Suku Bajo Mola beradaptasi di Wangi-wangi, Wakatobi.
kanal-kanal kecil Suku Bajo Mola
Puluhan Kanal - kanal kecil yang berukuran tidak lebih dari 2 m mengelilingi rumah mereka Sampan kayu nan ramping tertambat di bahu kanal,
pemandangan anak-anak kecil berlarian riang, para gadis bajo yang malu-malu terlihat
mengintip dari jendela sambil menggunakan bedak dingin. Di ujung kanal,
terlihat sampan hilir mudik dengan pengendara ibu-ibu yang menungu para
‘Palele’ pulang melaut.
Itulah suasana kampung Mola pada sore hari. Kampung
Mola yang terletak di Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi,
Sulawesi Tenggara, menjadi tempat tinggal Suku Bajo yang terkenal ulung dalam
melaut. Suku Bajo memang tak terpisahkan dari laut. Sejak dulu, mereka dikenal
sebagai pelaut ulung, gemar mengarungi lautan Nusantara. Sejak puluhan tahun
lalu, para orang tua mereka mendapat berkah dari hasil laut perairan ini.
Mereka bisa menangkap ikan dan penyu di mana pun tanpa larangan.
Sampan menjadi alat transportasi Suku Bajo
Suku Bajo yang sering disebut sea nomads atau
manusia perahu karena sejak zaman dahulu mereka adalah petualang laut sejati
yang hidup sepenuhnya di atas perahu sederhana. Mereka berlayar
berpindah-pindah dari wilayah perairan yang satu dan lainnya. Perahu adalah
rumah sekaligus sarana mereka mencari ikan di luas lautan yang ibaratnya adalah
ladang bagi mereka.
Ikan-ikan yang mereka tangkap akan dijual kepada
penduduk di sekitar pesisir pantai atau pulau. Inilah asal mula mereka disebut
sebagai manusia perahu atau sea nomads. Kini mereka banyak bermukim di
pulau-pulau sekitar Pulau Sulawesi, Madura, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara,
Maluku, hingga Papua. Persebaran suku Bajoe di beberapa daerah di Nusantara
tentunya terjadi karena cara hidup mereka yang berpindah-pindah dan berlayar
dengan perahu.
Tak hanya menyebar di perairan Nusantara, Suku bajo
juga menyebar sampai Filipina dan Thailand. Fakta yang menarik, walaupun
tersebar, mereka tetap menggunakan bahasa yang sama, bahasa Ibu Suku Bajo. Suku
Bajo terbesar bermukim di kepulauan Wakatobi, mulai dari Pulau Wangi-wangi
sampai Pulau Kaledupa. Pada bulan September 2013 akan dilaksanakan Festival
Suku Bajo, semua Suku Bajo seluruh dunia akan berkumpul di Wakatobi, akan ada Tarian
Duata di atas kapal yang menyambut para
tamu yang datang. Tradisi Bangke Mbule-mbule juga tidak lupa akan dipertunjukan
dalam festival ini. Bangke Mbule-mbule merupakan tradisi suku Bajo melarung
sesajen ke laut untuk menjauhkan dari marabahaya dan menambahkan rezeki, berupa
tanggkapan ikan yang melimpah.
Suku Bajo yang terkenal hidup nomaden di lautan,
mulai merubah cara hidup mereka, dengan mendirikan perkampungan dengan
rumah-rumah pancang kayu beratap rumbia yang berdiri di lautan, tidak ada
listrik, dan sampan sebagai sarana transportasi mereka. Rumah satu dengan rumah
lainnya terhubung kanal-kanal kecil. Suku Bajo menganggap perairan bukan
sebagai pemisah melainkan sebagai penghubung. Pelajaran penting buat kita,
Indonesia negara kepulauan terhubung oleh lautan bukan terpisah oleh lautan.
Sebagian rumah Suku Bajo Mola sudah berbahan semen
Pemandangan Suku bajo yang identik dengan
perkampungan di atas laut akan berubah ketika kita masuk perkampungan Suku Bajo
Mola di Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi. Sentuhan modern di rumah mereka mulai
terlihat, dinding tembok, listrik, sepeda motor, jembatan beton, seakan mulai
mengubur tradisi asli Suku Bajo yang serba sederhana. Suku Bajo Mola berasal
dari Suku Bajo Pulau Kaledupa yang masih masuk dalam Kabupaten Wakatobi.
Berdasar hasil wawancara dengan Ibu Surtina, penduduk Suku Bajo Mola, hampir
semua penduduk Suku Bajo Mola berasal dari Kaledupa, mereka pindah ke desa Mola,
Pulau Wangi-Wangi karena terkait gerakan DI/TII.
Suku Bajo Mola mulai merasakan modernisasi, melalui
listrik, televisi, sepeda motor dan jembatan dan rumah mereka. Naluri laut
mereka tidak berubah, sebagian besar penduduk Suku Bajo Mola pergi kelaut dengan
alat sederhana untuk menangkap ikan. ‘Palele’ orang yang bertugas menangkapikan
ke laut pada subuh hari akan disambut kedatangannya oleh ibu-ibu Suku Bajo Mola
pada sore harinya. Setiap hari paling tidak ada 2 rombongan Pelele yang pergi
melaut. Hasil tangkapan ikan ini akan di jual ke Pasar Wanci. Suku Bajo Mola
mulai beradaptasi dengan masyarakat
Wanci, Pulau Wangi-Wangi.
Ibu Nurtina, pembuat Topio Longara
“Selain sebagai nelayan ada juga Suku Bajo Mola yang
berkebun,” tutur Ibu Nurtina saat ditemui sedang membuat Topio Longara. Ibu
Nurtina yang bermata pencaharian sebagai pembuat Topio Longara mengaku senang
tinggal di Mola, walaupun keluarganya masih berada di Pulau Kaledupa. Perlu
diketahui, Topio Longara merupakan topi yang terbuat dari daun Nipa dan dijahit
menggunakan lidi untuk dipakai para nelayan pergi melaut agar wajahnya tidak
terbakar sinar matahari. Cuaca di perkapungan Mola sangata panas, maka tidak
heran apabila kita menjumpai banyak gadis Suku Bajo Mola menggunakan bedak
dingin untuk melindungi wajah mereka dari sengatan Matahari.
Begitu banyak wujud adaptasi yang dilakukan penduduk
Suku Bajo Mola setelah pindah ke Pulau Wangi-Wangi, mereka ramah saat ada
pengunjung datang. Tidak ada rasa malu dan enggan saat kami berfoto bersama,
anak-anak kecil berlarian riang menyambut kami saat melakukan kunjungan ke Suku
Bajo Mola ini. Dimanapun kita berada sudah seharusnya kita beradaptasi dengan
lingkungan yang ada.
Berikut suasana sore hari di perkampungan Suku Bajo Mola :
Jernihnya sungai-sungai Kampung Suku Bajo
menggunakan sampan menjemput Palele
pancang-pancang kayu menyangga rumah Suku Bajo
gadis Suku Bajo dan bedak dinginnya
suasana sore hari Suku Bajo, tenang dan damai
Foto diambil dari atas kapal
Jika anda berkunjung ke Wakatobi, sempatkanlah untuk berinteraksi dengan masyarakat Suku Bajo, baik yang berada di Pulau Wangi-wangi maupun Pulau Kaledupa. Mereka akan sangat ramah menyambut anda, selayaknya ramahnya mereka menjaga lautan.Untuk lebih jelasnya tentang keseharian Suku Bajo Mola, silakan dilihat video liputan saya di Suku Bajo Mola Wakatobi.