Jelajah Tatar Sunda, Majalengka (bagian 1)

Berawal dari ajakan teman saya yang baru saja pulang dari Jepang, kami berencana untuk berkeliling tanah Sunda. Perjalanan pertama dimulai dari tanah kelahiran dia, Rian Erwinsyah, Majalengka. Dulu pernah saya sambangi daerah Majalengka saat anniversary backapcker Cirebon di Lembah Cilengkrang. Majalengka adalah kabupaten di tatar pasundan yang berdekatan dengan kabupaten Kuningan,Cirebon, dan Tasikmalaya. Gunung Ciremai di Kuningan pernah dengar? Gunung Ciremai sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat dapat didaki dari titik pendakian Majalengka. Gunung Cakrabuana juga menjadi batas dengan Tasikmalaya.


Majalengka kota angin

Jujur saya sempat bingung, mau memulai dari mana petualangan di Majalengka ini. Teman saya, Rian Erwinsyah yang sudah 4 tahun tidak pulang ke Majalengka juga bingung dan rindu dengan tanah kelahirannya ini, sudah banyak berubah katanya. Berbekal informasi dari internet dan keterangan penduduk setempat kami memulai perjalanan. Perjalanan dimulai dari Cadas Gantung.





·       1.  Cadas Gantung
Nampaknya  Pesona Tebing Keraton Bandung mulai mendapat saingan dari situs wisata Majalengka yang satu ini. Hampir sama dengan Tebing Keraton Bandung, Cadas Gantung mempunyai pemandangan batu yang menjulang dengan pemandangan hutan dibawahnya. Cadas Gantung  bertempat di Desa Mirat Leuwimunding, Raja Galuh,  Majalengka.  Akses untuk menuju Cadas Gantung dapat ditempuh dengan berbagai rute. Rute dari Cirebon Kota ataupun Rute dari Majalengka Kota.


Cadas Gantung Majalengka



Tentang Wisata
Cadas Gantung ini merupakan sebuah  bukit yang berada di bawah puncak Gunung Sanghiangdora. Bukit tersebut terdapat banyak cadas/ batu yang menjulang di beberapa tempat. Dari Cadas Gantung, kita dapat melihat Gunung Sanghiangdora seperti lipatan-lipatan nan bertumpuk-tumpuk. Cadas Gantung dengan banyak beberapa batu yang menjulang tersebut sangat cocok untuk tempat foto dengan background hutan. 




Berbeda dengan tebing Keraton Bandung, flora di Cadas Gantung lebih beragam terdiri dari pinus, coklat, kemiri, jati. Jadi apa point of interest dari tempat wisata ini?  Sudah jelas batuan cadas raksasa yang menggantung ditepian tebing dengan view hutan dan pegunungan Sanghiangdora. Dengan kita berdiri di Cadas Gantung  tersebut, mata kita dimanjakan dengan view horizontal desa leuwimunding dibawah sana, selain itu view hutan gunung-gunung yang ada disekitarnya, ada gunung Windu, gunung Guci, dan Sanghyang dora.

Gardu Pandang Cadas Gantung


Angle Photo yang beraneka ragam dari Cadas Gantung sudah banyak beredar di social media. Semakin banyak beredar maka tingkat kepadatan objek wisata ini akan meningkat drastis. Itulah kekuatan social media (sok tahu banget yaaak).


Tentang Rute
Saat itu saya bersama rian sahabat saya mencoba rute dari Majalengka. Berkendara motor selama 50 menit melalui jalur Majalengka-Cirebon kami tiba di tujuan. Dari  terminal Rajagaluh kemudian cari polsek LeuwiMunding dan SDN Mirat III sebagai patokan untuk menuju Cadas Gantung. Sekitar 10 menit dari pertigaan rajagaluh, disebelah kanan akan terlihat gugusan bukit yang salah satunya adalah lokasi cadas gantung berada, ikuti jalur utama tersebut hingga ketemu dengan Polsek Leuwimunding di sebelah kiri jalan, beberpa meter selanjutnya disebelah kanan jalan ada SD Mirat 3, nah tepat disebelah SD tersebut jalur desa Mirat menuju Cadas gantung, disitu sudah ada banner atau spanduk lumayan besar yang betuliskan Cadas Gantung. 




Dikarenakan sahabat saya pernah mengunjungi cadas gantung sebelumnya, maka kami tidak kesulitan untuk menjangkau tempat tersebut. Bagi kawan-kawan yang ingin ke sana bisa menanyankan ke penduduk setempat arah ke Cadas Gantung melalui Desa LeuwiMunding.


batu-batu besar menjulang di Cadas Gantung

Kondisi jalan menuju Cadas Gantung pun sudah bagus, beraspal rata dan halus. Hal ini baru diperbaiki sekitar Bulan Juli 2016 setelah lebaran, sebelumnya kata rian (sahabat saya) kondisi jalan di Cadas Gantung benar-benar ekstrem, menanjak dan berbatu. Saran saya bagi yang mau menuju Cadas Gantung, gunakan mobil yang berukuran kecil, karena lebar jalan di Desa LeuwiMunding sangat sempit, belum lagi ada jembatan yang hanya bisa dilalui satu mobil kecil.

Tentang Fasilitas
Dengan membayar Tiket Parkir Motor Rp 3000, kita sudah dapat menikmati pemandangan  Majalengka dari ketinggian. Jalur Pendakian ke Puncak Cadas Gantung sudah tergolonmg aman dikarenakan pihak pengelola sudah membuat pagar pembatas dan tangga pendakian yang mudah diakses dan aman.





Untuk fasilitas kebersihan memang agak kurang, dengan banyaknya sampah plastik, makanan, botol minum yang masih berserakan di sela-sela batu yang menjulang. Nama Cadas Gantung sendiri berarti Batu yang seakan-akan menggantung, kata sahabat saya lagi. Terlepas dari banyaknya sampah makanan di tas, pihak pengelola yakni penduduk setempat dan Perhutani sudah berupaya menjaga situs wisata ini agar nayaman untuk dikunjungi. Mushola, Toilet Umum, Taman Buatan, Gazebo, Pagar Pengaman di tepi Jurang, semua fasilitas disediakan, hanya saja kesadaran dari pengunjung sendiri yang masih rendah untuk menjaga kebersihan dari tempat ini.




Menurut pengelola, tempat ini dibuka mulai pukul 04.00 sampai dengan 17.00. Tapi tak jarang wisatawan dari jauh yang sudah sampai Cadas gantung pukul 18.00 masih diperbolehkan untuk naik dengan pengawasan mereka.

Simpulan
Cadas gantung merupakan tambahan daya tarik wisata bagi Majalengka. Alternatif lain  jika ingin mencari spot foto layaknya di Tebing Keraton. Kelebihan Cadas Gantung dibanding Tebing Keraton adalah  lebih banyak batu yang menjulang dan tempatnya lebih luas di puncaknya. Kekurangan dari tempat ini adalah sampah yang masih berserakan di puncak Cadas Gantung. Bagaimana pun juga setiap destinasi mempunyai ciri khas tersendiri.


Berikutnya, kami mengunjungi daerah wisata Argapura. Argapura terkenal dengan Terasering panyaweuyan (bener ga ya nulisnya, hararese euy hahahah). Mari mulai lagi perjalanannya.



Terasering Panyaweuyan dari kejauhan



·        2. Argapura Terasering Panyaweuyan
Majalengka tak berhenti hanya di wisata curug atau tebing-tebing nan menjulang tinggi yang menyerupai tebing keraton Bandung. Kali ini apabila teman-teman datang ke Argapura Kecamatan Maja, Majalengka, pasti akan berasa sedang di Ubud Bali. 


Hamparan kebun penduduk lokal tersusun rapi. Terasering atau sengkedan dibuat rapi dengan tujuan agar tidak terjadi longsor. Wisata hamparan hijau nan tersusun rapi menjadi daya tarik dari Terasering Panyaweuyan Argapura. Argapura merupakan kecamatan di Majalengka yang terletak di kaki Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa barat. Menurut arti gramatikal, Argapura berasal dari kata Arga dan Pura. Arga artinya gunung dan Pura artinya kota, jadi secara gramatikal argapura berarti kota di atas gunung.




Tentang Wisata
Mayoritas daerah di Kecamatan Argapura merupakan kawasan pertanian, perkebunan. Hasil bumi unggulannya adalah bawang daun, padi, boled (ubi), bawang merah dan sebagainya. Apabila kita datang pada musim tanam, maka mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan terasering nan hijau. Sebaliknya apabila kita datang di musim panen, pemandangan berubah menjadi coklat dan banyak bunga perdu warna ungu yang memenuhi kawasan terasering. Wisata ini semakin populer dengan banyaknya yang menyebarkan foto keindahan dan rapi nya terasering panyaweuyan Argapura. Terasering atau sengkedan merupakan cara bercocok tanam atau pengolahan lahan pertanian dengan memangkas lahan miring menjadi bagian-bagian datar yang lebih kecil. Sehingga, dengan sistem terasering ini, lahan menjadi terkotak-kota atau mengurangi panjang lereng dan air bisa tertampung dengan baik.


saat setelah musim panen


Para pertani di Argapura membuat terasering sangat rapi. Berbukit-bukit lahan pertanian di kaki Gunung Ceremai ini dibentuk undakan dengan ukuran sangat rapat atau kecil dengan ukuran sama setiap bagian bukit. Tidak hanya satu bukit, terasering Argapura terdapat di banyak bukit sehingga sejauh mata memandang undakan menghijau memanjakan mata apalagi dilihat dari atas. 


Di sekitar terasering argapura terdapat sebuah curug Muara Jaya. Jawa Barat dapat dijuluki provinsi dengan seribu curug. Bisa dibilang Terasering Argapura merupakan tempat yang cocok untuk beraktifitas fotografi. Selain mengabadikan perjalanan, berburuan lahan pertanian Argapura menjadi pilihan termasuk aktivitas para petani Argapura. Penat dengan suasana kota besar dan  senang suasana alam di dataran tinggi dan menyenangi objek agrowisata, kawasan terasering Argapura bisa menjadi alternative wisata baru.

rute menuju terasering



Tentang Rute
Untuk berkunjung ke Terasering Panyaweuyan Argapura ini dan menikmati panorama khas pegunungannya yang indah dan sejuk, kita bisa terlebih dahulu mencari letak dari Terminal Maja kemudian ikuti arah jalan menuju Argalingga hingga sampai di pertigaan Sadasari – Sukasari. Sempat berulang kali salah jalan kami berdua muter kembali ke jalan yang ditunjukkan penduduk lokal. Walupun asli orang Majalengka, sahabat saya rian baru pertama kali mengunjungi tempat wisata ini. Dengan bahasa sunda kental berulang kali si rian menanyakan letak dari terasering panyaweuyan. Kami hanya berbekal menuju Terminal Maja untuk mencapai daerah ini, kemudian buta arah, hahahhaha



Kami sampai di pertigaan yang dimaksud oleh mamang-mamang yang sedang membetulkan saluran irigasi. Dari pertigaan ini, kami belok kanan untuk meneruskan perjalanan. Setelah sampai di jembatan Cilongkrang, teruskan dengan belok kiri, kita juga bisa bertanya kepada penduduk setempat untuk arah menuju terasering.



Jangan khawatir kesasar, karena penduduk di maja sangat ramah untuk meberikan jalan tercepat sampai terasering. Tentang kondisi jalan pun sudah ramah untuk dilewati berbagai kendaraan pribadi, namun memang tidak terlalu lebar. Jadi saran saya lebih baik mengendari motor untuk menuju ke daerah ini. Paling direkomendasikan untuk berkunjung kesini ketika musim hujan karena pada saat itulah puncak dari kecantikan permadani hijau Terasering Panyaweuyan Argapura.

penuh tumbuhan perdu, setelah musim panen


Tentang Fasilitas
Wisata ini tidak dipungut biaya sepeser pun untuk menikmatinya. Memang sebenarnya tujuan awal dari terasering ini memang untuk perkebunan penduduk. Dibuat undakan-undakan nan rapi di atas bukit dengan saluran pipa air yang menjuntai. Tanaman daun bawang, bawang merah menghiasi terasering ini. Kita tidak akan menemukan gapura masuk wisata atau loket retribusi di sini. Hanya ada dua sampai tiga warung di atas bukit yang menyediakan makanan-makanan kecil. Untuk tempat parkir deisediakan tapi tidak begitu luas. Di balik bukit argapura terdapat bumi perkemahan yang menghadap ke curug, tapi lupa nama curugnya. Saking banyaknya curug di tempat ini. Toilet pun tidak ditemui karena memang ditujukan bukan untuk daerah wisata. Dibalik semua itu ada satu hal yang perlu kita cermati.



Berawal dari tujuannya, terasering panyaweuyang bukan tempat wisata, jadi akan lebih baik kalau kita menjaga agar kebun penduduk tidak rusak kita injak-injak demi mendapatkan hasil foto selfie atau ego kita sendiri. Saat kami di sana kami  melihat sekelompok anak muda menginjak-injak tanaman bawang penduduk dan berfoto di atasnya. Memang kalau kita lihat pemandangan hijau membentang luas akan menarik kita untuk mengambil foto di tempat tersebut, tapi jangan sampai kita melupakan alam dan jerih payah petani lokal menanami kebun mereka dengan rapi.


Siap touring Majalengka


Simpulan

Sesuatu dengan tujuan bukan wisata dan dipaksakan untuk seusatu yang bukan tujuannya, akan membuat sesuatu tersebut tidak optimal. Begitu pula yang dialami oleh perkebunan penduduk di Panyaweuyan Argapura. Sampah bungkus makanan sudah mulai banyak terlihat di perkebunan penduduk. Tumbuhan bawang yang baru selesai ditanami mulai rusak karena diinjak-injak pengunjung. Memang kalo dilihat dari kejauhan, terasering Argapura ini sangat indah, dibalik itu ada hal besar yang perlu diperhatikan agar terasering ini tetap indah dari kejauhan, yaitu toleransi untuk berfoto. Tidak merusak untuk ego sesaat. 





Sekian dulu cerita perjalanan saya di Majalengka, akan ada bagian dua dengan objek wisata yang berbeda... 



Repyssa A

Komentar

Postingan Populer