besar yang memproduksi belerang dan bisa membahayakan pengunjung apabila menghisapnya terlalu lama. Kawah yang berbahaya ini memiliki keindahan yang sangat luar biasa, danau belerang berwarna hijau toska berpadu dengan warna kaldera yang terang menjadikan keindahan nan elok dari kawah ijen tersebut. 


 
Penambang Belerang Kawah Ijen

 
Penambang Belerang mampu membawa 50 kg belerang sekali angkut

Pendakian ke puncak Kawah Ijen dapat dilakukan dengan dua macam rute, melaui Situbondo menuju Sempol Bondowoso atau dari Kabupaten Banyuwangi menuju Licin kemudian Pos Paltuding. Medan yang curam berpasir dan kabut asap belerang yang pekat  menjadi tantangan tersendiri untuk mencapai suatu fenomena alam yang tidak ditemukan di kawah-kawah lainnya, fenomena blue fire yang hanya muncul pada dini hari ketika matahari belum terbit. Konon blue fire hanya ada dua di dunia, yang pertama di Iceland dan yang kedua berada di Kawah Ijen ini. 



 
Salah Kostum Saat Pendakian berakibat Kedinginan di Puncak Ijen

Kawah ijen merupakan destinasi kedua kami setelah Padang Savana Bekol, Baluran. Berpijak pada rencana awal kami memilih menginap di pusat kota Banyuwangi daripada menginap di dekat pos pendakian dengan pertimbangan cuaca dingin. Sebenarnya ada penginapan yang dikelola oleh BUSDA yang dipersiapkan untuk para pendaki dini hari Kawah Ijen. Pilihan  menginap di Penginapan Baru Jalan MT.Haryono Banyuwangi dekat Taman Blambangan mendatangkan konsekuensi kami harus berangkat lebih awal pukul 23.00 dengan perkiraan waktu tempuh ke pos paltuding paling lama 2 jam. 



 
Gunung Ijen View,  Model : Bro Ganda





Perjalanan dari penginapan ke Pos Pendakian Paltuding ditempuh 1,5 jam karena jalanan kosong dan kondisi jalan yang mulus memperlancar perjalanan kami. Rute yang kami lalui merupakan rute yang sering dijadikan event sepeda international Tour De Ijen. Jalanan berkelok dan terdapat palang peringatan “Hati-hati Rawan Longsor” menandakan kami sudah mencapai curah macan, dekat dengan Cagar Alam Wisata Ijen. Kami tiba di Pos Paltuding pukul 00.30 dan sudah ada beberapa mobil jeep yang terpakir di depan pos penjagaan. Sebelum melakukan pendakian kami melapor ke Pos Perijinan dan membayar retribusi sebesar Rp 35.000 untuk 6 orang dan parkir mobil. Keputusan yang tepat untuk menginap di pusat kota dibandingkan menginap di sekitar pos paltuding yang dinginnya menusuk tulang.



 
Jalur rawan longsor menuju Kawah Ijen



 
Pendakian dimulai pukul 01.00 dengan berbekal pakaian tebal yang lebih mirip outfit jalan ke mall daripada melakukan pendakian (kata Bli’ Cenong) dan senter kecil pake banget milik Bro Ganda, kami berenam mendaki pelan-pelan seperti opa oma yang berjalan dengaqn penih pengharapan. Perjalanan pertama sekitar 1 km dengan medan yang lumayan menanjak masih mampu kami lewati. Udara dingin menusuk dan kanan kiri gelap yang membuat kami harus ekstra hati-hati karena bersampingan dengan jurang dan kondisi jalan yang berpasir. Derajat curam 1 km pertama sekitar 40 derajat dan membuat badan kita berkeringat walaupun dingin menyerang dan bau belerang yang mulai tercium. 1 km kedua tingkat kemiringan pendakian mulai bertambah sampai dengan 80 derajat dan semakin berkelok ditambah licinnya jalan berpasir membuat salah satu teman kami hampir menyerah karena terlalu berat mengangkat beban hidupnya…. mungkin…. (cup…. Diet cup). 




 
Kawah Ijen 06.00 tertutup Kabut :(






Dengan iming-iming jalan datar sebentar lagi akhirnya dia mampu melanjutkan perjalanan sampai dengan Pos Bunder. Saat siang hari Pos Bunder menjadi pos penimbangan batu belerang yang dipanen oleh petani Belerang. Per kilonya dihargai Rp 900, tidak sebanding dengan perjuangan mereka yang harus mendaki dan turun lewati dinding curam.
Di pos Bunder terdapat tulisan PT. Candi Ngrimbi, yang merupakan perusahaan satu-satunya yang mengelola penambangan belerang di Gunung Ijen. Para penambang belerang menjual hasil tambangnya kepada PT. Candi Ngrimbi yang kemudian akan diolah menjadi obat dan kosmetik. Para penambang belerang berusaha meningkatkan penghasilannya dengan mencetak bongkahan belerang dan menjualnya ke wisatawan dengan harga lebih mahal. Selain itu, apabila ada wisatawan yang ingin mengambil gambar si penambang belerang maka paling tidak harus memberikan komepensasi uang kepada mereka. Menurut saya itu cukup fair, anggap saja mereka sebuah model dari foto kita yang mungkin saja kita komersilkan nantinya.

 
 
 
Berasa FTV lihat Foto ini,



Setelah melewati Pos Bunder, medan pendakian mulai bersahabat, tidak terlalu curam seperti awal pendakian. Ditemani para penambang belerang yang berangkat dini hari untuk mengambil bongkahan-bongkahan belerang di dekat kaldera Ijen yang sehari mereka dapat mengambil 50-75 kg sekali jalan kami merasa bersemangat untuk segera sampai di puncak kawah Ijen, malu sama bapak-bapak penambang belerang yang sudah “sepuh”. Kata Bli’ Cenong “Laki itu mampu mendaki kawah Ijen”. Kabut Asap belerang mulai turun dan bau menyengat menusuk hidung masih bisa ditolerir dengan perlindungan masker tipis Indomaret pemberian Wuyung (lain kali masker anti fog yang kayak tim SAR ya yung bawanya….. ) kami berjalan ke atas serasa tidak ada batas. Mata pedih akibat asap belerang sempat membuat kami berhenti di beberapa titik menunggu rombongan pendaki yang lain datang. Setidaknya kalau berjalan ramai-ramai kami seakan mempunyai teman seperjuangan (Ini Bro bro banget… ).

 
Depecelebes Brotherhood di Puncak Kawah Ijen
 

Pukul 03.00 kami sudah mencapai puncak Kawah Ijen, langit masih gelap kami tidak dapat melihat apapun, kanan kiri gelap dan hanya senter kecil pake banget milik Bro Ganda yang menerangi jalan kami. Perjalanan belum selesai, untuk melihat Blue Fire yang katanya hanya ada dua di Dunia ini, kami harus turun ke daerah penambangan belerang dengan medan curam dan jalan yang tersusun dari batu (kebayang batu nya longsor dan jatuh berguling-guling plung,,,,,, Astagfirullah).   Jalan berbatu curam menurun nan berkelok harus kami lalui apabila ingin melihat fenomena alam blue fire. Dan sesampainya di bawah,,,, hanya Subhanallah begitu Besar Kuasa Tuhan dan segala nikmat illahi, sebuah pemandangan menakjubkan, Api Biru nan besar menari-nari di antara kabut asap belerang seakan bersembunyi dari keramaian wisatawan yang dating.
 
 
Lelah pendakian Ijen akan terlupakan apabila melihat ini
 
Pemandangan ciptaan Illahi tersebut kami nikmati dengan hening tanpa peduli tenggorokan mulai kering akibat berjalan jauh. Seakan blue fire yang bergoyang di depan kami memberikan kesejukan di kerongkongan. Untuk mengambil gambar blue fire Kawah Ijen tidaklah mudah, yang tertangkap kamera hanya hitam dan titik biru…. Memang lensa terbaik di dunia adalah mata kita sebuah nikmat Illahi yang tak terbeli.




Lensa terbaik adalah mata kita, iya ini narsissss...

Tips mendaki kawah Ijen (berdarkan pengalaman)
  • Bawalah perlengkapan mendaki mulai dari outfit pendakian (sarung tangan, sepatu/sandal gunung, jaket tebal, masker, kacamata untuk menghindari perihnya asap belerang)
  • Pos Paltuding Pendakian Kawah Ijen 07.30
  • Bawa bekal secukupnya, makanan dan minuman, senter besar…. iya harus yang besar cahayanya buka senter powerbank seperti yang kami pakai (leason learned)
  • Bagi yang tidak kuat dingin, disarankan menginap di Kota Banyuwangi saja sebelum pendakian, hemat energi tetapi harus bangun lebih pagi minimal jam 11 malam sudah berangkat ke Pos Paltuding.
  • Konsisten dalam berjalan seperti  konsisten dalam membina hubungan (eh,.,,.. maksudnya agar tidak mudah capek saat mendaki) medan curam dan berpasir kadang menyulitkan bagi pendaki pemula seperti kami
  • Saat mata terasa perih dan asap belerang pekat mulai masuk ke penarpasan, jangan dipaksakan untuk berjalan, lebih baik istirahat.
  • Author: Repyssa A. 





    All Photo Credit by : Depecelebes Brotherhood