Bedog Art Festival VI , Seni dalam Panggung Alam Dunia Dongeng






Memasuki kali keenam Bedog Art Festival digelar kembali di Studio Banjarmili Yogyakarta. Selama dua hari 5 sampai dengan 6 September 2014, Perfomance Art Bedog Festival ini diselenggarakan atas gagasan Miroto, GKR Pambayun dan Garin Nugroho. Dengan mengambil setting sungai bedog yang berada di Dusun Kradenan, Banyuraden, Gamping, Sleman, pihak panitia mencoba mengangkat keunikan “Art Space” yang memanfaatkan posisi sungai Bedog yang merupakan jalur vertikal dari Gunung Merapi menuju Pantai Laut Selatan, di barat Kota Yogyakarta.



Bedog Art Festival merupakan perhelatan seni yang dimulai sejak tahun 2007 dan  bertempat di Studio Banjarmili asuhan Miroto dekat dengan sungai Bedog sehingga dinamakan Bedog Art Festival. Bedog Art Festival menampilkan seni tari, musik, teater, seni lighting yang berasal dari dalam dan luar negeri. Dalam Bedog Art Festival kali ini, peserta luar negeri berasal dari Australia, Korea, New Zealand dan peserta dalam negeri berasal dari Yogyakarta, Lampung, Bali, Pacitan, Surakarta dan Bandung. Beragam kreativitas ditampilkan dalam Bedog Art Festival kali ini dengan menfaatkan keunikan art space Sungai Bedog di Studio Banjarmili Yogyakarta.


Stage Bedog Art Festival VI
Ratusan seniman dari dalam dan luar negeri  mengekspresikan kreativitasnya di alam seputar aliran Sungai Bedog. Atas jembatan, pohon, sungai, tebing, hingga kolam air menjadi media berekspresi para seniman ini. Ratusan “senthir” (istilah bahasa jawa untuk pelita) menghiasi panggung Bedog Art Festival kali ini. Tata panggung yang diluar dari biasa dan sangat unik disuguhkan dalam pementasan kali ini. Memanfaatkan topografi dari sungai bedog dibalut dengan kreativitas Studio Banjarmili asuhan Miroto, berhasil menyulap sungai bedog menjadi panggung seperti di dunia dongeng.

Seniman Asal Lampung Ayu Permata Sari



Banyak pijar cahaya disekeliling pohon dan tebing, gemericik air sungai yang mengalir di bawah panggung, dua jembatan yang sekaligus berfungsi sebagai panggung alam, kolam air mancur dengan bambu, pohon besar yang diikat dengan tali-tali ekstentrik dan tata cahaya yang apik sukses menjadikan Bedog Art Festival menjadi sebuah panggung dongeng. Apabila susah untuk membayangkan bagaimana menakjubkan dan indahnya Sungai Bedog dengan ratusan pijar cahaya dan kolam airnya, hampir sama dengan tempat tinggal para Elf di Lord of The Rings, Rivendell. Rivendell tempat tinggal Lord Elrond dan Arwen, sebuah tempat dengan banyak air terjun, pohon, cahaya dan suara gemericik air, nah seperti itulah gambaran panggung Bedog Art Festival dalam versi mini.

Weizhen Ho (australia)


Mike Hornblow (Selandia Baru) memanfaatkan media sungai

Penggagas Bedog Arts Festival, selain Miroto juga GKR Pembayun dan Garin Nugroho memberikan wadah dialog tari  yang berbeda menggunakan sungai sebagai tempat aktivitasnya. Hal ini bertujuan untuk mendekatkan manusia dengan alamnya. Banyak seniman-seniman yang tampil di Bedog Art Festival VI ini mengambil tema alam, seperti Mike Hornblow dari New Zealeand dengan art act nya archipelago, yang diakhir pertunjukannya menceburkan diri di sungai bedog. Tak berhenti disitu, tema alam juga diangkat oleh seniman korea, Nam Jeongho Dance Company dalam tarian berjudul  Just Body. Kepedulian terhadap lingkungan juga dilihatkan dengan penanaman bibit lele di Sungai Bedog saat acara penutupan Bedog Art Festival. 

Paco Yogyakarta dalam Ritual Sinden Jawa



Saat keseimbangan alam dan manusia tercapai melalui seni, akan terwujud suatu pertunjukkan yang indah, hanya sedikit cahaya artificial, lebih mengandalkan pijar “senthir”, sound tari juga lebih banyak menggunakan mulut atau alat tradisional. Kesederhanaan menyeimbangkan dengan suara alam  yang dilakukan oleh seniman asal Lampung, Ayu Permata Sari. Dengan beberapa penari wanitanya mengenakan kostum putih muncul dari tebing dan balik pohon sambil mengeluarkan suara-suara dari mulut mereka, berhasil memancing rasa penasaran penonton. Gerakan energik yang hanya diiringi suara-suara khas wanita bahkan tak jarang lenguhan menjadi hal unik dalam pertunjukan mereka.

Penampilan Musik Sunda oleh Deden Trisnawan Bandung


Pertunjukkan minim suara elektronik juga ditampilkan oleh Weizhen Hoe berasal dari Australia, dengan ekspresi kesakitan dan suara-suara peluit disertai gemericik air Sungai Bedog memberikan kesan mistis dalam pertunjukkan mereka.
Bedog Art Festival merupakan bentuk nyata kepedulian seni pada lingkungan terutama sungai sebagai sumber kehidupan di lingkungan masyarakat Dusun Kradenan. Pada malam pertama tanggal 5 September 2014, Bedog Art Festival menampilkan:
Syalawatan oleh Cokrobedog
CIO  Indonesia Arts Culture (Lumajang)
Yoka Yones (Australia)
I Putu Bagus Bang sada (Bali)
Janette Hoe (Australia)
Mugi Dance ft Jin Hi Kim (Solo-Korea)
Alam Schacher (Australia)
Pradapa Loka Bhakti (Pacitan)



Malam kedua hari Sabtu, 6 September Bedog Art Festival berhasil menyedot penonton lebih banyak sehingga banyak penonton yang tidak kebagian tempat duduk dan harus berdiri menikmati pertunjukkan. Pemandangan kerlap kerlip cahaya pijar dari kejauhan Sungai Bedog menjadi daya pikat tersendiri sehingga mengundang banyak penonton dan penikmat seni yang ingin merasakan pertujunkkan seni dalam alam terbuka di atas aliran sungai  dengan setting hutan bak dunia dongeng. Adapaun penampil dalam malam kedua adalah :
Ayu Permata Sari (Lampung)
Weizhen Ho (Australia)
Just Body (Korea)
Mike Hornblow (Selandia Baru)
Maharani, Imin, Dhanny, (Solo)
Paco (Yogyakarta) dan yang terakhir Deden Trisnawan (Bandung).


Acara Penutupan Bedog Art Festival
Di akhir acara Bedog Art Festival VI, Miroto selaku Direktur BAF menyampaikan beberapa penghargaan kepada beberapa seniman yang dulu telah tampil di Bedog Art Festival sebelumnya. Seniman asal Yogyakarta dengan menampilkan Acapela Mataraman musik Cangkem, Pardiman Joyonegoro mendapat penghargaan dari Bedog Art Festival. Pardiman Joyonegoro membawakan persembahan musik acapela dengan judul Uler Kambang Jengleng. Satu lagi seniman asal Pacitan, Desi yang bertindak sebagai koreografer Songkrek mendapat penghargaan serupa di Bedog Art Festival kali ini. Songkrek dibawakan oleh Pradapa Lokabakti.




Kerlip kerlip Senthir Bedog Art Festival
Daya tarik Bedog Art Festival dengan keunikan art stage yang lain daripada yang lain, Sungai Bedog dengan ratusan pijar "senthir" dan gemericik aliran air menambah megah dan apiknya pementasan seni di Studio Banjarmili ini. Sudah saatnya seni berpadu dengan alam mewujudkan suatu keharmonisan yang indah untuk dinikmati. Terima kasih Studio Banjarmili atas Bedog Art Festival yang menakjubkan. 









Untuk melihat apiknya pertunjukan para seniman dalam dan luar negeri di Bedog Art Festival VI kali ini, berikut ada cuplikan aksi mereka : 
Repyssa A.












Komentar

Postingan Populer