Minggu, 07 September 2014

Bedog Art Festival VI , Seni dalam Panggung Alam Dunia Dongeng






Memasuki kali keenam Bedog Art Festival digelar kembali di Studio Banjarmili Yogyakarta. Selama dua hari 5 sampai dengan 6 September 2014, Perfomance Art Bedog Festival ini diselenggarakan atas gagasan Miroto, GKR Pambayun dan Garin Nugroho. Dengan mengambil setting sungai bedog yang berada di Dusun Kradenan, Banyuraden, Gamping, Sleman, pihak panitia mencoba mengangkat keunikan “Art Space” yang memanfaatkan posisi sungai Bedog yang merupakan jalur vertikal dari Gunung Merapi menuju Pantai Laut Selatan, di barat Kota Yogyakarta.



Bedog Art Festival merupakan perhelatan seni yang dimulai sejak tahun 2007 dan  bertempat di Studio Banjarmili asuhan Miroto dekat dengan sungai Bedog sehingga dinamakan Bedog Art Festival. Bedog Art Festival menampilkan seni tari, musik, teater, seni lighting yang berasal dari dalam dan luar negeri. Dalam Bedog Art Festival kali ini, peserta luar negeri berasal dari Australia, Korea, New Zealand dan peserta dalam negeri berasal dari Yogyakarta, Lampung, Bali, Pacitan, Surakarta dan Bandung. Beragam kreativitas ditampilkan dalam Bedog Art Festival kali ini dengan menfaatkan keunikan art space Sungai Bedog di Studio Banjarmili Yogyakarta.


Stage Bedog Art Festival VI
Ratusan seniman dari dalam dan luar negeri  mengekspresikan kreativitasnya di alam seputar aliran Sungai Bedog. Atas jembatan, pohon, sungai, tebing, hingga kolam air menjadi media berekspresi para seniman ini. Ratusan “senthir” (istilah bahasa jawa untuk pelita) menghiasi panggung Bedog Art Festival kali ini. Tata panggung yang diluar dari biasa dan sangat unik disuguhkan dalam pementasan kali ini. Memanfaatkan topografi dari sungai bedog dibalut dengan kreativitas Studio Banjarmili asuhan Miroto, berhasil menyulap sungai bedog menjadi panggung seperti di dunia dongeng.

Seniman Asal Lampung Ayu Permata Sari



Banyak pijar cahaya disekeliling pohon dan tebing, gemericik air sungai yang mengalir di bawah panggung, dua jembatan yang sekaligus berfungsi sebagai panggung alam, kolam air mancur dengan bambu, pohon besar yang diikat dengan tali-tali ekstentrik dan tata cahaya yang apik sukses menjadikan Bedog Art Festival menjadi sebuah panggung dongeng. Apabila susah untuk membayangkan bagaimana menakjubkan dan indahnya Sungai Bedog dengan ratusan pijar cahaya dan kolam airnya, hampir sama dengan tempat tinggal para Elf di Lord of The Rings, Rivendell. Rivendell tempat tinggal Lord Elrond dan Arwen, sebuah tempat dengan banyak air terjun, pohon, cahaya dan suara gemericik air, nah seperti itulah gambaran panggung Bedog Art Festival dalam versi mini.

Weizhen Ho (australia)


Mike Hornblow (Selandia Baru) memanfaatkan media sungai

Penggagas Bedog Arts Festival, selain Miroto juga GKR Pembayun dan Garin Nugroho memberikan wadah dialog tari  yang berbeda menggunakan sungai sebagai tempat aktivitasnya. Hal ini bertujuan untuk mendekatkan manusia dengan alamnya. Banyak seniman-seniman yang tampil di Bedog Art Festival VI ini mengambil tema alam, seperti Mike Hornblow dari New Zealeand dengan art act nya archipelago, yang diakhir pertunjukannya menceburkan diri di sungai bedog. Tak berhenti disitu, tema alam juga diangkat oleh seniman korea, Nam Jeongho Dance Company dalam tarian berjudul  Just Body. Kepedulian terhadap lingkungan juga dilihatkan dengan penanaman bibit lele di Sungai Bedog saat acara penutupan Bedog Art Festival. 

Paco Yogyakarta dalam Ritual Sinden Jawa



Saat keseimbangan alam dan manusia tercapai melalui seni, akan terwujud suatu pertunjukkan yang indah, hanya sedikit cahaya artificial, lebih mengandalkan pijar “senthir”, sound tari juga lebih banyak menggunakan mulut atau alat tradisional. Kesederhanaan menyeimbangkan dengan suara alam  yang dilakukan oleh seniman asal Lampung, Ayu Permata Sari. Dengan beberapa penari wanitanya mengenakan kostum putih muncul dari tebing dan balik pohon sambil mengeluarkan suara-suara dari mulut mereka, berhasil memancing rasa penasaran penonton. Gerakan energik yang hanya diiringi suara-suara khas wanita bahkan tak jarang lenguhan menjadi hal unik dalam pertunjukan mereka.

Penampilan Musik Sunda oleh Deden Trisnawan Bandung


Pertunjukkan minim suara elektronik juga ditampilkan oleh Weizhen Hoe berasal dari Australia, dengan ekspresi kesakitan dan suara-suara peluit disertai gemericik air Sungai Bedog memberikan kesan mistis dalam pertunjukkan mereka.
Bedog Art Festival merupakan bentuk nyata kepedulian seni pada lingkungan terutama sungai sebagai sumber kehidupan di lingkungan masyarakat Dusun Kradenan. Pada malam pertama tanggal 5 September 2014, Bedog Art Festival menampilkan:
Syalawatan oleh Cokrobedog
CIO  Indonesia Arts Culture (Lumajang)
Yoka Yones (Australia)
I Putu Bagus Bang sada (Bali)
Janette Hoe (Australia)
Mugi Dance ft Jin Hi Kim (Solo-Korea)
Alam Schacher (Australia)
Pradapa Loka Bhakti (Pacitan)



Malam kedua hari Sabtu, 6 September Bedog Art Festival berhasil menyedot penonton lebih banyak sehingga banyak penonton yang tidak kebagian tempat duduk dan harus berdiri menikmati pertunjukkan. Pemandangan kerlap kerlip cahaya pijar dari kejauhan Sungai Bedog menjadi daya pikat tersendiri sehingga mengundang banyak penonton dan penikmat seni yang ingin merasakan pertujunkkan seni dalam alam terbuka di atas aliran sungai  dengan setting hutan bak dunia dongeng. Adapaun penampil dalam malam kedua adalah :
Ayu Permata Sari (Lampung)
Weizhen Ho (Australia)
Just Body (Korea)
Mike Hornblow (Selandia Baru)
Maharani, Imin, Dhanny, (Solo)
Paco (Yogyakarta) dan yang terakhir Deden Trisnawan (Bandung).


Acara Penutupan Bedog Art Festival
Di akhir acara Bedog Art Festival VI, Miroto selaku Direktur BAF menyampaikan beberapa penghargaan kepada beberapa seniman yang dulu telah tampil di Bedog Art Festival sebelumnya. Seniman asal Yogyakarta dengan menampilkan Acapela Mataraman musik Cangkem, Pardiman Joyonegoro mendapat penghargaan dari Bedog Art Festival. Pardiman Joyonegoro membawakan persembahan musik acapela dengan judul Uler Kambang Jengleng. Satu lagi seniman asal Pacitan, Desi yang bertindak sebagai koreografer Songkrek mendapat penghargaan serupa di Bedog Art Festival kali ini. Songkrek dibawakan oleh Pradapa Lokabakti.




Kerlip kerlip Senthir Bedog Art Festival
Daya tarik Bedog Art Festival dengan keunikan art stage yang lain daripada yang lain, Sungai Bedog dengan ratusan pijar "senthir" dan gemericik aliran air menambah megah dan apiknya pementasan seni di Studio Banjarmili ini. Sudah saatnya seni berpadu dengan alam mewujudkan suatu keharmonisan yang indah untuk dinikmati. Terima kasih Studio Banjarmili atas Bedog Art Festival yang menakjubkan. 









Untuk melihat apiknya pertunjukan para seniman dalam dan luar negeri di Bedog Art Festival VI kali ini, berikut ada cuplikan aksi mereka : 
Repyssa A.












Selasa, 02 September 2014

Candi Umbul, Patirtan Pemandian Candi Kuno

Belum banyak terdengar di masyarakat Magelang, apalagi wisatawan yang berasal dari luar  Magelang. Terdapat pemandian air panas Candi Umbul yang terletak di Desa Kertoharjo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Magelang yang beriklim sejuk dan merupakan titik tengah Pulau Jawa dikelilingi lima gunung, mempunyai banyak situs warisan peninggalan Dinasti Syailendra. Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Pawon merupakan situs-situs peninggalan kerajaan yang terletak di Magelang bagian selatan. Di wilayah utara, arah jalan Semarang, ditemukan juga Candi Umbul yang terletak di tengah-tengah sawah.


Pemandian Candi Umbul

 Yang menjadi daya tarik dari candi umbul ini adalah pemandian air hangat yang muncul dari dalam tanah. Konon air dari dalam tanah ini tidak akan pernah habis. Air yang keluar berhawa hangat dan muncul disela-sela batu yang berada di bak patirtan pemandian candi umbul. Mengapa dinamakan candi umbul? Karena dari dalam tanah terdapat mata air yang berbentuk gelembung “mumbul-mumbul” ke permukaan bak pemandian. 

Gelembung Candi Umbul yang mumbul-mumbul (asal mula nama Candi Umbul)


Mumbul bahasa Jawa dapat diartikan naik ke atas, maka tersebutlah Candi Umbul. Masyarakat di sekitar percaya bahwa dengan mandi di pemandian Candi Umbul dapat mengobati penyakit kulit dan mengurangi rasa lelah. Agak unik memang, biasanya pemandian air panas terletak dekat dengan gunung berapi atau ada sumber belerang bekas gunung berapi. Lain halnya dengan Candi Umbul ini, terletak di perkampungan Desa Kertoharjo dan dikelilingi oleh sawah yang terhampar hijau.


Jalan Menuju Candi Umbul

Untuk mencapai pemandian air panas Candi Umbul pun kita akan melewati hamparan sawah yang hijau dan tertata rapi, menambah sejuk pandangan mata. Lokasi ini dapat dicapai dari arah Semarang dapat melewati  Jalan Magelang-Semarang dan berbelok ke pertigaan Grabag. Dari pertigaan Grabag lurus terus sampai ada palang Candi Umbul yang berjarak 4,2 km. Jalannya sudah mulus dan memang agak naik medannya, tapi perasaan lelah tidak akan terasa kalau di kanan kiri disuguhkan pemandangan hijau an sejuk sawah yang tersusun rapi.

Sisa relief di Candi Umbul

Candi umbul mempunyai dua kolam pemandian, kolam pertama airnya hangat dan terdapat gelembung-gelembung air dari dalam tanah, sedangkan kolam kedua merupakan aliran dari kolam pertama. Gelelmbung ini mirip air yang sedang mendidih, tapi pemandian ini pas suhunya dengan kulit kita hangat dan menenangkan. Apabila dilihat dari ornamen candi yang ada disekitar pemandian, hanya tinggal sedikit atau tidak banyak ciri yang tersisa dari Candi Umbul sebagai peninggalan Dinasti Syailendra. Bagi orang awam, ciri-ciri sebagai penanda sebuah candi kuno barangkali sangat tersamar dan hampir tidak terlihat dijumpai di Candi Umbul. Pihak pengelola Candi Umbul untuk memberikan kesan kental situs peninggalan kerajaan, di sisi kanan dan kiri pintu masuk menuju sisi tengah patirtan kolam pemandian dibangun sepasang tugu batu hitam yang berdiri kokoh. Tidak banyak relief atau ukiran di kedua tugu tersebut, tapi kehadirannya menghadirkan kesan memasuki candi kuno yang dilengkapi patirtan pemandian air hangat.

Cungkup Batu Kecil sisa-sisa Candi Kuno

Lurus dengan kedua tugu batu hitam, dijumpai beberapa anak tangga yang menurun mengantarkan para wisatawan untuk berendam di pemandian air panas Candi Umbul. Di kanan kiri anak tangga masih tersisa relief khas dinasti syailendra yang hamper sama dengan relief  Candi Borobudur.  Berhadapan dengan anak tangga, terdapat cungkup batu kecil yang masih terjaga bentuknya di tepi bak pemandian. Dari arsitekturnya menandakan arsitektur Hindu seperti tempat menyimpan sesaji.

Kompleks Candi Umbul di tengah sawah


Berbeda dengan Candi Bodobudur dan Candi Prambanan, harga tiket masuk Candi Umbul terbilang lebih murah, hanya dengan mengeluarkan uang Rp 3.000 (dewasa) dan Rp 2.000 (anak-anak) kita sudah dapat berendam di air hangat dengan nuansa candi hindu kuno yang dikelilingi pemandangan sawah nan hijau. 



Dua tugu hasil Renovasi di Candi Umbul 


Sebuah suasana yang tidak mudah didapatkan diperkotaan. Candi Umbul merupakan alternatif liburan di Magelang yang masih mengangkat situs peninggalan sejarah masa lampau sebagai daya pikat. Silakan yang mau “ciblon-ciblon anget” di Candi Umbul disarankan datang waktu pagi hari atau sore hari, sensansi berendamnya lebih terasa.  




Repyssa A. 




Dieng Culture Festival 2014

Saat kebudayaan masyarakat lokal mulai dilestarikan dengan baik dan dikelola untuk tujuan pariwisata, hal ini akan mendatangkan multiflier efek untuk penduduk sekitarnya. Dieng Culture Festival 2014, digelar kali kelima dengan tambahan-tambahan acara yang berbeda di tahun sebelumnya. Dieng Culture Festival digelar di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara pada tanggal 30-31 Agustus 2014. Acara ini digagas oleh Pokdarwis Dieng Pandawa, Kelompok Sadar Wisata Dieng yang bekerja sama dengan Disbudpar Banjarnegara.

Acara Utama Dieng Culture Festival V

Acara Dieng Culture Festival 2014, terpusat di komplek Candi Arjuna, yang berada di Desa Wisata Dieng Kulon. Multiflier efek yang ditimbulkan dengan adanya Dieng Culture Festival sangat membantu  masyarakat dieng, mulai dari menggerakan roda perekonomian lokal melalui industri kreatif, kuliner, jasa homestay, parkir, jasa guide, retribusi daerah, dan penghasilan-penghasilan tersamar lainnya bagi penduduk Dieng Kulon maupun Dieng Wetan. Keistimewaan Dieng Culture Festival adalah kerukunan yang diciptakan untuk menjadikan upacara pemotongan rambut gimbal yang dahulunya dilakukan secara individual kekeluargaan dengan biaya orang tua anak gimbal untuk mendanai semua kelengkapan upacara adatnya, namun dengan adanya event ini, biaya-biaya tersebut dapat ditanggung bersama karena diadakan secara masal dan menjadi daya tarik wisata yang berimbas positif bagi penduduk Dieng.


Sekretariat Dieng Culture Festival V di Camping Zone

Dieng Culture Festival 2014 merupakan perpaduan antara budaya daerah, potensi wisata alam, dan pemberdayaan masyarakat lokal untuk menyajikan suatu event yang unik dibanding festival-festival kebudayaan lainnya. Acara utama Dieng Culture Festival 2014 adalah Ruwatan / Pemotongan Rambut Bocah Gimbal Dieng, dan acara pendukung lainnya seperti Kirab Budaya, Screening Film Dieng, gelar budaya tradisional (Rampak Yakso, Tari topeng, Warok), Pagelaran wayang kulit, Sky Lantern Party (penerbangan lampion dan kembang api), pameran produk kreatif bahkan Festival Jazz Atas Awan pun ikut memeriahkan Dieng Culture Festival 2014 kali ini.


Ruwatan Pencukuran Rambut Gimbal di depan Candi Arjuna


Ruwatan Pencukuran Rambut Gimbal Dieng
Ruwatan merupakan prosesi penyucian yang sudah sangat lekat dengan kebudayan Jawa. Ruwatan Pencukuran Rambut Gimbel kurang lebih sama dengan ruwatan jawa lainnya bertujuan mengusir nasib buruk atau ritual menjauhkan kesialan baik bagi si bocah rambut gimbal maupun masyarakat Dieng. Bocah rambut gimbal merupakan fenomena unik, dimana anak-anak tertentu tumbuh rambut gimbal secara alami. Masyarakat Dataran Tinggi Dieng percaya bahwa anal-anak rambut gimbal merupakan titipan Kyai Kolo Dete. Kyai Kolo Dete merupakan Punggawa di masa Mataram Islam yang ditugaskan untuk membangun pemerintahan di wilayah Dataran Tinggi Dieng (untuk belajar sejarah kerajaan mataram dengan cara asyik, bias dilihatdi sini). Sesampainya di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Kolo Dete bersama istrinya Nini Roro Rence mendapat wahyu dari Ratu Pantai Selatan bahwa mereka ditugaskan untuk membawa Masyarakat Dieng ke kesejahteraan. Tolak ukur kesejahteraan masyarakat Dieng dengan keberadaan anak-anak berambut gimbal, sejak saat itulah muncul anak-anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng.


Kawah Sikidang, Napak Tilas Sebelum Cukuran


Sehari sebelum diadakan Ritual Ruwatan, terlebih dahulu dilakukan prosesi Napak Tilas yang dipimpin oleh sesepuh pemangku adat serta sejumlah tokoh menuju beberapa tempat yaitu: Candi Dwarawati, Komplek Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, Candi Bima, Telaga Balaikambang, Kawah Sikidang, Komplek Pertapaan Sendang Maerokoco, Mandalasari, Kali Pepek dan komplek pemakaman Dieng. Di tempat-tempat tersebut dilakukan ritual do’a kepada Yang Maha Kuasa agar prosesi Ruwatan Rambut Gimbal dapat berlangsung lancar.

Darmasala. lokasi jamasan anak gimbal
Prosesi pencukuran rambut gimbal didahului dengan kirab budaya yang terdiri dari pengawal utama, dua orang pembawa dupa, para pembawa tombak, para pembawa permintaan (sesaji dan Ubo Rampe) Anak gimbal berbaju putih. Kemudian anak gimbal akan dilakukan upacara jamasan di Utara Sendang Maerokoco, utara Darmasala Kompleks Candi Arjuna. Jamasan adalah ritual mencuci rambut gimbal oleh sesepuh dengan kembang tujuh rupa dan 7 mata air yang ada di daerah Dieng. Setelah dilakukan jamasan, anak gimbal dikawal ke tempat pencukuran dan prosesi dimulai dengan didampingi tokoh masyarakat dan sesepuh. Pencukuran dilakukan di depan Candi Arjuna, dan barang permintaan sang anak gimbal pun dibawa ke area pencukuran.


Kompleks Candi Arjuna, tempat ritual cukuran rambut gimbal

Waktu itu anak berambut gimbal mempunyai permintaan sepeda warna pink, apel merah, es lilin warna ungu dan doa selamat dan bahagia di hidupnya. Masing-masing anak mempunyai permintaan yang berbeda-beda sebelum dilakukan pencukuran dan permintaan ini harus dipenuhi demi kesehatan sang anak. Tak jauh dari tempat prosesi pencukuran dilakukan adat Ngalap Berkah yang dipercaya dapat mendatangkan kemakmuran apabila berhasil mengambil tumpeng dan makanan yang disusun rapi secara berebutan.



Telaga Warna, tempat melarung rambut gimbal

Setelah dilakukan pencukuran, kemudian rambut gimbal tersebut akan dilarung ke Telaga Warna. Tradisi ini dilakukan secara turun-temurun dan dimulai karena permintaan atas anak itu sendiri untuk mencukur rambut gimbalnya. Apabila rambut gimbal dicukur tanpa permintaan anak dan tanpa ruwatan, maka rambut gimbal akan tumbuh lagi dan kesehatan anak tersebut akan terganggu.


Jazz atas awan, jauh banget dapet posisinya jadi ga oke dapet fotonya


Selain acara utama Ruwaatan Pencukuran Rambut Gimbal, adapula Jazz atas Awan dengan menampilkan 14 group jazz, diantaranya  R & The Groove, Pandawa Jazz, Lune Accoustic, Dawai, Mosya, Absurdnation, Sounday, Gubuk Poci, Japra, SummerHouse Project, SNF, Jess Kidding, 4 U Feat Jam, Band of BPD Jateng. Jazz atas awan diselenggarakan di kompleks Candi Arjuna hari Sabtu Malam 30 Agustus 2014 setelah acara Sky Latern Party di Lapangan Pandawa. Dinamakan Jazz Atas Awan karena Dieng yang menjadi tempat terselenggaranya acara ini sering mendapat julukan negeri atas awan. Dieng yang terletak di dataran tinggi dengan pemandangan yang mempesona memang pantas mendapat sebutan negeri  atas  awan. Para penonton jazz atas awan duduk bersahaja bersama menikmati alunan musik jazz dengan menikmati jagung bakar dan dinginnya udara dieng. Perpaduan yang pas yang disajikan di Dieng Culture Festival.

Sky Latern Party, penerbangan Lampion



Buat yang mau  camping siap2 membeku
Selain itu, diselenggarakan pula pagelaran Wayang Kulit Pakeliran Ringkes pada sabtu sorenya di lapangan pandawa. DCF 2014 kali ini menambahkan agenda Sky Latern Party yang berupa penerbangan 3000 lampion dan pesta kembang api oleh peserta DCF 2014. Ribuan Lampion diterbangkan bersama di lapangan Pandawa menghiasi langit Dieng mencoba menghangatkan dinginnya udara Dieng pada malam hari. Acara semakin semarak dengan banyaknya lampion yang terbang dan ditambah letupan-letupan kembang api yang mewarnai langit Dieng. Tak jauh dari lapangan tempat Sky Latern Party, terdengar gending jawa yang mengiringi para Warok menari sampai malam. Konon para Warok ini sering dimasuki arwah hingga kesurupan. Dieng Culture Festival 2014 berhasil memadu padankan antara pesona wisata alam dieng, kebudayaan adat daerah, dan kebersamaan masyarakat Dieng.

Camping Zone Dieng di Lapangan Pandawa


Saran Bagi Panitia DCF
Hanya ada beberapa sedikit catatan saran untuk penyelenggarana Dieng Culture Festival tahun mendatang, fasilitas parkir harus lebih ditertibkan agar jalan menuju dan keluar kawasan desa wisata Dieng dapat berjalan lancar. Kemudian penertiban cara masuk ke lokasi pencukuran rambut gimbal juga akan lebih baik kalo dirubah sehingga antrian tidak terlalu panjang. Untuk fasilitas-fasilitas lainnya  seperti penginapan dipersiapkan sematang mungkin dengan memperhitungkan banyaknya wisatawan yang akan ke Dieng untuk menyaksikan acara ini. Pihak panitia memfasilitasi wisatawan yang hendak menginap untuk menikmati acara ini tetapi kehabisan homestay karena jumlah pengunjung yang hadir mencapai 15.000 orang (dari tiket DCF yang terjual) dengan menyediakan camping ground di lapangan pandawa dekat komplek candi arjuna. Para pengunjung dapat mendirikan tenda di area tersebut setelah melakukan pemesanan terlebih dahulu ke panitia, tenda pun disediakan oleh panitia apabila diperlukan, dengan catatan telah melakukan reservasi terlebih dahulu. Camping ground dilengkapi dengan mushola, MCK, api unggun, Coffee Corner, secretariat loker dan lain sebagainya.
Camping Zone


Tips Bagi Wisatawan DCF
Ada beberapa tips untuk wisatawan yang ingin menyaksikan Dieng Culture Festival tahun depan, segeralah reservasi tiket DCF 2015 begitu sudah dibuka di (www.dieng.co)  karena banyaknya permintaan sering kali tiket habis, kemudian bagi yang tidak tahan dingin, lebih baik reservasi home stay setelah mendapat tiket DCF karena apabila mendirikan tenda di Camping Ground udara Dieng dapat mencapai 0 derajat ya gambarannya embun-embun pada membeku gitu. Tips lainnya, bawa kendaraan pribadi untuk mempermudah akses dari satu objek wisata ke objek lainnya, karena jaraknya lumayan jauh, tapi ingat parkir jangan sembarangan karena akan menyebabkan macet.

Dengan Tiket DCF kamu dapet akses ke objek wisata Dieng, akses ritual , Kaos, Kain, Lampion, Jagung








Berikut sedikit cupilkan tentang Dieng Culture Festival V yang dapat saya liput :


Patut diapresiasi usaha Pokdarwis Pandawa Dieng selaku panitia penyelenggara Dieng Culture Festival 2014 untuk melestarikan budaya adat lokal yang dipadukan dengan wisata alam dieng yang mempesona. Sudah sepantasnya daya tarik wisata budaya menjadi salah satu sumber lain penggerak ekonomi masyarakat sekitar yang menimbulkan multiflier efek yang positif. 
Repyssa A.