Adopsi Tukik Sisik Tanjung Keluang, Kalimantan Tengah

Kalimantan tengah, sebuah provinsi dengan banyak Taman Wisata Alam dan Hutan Konservasi menjadi penyelamat dunia. Penyelamat dunia diantara pembangunan kota-kota megapolitan dengan gedung-gedung pencakar langit, dan infrastruktur jalan yang mendorong bertambahnya asap karbon di lapisan atmosfer. Sebagai paru-paru dunia, Kalimantan Tengah masih banyak mempunyai hutan-hutan konservasi. Tidak lengkap rasanya saat berkunjung ke Kalimantan Tengah kita tidak ikut andil dalam misi penyelamatan dunia dari kerusakan alam. Keunikan Kalimantan Tengah yang ingin saya rasakan, “aksi kecil menyelamatkan sesuatu yang besar, ekosistem alam.”


Tanjung Keluang



Pilihan saya atas aksi kecil penyelamatan ekosistem alam jatuh kepada kota Pangkalanbun. Menurut saya, kalau ingin merasakan sesuatu hal yang baru, memang harus keluar dari rumah dan cari rute baru. Pangkalanbun terkenal dengan pusat konservasi orang utan terbesar di dunia yaitu Taman Konservasi Alam Tanjung Puting.  Bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke Tanjung Puting, tidak ada salahnya menyempatkan waktu juga ke Tanjung Keluang. Tanjung Keluang memang tidak setenar Tanjung Puting. Dibalik itu, Tanjung Keluang berfungsi sama halnya dengan Tanjung Puting sebagai pusat konservasi flora. Perairan Tanjung Keluang menjadi tempat transit penyu-penyu sisik yang akan bermigrasi ke perairan penjuru dunia. Induk-induk penyu akan meletakkan telur-telur mereka di pasir hangat Tanjung Keluang. Dibawah pengawasan Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam Kementerian Kehutanan yang berkedudukan di Palangkaraya, Tanjung Keluang mulai dikembangkan sebagai pusat konservasi penyu sisik.

Kantor BKSDA





Taman Wisata Alam (TWA) Tanjung Keluang merupakan salah satu tempat wisata yang ada di Kotawatingin Barat, Pangkalanbun , Kalimantan Tengah, tepatnya di Desa Kubu, Kec. Kumai. Tanjung Keluang menjadi tempat penyu-penyu sisik untuk bertelur. Untuk misi aksi kecil penyelamatan ekosistem alam, dalam tulisan kali ini saya menceritakan bagaimana cara kita ke Tanjung Keluang dan apa yang seharusnya kita lakukan di Tanjung Keluang.




How to get there?
Berbekal informasi dari teman saya, Ibnu, yang bekerja di BKSDA Pangkalan Bun, saya berangkat menuju  Tanjung Keluang. Untuk mencapai Tanjung Keluang kita harus menyeberang dulu menggunakan klothok (perahu kayu bermesin) dari Pantai Kubu. Saya tunjukkan rute perjalanan dari Jakarta menuju Tanjung Keluang.



Jakarta ke Pangkalanbun = Pesawat di Bandara Iskandar (Nam air, Trigana, Kalstar, Wings Air, Garuda)
Pangkalanbun ke Simpang Tugu Orang Utan  Kumai = Menggunakan motor atau mobil, jarak 11 km
Simpang Tugu Orang Utan ke Pantai Kubu = ambil arah kanan (dari Pangkalanbun) sekitar 12 km akan sampai di Pantai Kubu.
Pantai Kubu à Tanjung Keluang = menggunakan  perahu klothok  sekitar 20 menit akan sampai Tanjung Keluang.


Klothok, sarana transportasi menuju tanjung keluang



What should we do?
Sesampainya di Taman Wisata Alam (TWA) Tanjung Keluang, kita akan melihat kantor BKSDA berbentuk rumah Bentang khas Kalimantan. Petugas di sana akan menarik retribusi masuk ke Tanjung Keluang. Di TWA Tanjung Keluang terdapat beberapa aktivitas yang dapat kita lakukan, diantaranya : sport water (banana boat), camping, tracking, release tukik, sport fishing spot, dan belajar melukis kaos dari getah nipah.



Sesuai dengan tujuan awal, saya memilih kegiatan melepaskan tukik sebagai bagian wujud pelestarian fauna yang hampi punah. Tukik-tukik ditampung di kolam berukuran 1 meter x 1,5 meter di bawah kantor UPT Tanjung Keluang berupa rumah panggung. Menurut keterangan Mas Siswanto Azis (Pegawai BKSDA) tukik dengan  umur satu bulan sudah siap dilepaskan para turis.
Boat BKSDA


Mas Siswanto Azis bercerita mereka butuh dana besar untuk melakukan pelesatarian tukik sisik ini. Cara-cara yang dilakukan  Mas Azis ini sangat beragam. Sebagai founder Rumah_Orangutan, mas Azis ini mengadakan banyak trip, outbond,  dan belajar melukis memakai getah nipah. Sebagian keuntungan disisihkan untuk membangun Taman Wisata Alam Tanjung Keluang. Untuk melepas tukik sisik pun, wisatawan dikenai biaya Rp 35.000,00 per ekor.  Uang itu untuk membiayai penetasan telur dan pembelian pakan tukik.
Jadi kalau ditanya apa yang sebaiknya dilakukan saat kita wisata ke Tanjung Keluang? Saya dengan mantap menjawab aktivitas pelepasan tukik sisik ke laut lepas. Aktivitas ini menurut saya yang paling menarik, dan berharap bisa ikut patroli malam untuk mengawasi penyu-penyu yang bertelur  di pesisir Tanjung Keluang.



Tukik (anak penyu) yang diadopsi


Sebelum melepaskan tukik, saya berkeliling lingkungan TWA Tanjung Keluang, Tanjung Keluang dilengkapi menara pandang, rumah konservasi tukik, markas pegawai BKSDA,  dan anjungan kapal. Info dari mas Azis, Tanjung Keluang akan ramai dikunjungi saat siang dan sore hari. Untuk melakukan aktivitas camping di sini harus dilakukan ijin sebelum hari pelaksanaan kepada pihak BKSDA. Kontur pantai dari Tanjung Keluang cukup curam. Wisatawan juga diharapkan agar tidak berenang terlalu jauh dikarenakan ada unur-ubur yang sering menyengat wisatawan.


Tugu Nol Kilometer Tanjung Keluang

Kembali ke aktivitas penyelamatan ekosistem yang saya lakukan : pelepasan tukik ke laut lepas. Arahan dari mas azis, pilih tukik yang sudah terlalu lama di bak konservasi. Apabila tukik terlalu lama di bak konservasi, dia akan susah untuk balik ke alam bebas. Saya memilih dua tukik kecil untuk dilepaskan.

Menara Pandang Tanjung Keluang

Adoption Tukik
Sebelum melepaskan tukik, ada langkah-langkah yang harus ditempuh oleh wisatawan, diantaranya:
  1. Mengisi formulir adopsi tukik. Dalam formulir akan ditanyakan tukik yang akan dilepaskan akan diberi nama siapa.. hahahahah so cute.
  2. Membersihkan cangkang tukik dengan sikat. Tukik yang terlalu lama di bak konservasi, terkadang cangkangnya ditumbuhi lumut. Mas Azis menyarankan untuk membersihkan cangkangnya terlebih dahulu sebelum melepaskan ke laut lepas.
  3. Membersihkan area pelepasan tukik dari sampah, ranting dan benda-benda yang menghalangi tukik merangkak ke laut
  4. Meletakkan tukik secara terbalik menghadap daratan. Hal ini bertujuan agar tukik tidak bingung saat dilepaskan.
  5. Pastikan tukik berenang di laut lepas. Terkadang bagi tukik yang terlalu lama di bak konservasi, mereka susah untuk balik ke laut lepas. Hal yang perlu dilakukan adalah menyentuh ekornya.
Melepaskan tukik



Demikian langkah-langkah waktu pelepasan tukik sisik di TWA Tanjung Keluang. Sekedar info, seperti kura-kura laut lainnya, penyu sisik memiliki umur yang panjang dan dapat tumbuh sampai 80 kg. Sekali lagi, Kalimantan Tengah mempunyai daya tarik unik, kali ini sebagai penyelamat ekosistem dunia. Penyelamat ekosistem dunia dengan banyaknya hutan dan taman konservasi yang dikembangkan di Provinsi ini. Mari berkunjung ke Kalimantan Tengah, Paru-Paru dan Penyelamat Ekosistem Dunia.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis "Keunikan Kalimantan Tengah"
 


Berikut video perjalanan saya ke Tanjung Keluang



Repyssa A

Komentar

Postingan Populer