Banyuwangi, Sebuah Perjalanan Mensyukuri Nikmat Illahi -Kawah Ijen-



Banyuwangi, Ujung Timur Jawa yang mendapat julukan The Sunrise of Java merupakan sebuah karunia illahi dengan alamnya yang mempesona. Banyuwangi sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, yang berbatasan dengan Kabupaten Situbondo, Kabupaten Jember dan Selat Bali ternyata mempunyai pemandangan alam yang lengkap, mulai dari Gunung, Kawah, Pulau, Pantai, Teluk, Padang Savana, Hutan Lindung, Perkebunan nan Cantik, Air terjun semua ada di Kabupaten ini. 

 
 
Suasana Sunrise Kawah Ijen



Saya berkesempatan untuk membuktikan kecantikan dari The Sunrise of Java dalam 3 hari. Dengan menyusun jadwal perjalanan yang padat ingin sekedar melepas penat dari kesibukan sehari-hari. Gunung, Kawah, Air Terjun, Perkebunan, Pulau, Pantai dan Teluk ingin dijelajahi dalam tiga hari. 

 
Tepi Kawah Ijen 1

Tepi Kawah Ijen 2




Kawah Ijen

Kawah ijen merupakan danau kawah yang bersifat asam yang berada di Puncak Gunung Ijen dengan ketinggian sekitar 2000an meter. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Kawah ijen merupakan perbatasan antara Banyuwangi, Situbondo dan  Bondowoso. Untuk mencapai puncak dari kawah Ijen kita harus mendaki sepanjang 3 km dengan waktu tempuh 1,5 – 2 jam. Bertempat di Dusun Bayusari, Kawah Ijen dapat didaki melalui starting point pendakian Paltuding yang merupakan pos PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam).


 
Jalur Pendakian dari Pos Paltuding



Di kawasan kawah ijen ini terdapat pertambangan belerang, mengindikasikan kawah ini masih aktif dan beraktivitas. Kawah Ijen merupakan pusat danau kawah besar yang memproduksi belerang dan bisa membahayakan pengunjung apabila menghisapnya terlalu lama. Kawah yang berbahaya ini memiliki keindahan yang sangat luar biasa, danau belerang berwarna hijau toska berpadu dengan warna kaldera yang terang menjadikan keindahan nan elok dari kawah ijen tersebut. 


 
Penambang Belerang Kawah Ijen

 
Penambang Belerang mampu membawa 50 kg belerang sekali angkut

Pendakian ke puncak Kawah Ijen dapat dilakukan dengan dua macam rute, melaui Situbondo menuju Sempol Bondowoso atau dari Kabupaten Banyuwangi menuju Licin kemudian Pos Paltuding. Medan yang curam berpasir dan kabut asap belerang yang pekat  menjadi tantangan tersendiri untuk mencapai suatu fenomena alam yang tidak ditemukan di kawah-kawah lainnya, fenomena blue fire yang hanya muncul pada dini hari ketika matahari belum terbit. Konon blue fire hanya ada dua di dunia, yang pertama di Iceland dan yang kedua berada di Kawah Ijen ini. 



 
Salah Kostum Saat Pendakian berakibat Kedinginan di Puncak Ijen

Kawah ijen merupakan destinasi kedua kami setelah Padang Savana Bekol, Baluran. Berpijak pada rencana awal kami memilih menginap di pusat kota Banyuwangi daripada menginap di dekat pos pendakian dengan pertimbangan cuaca dingin. Sebenarnya ada penginapan yang dikelola oleh BUSDA yang dipersiapkan untuk para pendaki dini hari Kawah Ijen. Pilihan  menginap di Penginapan Baru Jalan MT.Haryono Banyuwangi dekat Taman Blambangan mendatangkan konsekuensi kami harus berangkat lebih awal pukul 23.00 dengan perkiraan waktu tempuh ke pos paltuding paling lama 2 jam. 



 
Gunung Ijen View,  Model : Bro Ganda





Perjalanan dari penginapan ke Pos Pendakian Paltuding ditempuh 1,5 jam karena jalanan kosong dan kondisi jalan yang mulus memperlancar perjalanan kami. Rute yang kami lalui merupakan rute yang sering dijadikan event sepeda international Tour De Ijen. Jalanan berkelok dan terdapat palang peringatan “Hati-hati Rawan Longsor” menandakan kami sudah mencapai curah macan, dekat dengan Cagar Alam Wisata Ijen. Kami tiba di Pos Paltuding pukul 00.30 dan sudah ada beberapa mobil jeep yang terpakir di depan pos penjagaan. Sebelum melakukan pendakian kami melapor ke Pos Perijinan dan membayar retribusi sebesar Rp 35.000 untuk 6 orang dan parkir mobil. Keputusan yang tepat untuk menginap di pusat kota dibandingkan menginap di sekitar pos paltuding yang dinginnya menusuk tulang.



 
Jalur rawan longsor menuju Kawah Ijen



 
Pendakian dimulai pukul 01.00 dengan berbekal pakaian tebal yang lebih mirip outfit jalan ke mall daripada melakukan pendakian (kata Bli’ Cenong) dan senter kecil pake banget milik Bro Ganda, kami berenam mendaki pelan-pelan seperti opa oma yang berjalan dengaqn penih pengharapan. Perjalanan pertama sekitar 1 km dengan medan yang lumayan menanjak masih mampu kami lewati. Udara dingin menusuk dan kanan kiri gelap yang membuat kami harus ekstra hati-hati karena bersampingan dengan jurang dan kondisi jalan yang berpasir. Derajat curam 1 km pertama sekitar 40 derajat dan membuat badan kita berkeringat walaupun dingin menyerang dan bau belerang yang mulai tercium. 1 km kedua tingkat kemiringan pendakian mulai bertambah sampai dengan 80 derajat dan semakin berkelok ditambah licinnya jalan berpasir membuat salah satu teman kami hampir menyerah karena terlalu berat mengangkat beban hidupnya…. mungkin…. (cup…. Diet cup). 




 
Kawah Ijen 06.00 tertutup Kabut :(






Dengan iming-iming jalan datar sebentar lagi akhirnya dia mampu melanjutkan perjalanan sampai dengan Pos Bunder. Saat siang hari Pos Bunder menjadi pos penimbangan batu belerang yang dipanen oleh petani Belerang. Per kilonya dihargai Rp 900, tidak sebanding dengan perjuangan mereka yang harus mendaki dan turun lewati dinding curam.
Di pos Bunder terdapat tulisan PT. Candi Ngrimbi, yang merupakan perusahaan satu-satunya yang mengelola penambangan belerang di Gunung Ijen. Para penambang belerang menjual hasil tambangnya kepada PT. Candi Ngrimbi yang kemudian akan diolah menjadi obat dan kosmetik. Para penambang belerang berusaha meningkatkan penghasilannya dengan mencetak bongkahan belerang dan menjualnya ke wisatawan dengan harga lebih mahal. Selain itu, apabila ada wisatawan yang ingin mengambil gambar si penambang belerang maka paling tidak harus memberikan komepensasi uang kepada mereka. Menurut saya itu cukup fair, anggap saja mereka sebuah model dari foto kita yang mungkin saja kita komersilkan nantinya.

 
 
 
Berasa FTV lihat Foto ini,



Setelah melewati Pos Bunder, medan pendakian mulai bersahabat, tidak terlalu curam seperti awal pendakian. Ditemani para penambang belerang yang berangkat dini hari untuk mengambil bongkahan-bongkahan belerang di dekat kaldera Ijen yang sehari mereka dapat mengambil 50-75 kg sekali jalan kami merasa bersemangat untuk segera sampai di puncak kawah Ijen, malu sama bapak-bapak penambang belerang yang sudah “sepuh”. Kata Bli’ Cenong “Laki itu mampu mendaki kawah Ijen”. Kabut Asap belerang mulai turun dan bau menyengat menusuk hidung masih bisa ditolerir dengan perlindungan masker tipis Indomaret pemberian Wuyung (lain kali masker anti fog yang kayak tim SAR ya yung bawanya….. ) kami berjalan ke atas serasa tidak ada batas. Mata pedih akibat asap belerang sempat membuat kami berhenti di beberapa titik menunggu rombongan pendaki yang lain datang. Setidaknya kalau berjalan ramai-ramai kami seakan mempunyai teman seperjuangan (Ini Bro bro banget… ).

 
Depecelebes Brotherhood di Puncak Kawah Ijen
 

Pukul 03.00 kami sudah mencapai puncak Kawah Ijen, langit masih gelap kami tidak dapat melihat apapun, kanan kiri gelap dan hanya senter kecil pake banget milik Bro Ganda yang menerangi jalan kami. Perjalanan belum selesai, untuk melihat Blue Fire yang katanya hanya ada dua di Dunia ini, kami harus turun ke daerah penambangan belerang dengan medan curam dan jalan yang tersusun dari batu (kebayang batu nya longsor dan jatuh berguling-guling plung,,,,,, Astagfirullah).   Jalan berbatu curam menurun nan berkelok harus kami lalui apabila ingin melihat fenomena alam blue fire. Dan sesampainya di bawah,,,, hanya Subhanallah begitu Besar Kuasa Tuhan dan segala nikmat illahi, sebuah pemandangan menakjubkan, Api Biru nan besar menari-nari di antara kabut asap belerang seakan bersembunyi dari keramaian wisatawan yang dating.
 
 
Lelah pendakian Ijen akan terlupakan apabila melihat ini
 
Pemandangan ciptaan Illahi tersebut kami nikmati dengan hening tanpa peduli tenggorokan mulai kering akibat berjalan jauh. Seakan blue fire yang bergoyang di depan kami memberikan kesejukan di kerongkongan. Untuk mengambil gambar blue fire Kawah Ijen tidaklah mudah, yang tertangkap kamera hanya hitam dan titik biru…. Memang lensa terbaik di dunia adalah mata kita sebuah nikmat Illahi yang tak terbeli.




Lensa terbaik adalah mata kita, iya ini narsissss...

Tips mendaki kawah Ijen (berdarkan pengalaman)
  • Bawalah perlengkapan mendaki mulai dari outfit pendakian (sarung tangan, sepatu/sandal gunung, jaket tebal, masker, kacamata untuk menghindari perihnya asap belerang)
  • Pos Paltuding Pendakian Kawah Ijen 07.30
  • Bawa bekal secukupnya, makanan dan minuman, senter besar…. iya harus yang besar cahayanya buka senter powerbank seperti yang kami pakai (leason learned)
  • Bagi yang tidak kuat dingin, disarankan menginap di Kota Banyuwangi saja sebelum pendakian, hemat energi tetapi harus bangun lebih pagi minimal jam 11 malam sudah berangkat ke Pos Paltuding.
  • Konsisten dalam berjalan seperti  konsisten dalam membina hubungan (eh,.,,.. maksudnya agar tidak mudah capek saat mendaki) medan curam dan berpasir kadang menyulitkan bagi pendaki pemula seperti kami
  • Saat mata terasa perih dan asap belerang pekat mulai masuk ke penarpasan, jangan dipaksakan untuk berjalan, lebih baik istirahat.
  • Author: Repyssa A. 





    All Photo Credit by : Depecelebes Brotherhood


Komentar

Naning saja mengatakan…
beruntunglah indera penglihatanmu dalam kondisi bagus, re.. kalau naning naik ke ijen nggak bawa lampu yang memeadai, udah kejungkal kali ya, mata saya kan sudah rabun, haha
David Ardana mengatakan…
Yuk wisata ke Banyuwangi, have fun dan seru-seruan bareng kawan baru dan tentunya murah. kunjungi Kawah Ijen, Baluran, Snorkeling di Menjangan, pantai Greenbay dan pantai pulau merah. cek link berikut http://triptr.us/dzw9
Kami juga siap melayani paket privat wisata Banyuwangi. Call / WA 082245427800

Postingan Populer