Banyuwangi, Sebuah Perjalanan Mensyukuri Nikmat Illahi -Green Bay (Teluk Hijau)-



Tak cukup dengan Gunung, Kawah dan Padang Savana, Banyuwangi masih menyimpan berbagai nikmat alam dari Sang Illahi untuk kami nikmati. Sebuah tempat tersembunyi di ujung Banyuwangi akan kami jelajahi. Teluk Hijau atau Green Bay terletak di Kabupaten Banyuwangi, bagian selatan Pesanggaran, Desa Sarongan. 



Teluk Hijau


Teluk Hijau masuk dalam kawasan Taman Nasional Meru Batiri.  Untuk mencapai Teluk Hijau memang membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Quote  teman saya, Bro Ganda “perjalanan ke teluk ijo itu sama kayak perjuangan buat ngedapetin cewek cantik harus sabar dan ga gampang”. Perjalanan ke Teluk Hijau terlebih  dahulu melewati Rajegwesi dan harus menggunakan mobil pribadi jeep atau mobil yang tahan dengan medan yang terjal dan berbatu, jangan sekali-kali bawah Honda Jazz atau Yaris kesini.


Jalan Komplek Sungai Lembu sebelum jalan terjal perkebunan


Dari Pusat Banyuwangi kami akan menuju Jajag, kemudian Pesanggaran dan terakhir Desa Sarongan, dimna Teluk Hijau berada. Jalan menuju Teluk Hijau searah dengan jalan menuju Pulau Merah. Pasar Pesanggaran merupakan penanda tempat yang mudah untuk menuju tempat ini, apabila sudah menemui Patung Penyu simpang empat pasar dan ambil arah yang ke Sumberagung. Setelah dari Sumberagung kami memasuki  perkebunan milik PTPN XII Perkebunan Nusantara. Di perkebunan Sungai lembu ini, kami harus meminta ijin masuk ke kawasan perkebunan mereka untuk megakses jalan menuju Desa Sarongan. Begitu kami masuk area Perkebunan Nusantara, kami disuguhi jalan yang berkelok-kelok dan di kanan kiri terdapat pembatas jalan nan cantik. Pembatas jalan yang terbuat dari tumbuhan merah berjajar rapi menyambut kami. 

 
Perkebunan Sengon tumbuh miring


Perkebunan Sungailembu adalah perkebunan dengan tanaman karet, coklat dan pohon sengon. Sepanjang perjalan kami, pohon karet dan sengon berjajar rapi seakan menunduk akan kedatangan kami (oke,,,, ini agak lebay). Sebenarnya pemandangan unik ini  disebabkan oleh penanaman karet dan sengon di daerah perbukitan sehinga tumbuhnya ke arah yang mendapat sinar matahari lebih banyak, yaitu ke arah lembah yang menurun. Setelah melewati pos perkebunan Sungailembu milik PTPN XII jalanan yang semula beraspal nan asri dengan pembatas jalan nan cantik, kemudian berubah menjadi jalan off road yang bergelombang. Perjalanan menjadi kurang nyaman, tetapi di sinilah serunya pertualangan menuju Teluk Hijau.

 
Rute Tracking menuju Teluk Hijau


Setelah melalui jalan bergelombang, kami tiba di Desa Sarongan dan lanjut ke Desa Rajegwesi yang merupakan pintu masuk Taman Nasional Meru Batiri. Tiba di pos pemeriksaan kami diharuskan membayar tiket masuk sebesar Rp 35.000 untuk lima orang dan 1 mobil. Petugas menyarankan apabila parkir di atas penuh kami diminta berjalan sepanjang 2 km atau memanfaatkan fasilitas kapal penyeberangan ke Teluk Hijau dari Pantai Rajegwesi. Biaya penyeberangan kapal tersebut sebesar Rp 25.000 per orang. Kami mengambil alternative pertama, walaupun dengan  risiko tidak mendapat parkir dan harus berjalan 2 km. Jadi untuk mencapai teluk hijau ada dua rute lewat darat (lewat Sukamande) atau lewat laut (Pantai Rajegwesi). 





Kapal dari Pantai Rajegwesi apabila lewat Jalur Laut ke Teluk Hijau
Selama perjalanan menuju Teluk Hijau kami menyusuri jalan tanah berbatu yang menurun dengan pemandangan alam yang menyegarkan. Start point menuju Teluk Hijau dinamakan Teluk Damai. Ada dua jalur tracking dari Teluk Damai ini, rute pertama menuju Goa Jepang dimana banyak bunker-bunker Jepang di bangun jaman dulu, dan ada pula ditemukan bunga bangkai di sekitar bunker tersebut. Rute kedua merupakan jalur tracking 1 km menuju Pantai Batu dan Teluk Hijau. Jalur setapak yang menurun sekan bukan menjadi halangan yang berarti apabila di kiri kami disuguhi pemandangan laut dengan tebing-tebing karang nan tinggi. Untuk mengurangi risiko kecelakaan, di bagian tertentu yang curam dan licin, dipasang tali tambang agar pengunjung yang melakukan tracking bisa berpegangan pada tali tersebut.




Teluk Hijau diihat dari jalur tracking Teluk Damai

Setelah berjalan sekitar 15 menit kami menemui bibir pantai yang memanjang dengan batuan halus diseluruh tepi pantainya. Tidak ditemukan pasir sedikitpun di pantai ini, Konon katanya dulu pantai ini berpasir, setelah terjadi bencana tsunami maka pantai ini dipenuhi batu-batu dari laut. Sungguh pemandangan yang tidak biasa dari sebuah pantai.



Pantai batu memanjang sebelum Teluk Hijau


Dari Pantai Batu, lokasi Teluk Hijau semakin dekat, karena hanya terpisah oleh tebing karang yang tinggi. Akses menuju Teluk Hijau ada di jalur kecil di balik tebing menyusuri aliran sungai dan hutan. 

 
 

Tebing yang memisahkan Pantai Batu dan Teluk Hijau



Tidak berapa lama kami mendengar deburan ombak dan woooow…. Pasir putih lembut memanjang dan melengkung berpadu dengan air laut yang hijau benar-benar membuat kami takjub. Sempat berhenti sebentar di pintu masuk Teluk Hijau, kembali mensyukuri nikmat Illahi akan indahnya ciptaan Tuhan nan Agung yang dibayangkan saja mungkin sulit, Subhanallah, Banyuwangi, sekali lagi mempesona kami dengan keindahan ciptaan Illahi nya.





Pintu Masuk Teluk Hijau

Warna air Laut yang hijau di Teluk Hijau (engggg.... aneh kalimatnya)

Terdapat Air Terjun di sisi Bukit Teluk Hijau



Teluk Hijau ini baru dibuka untuk pengunjung sekitar dua tahun yang lalu, menurut penduduk setempat. Di sini kita bisa berenang atau sekedar bermain air di pantainya, tidak jauh dari pantainya terdapat bukit kecil dan air terjun yang mengering karena kemarau yang melanda. 
Berasa milik sendiri ya, gegoleran di pantai
Sebuah pemandangan alam yang unik. Keunikan dari Teluk Hijau ini adalah air lautnya yang benar-benar jelas bewarna hijau yang berasal dari biota laut dibawahnya. Perlu diketahui, waktu berkunjung ke Teluk Hijau hanya sampai jam 5 sore. Tidak diperkenankan untuk camping demi menjaga kelestarian alam teluk hijau. Sekali lagi, ada banyak cara bersyukur atas nikmat illahi dengan tidak ingin menikmatinya terlalu berlebihan sehingga yang timbul adalah ketiadaan.



Author : Repyssa. A


All Photo Credit by : Depecelebes Brotherhood

Komentar

Inggit Erlianto mengatakan…
Nice story, perjalanan yg sungguh menakjubkan.
Teluk ijo adalah destinasi impian saya.

Salam kenal, mampir juga ya ke www.lajurpejalan.com
Inggit Erlianto mengatakan…
Nice story, perjalanan yg sungguh menakjubkan.
Teluk ijo adalah destinasi impian saya.

Salam kenal, mampir juga ya ke www.lajurpejalan.com

Postingan Populer