Buniayu, Kecantikan Tersembunyi dalam Perut Bumi
Setiap orang mempunyai cara
masing-masing untuk meraih kebahagiaan. Bagi kami, bahagia itu dapat diraih
dengan bepergian ke tempat yang belum pernah kami kunjungi dan menyatu dengan
alam. Pasca sidang dan yudisium, kami (Adhira, Dinartika, Dian, dan saya
Repyssa) memutuskan untuk meraih kebahagiaan kembali dengan mensyukuri alam yang
ada. Kebahagian yang dulu sedikit tertutupi oleh sibuknya deadline dan tuntutan macam-macam. Pilihan kebahagiaan jatuh pada
kegiatan caving dalam jaringan gua
terluas di Jawa Barat. Diturunkan ke kedalaman 25m menggunakan tali dari mulut
gua vertical dan harus menyusuri 3 km gua horizontal membuat kami tertantang
untuk mencoba caving di gua ini.
Buniayu, nama goa yang terletak
di Desa Kertangsana Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Kata Buni Ayu sendiri diambil dari bahasa
Sunda yaitu “Buni” dan “Ayu” yang memiliki arti “Kecantikan yang tersembunyi”.
Penulusuran dan pemetaan Gua Buniayu dilakukan untuk pertama kali pada tahun
1982 oleh seorang speleogiwan Indonesia – Dr. R.K.T. Kho, bersama beberapa
penelusur berkebangsaan Perancis anggota Federasi
De Speleleologie Francaise (FFS) yaitu : George Robert, Arnoult Seveau,
Michael Chassier, keterangan dari Kang Gareng.” Kang Gareng itu guide kami
selama kami di site Buniayu ini.
| Camp Site Buniayu |
Hingga saat ini terdapat beberapa gua yang berada di areal Gua Buni Ayu
telah berhasil dipetakan, di antaranya Gua Cipicung, dan gua-gua lain di
sekitarnya, seperti Gua Bibijilan, Gua Adni Gua Nyangkut Kubang Lanang , Gua
Tanpa Nama, Gua Karsim, Gua Bisoro, Gua Idin, Gua Gede, dan Gua Kole. Masyarakat
sekitar lebih mengenal Goa Buniayu sebagai Goa siluman. Goa ini juga pernah
dijadikan setting film Si Buta dari
Goa Hantu dan Wiro Sableng (ini cuma generasi 90an yang tahu ;) ). Buniayu
dikelola oleh Perhutani Unit III Jawa Barat. Bertempat di kawasan hutan pinus
milik perhutani Goa Buniayu mulai dikembangkan untuk tujuan pariwisata mulai
tahun 2007, dengan tetap memperhatikan kelestarian alam goa tersebut.
| Pos pemberangkatan ke Goa Vertical |
Rute ke Buniayu
Alasan kami memilih Buniayu untuk meraih kebahagiaan adalah akses menuju
wisata ini cukup mudah dari Jakarta. Total waktu tempuh kami 5 jam untuk
benar-benar sampai di saung buniayu dan disambut Kang Gareng guide kami.
Perjalanan kami mulai menggunakan commuterline
dari Bintaro menuju Tanah Abang.
| Kereta Pangrango Bogor-Sukabumi (kelas Ekonomi) |
Dari Tanah Abang kami berganti jurusan Bogor.
Dari stasiun Bogor, cukup berjalan sekitar 10 menit untuk pindah ke Stasiun
Paledang Bogor. Menggunakan kereta Pangrango dari Stasiun Paledang menuju
Stasiun Sukabumi yang hanya memakan waktu 2 jam dengan ongkos kelas ekonomi Rp.
20.000,- atau jika ingin nyaman dikit kelas executive Rp. 50.000,-. Dijamin
pemandangan persawahan dan bebukitan yang menghijau di sepanjang rel membuat
hati tenteram dan damai. Dari stasiun Sukabumi, pilih angkot jurusan terminal
Jubleg dengan ongkos Rp. 3.000,- dengan waktu tempuh setengah jam (jika tidak
ngetem) dan selanjutya nyambung sekali naik angkot atau elf jurusan Sagaranten
atau Purabaya. Sampailah kita di Wana Wisata Buniayu.
| Jalan-jalan hemat, bekal buat nikah, makanya naik kereta ekonomi |
Ringkasnya:
Commuter Line: Pondok Ranji Tanah Abang Bogor
Kereta Pangrango: Stasiun
Paledang Bogor Stasiun Sukabumi
Angkot Hitam 025: Stasiun
Sukabumi Terminal Jubleg
Elf: Stasiun Jubleg Wana Wisata Buniayu
Akomodasi
Di Kawasan Gua Buniayu sudah dibuat saung-saung kecil untuk menginap,
sedangkan untuk kapasitas besar ada saung yg bisa menampung kurang lebih 20
orang. Toilet dan Mushola juga tersedia. Pilihan untuk lebih menyatu
dengan alam juga ada dengan menginap di tenda-tenda kecil (camping) di camp site yang disediakan di Buniayu.
Untuk makanan, anda bisa memasak sendiri atau mengandalkan penduduk
sekitar untuk menyediakan sarapan dan makan siang. Hitung-hitung menggerakan
roda perekonomian masyarakat sekitar (ceileh…). Makanan yang disediakan pun
akan membekas dihati dan lidah. Citarasa bumi pasundan dan kesederhanaan
menunya yang kami cari di sini. Makan di saung-saung kecil dengan kicauan
burung dan hutan , suasana sederhana ini yang kami cari untuk menenangkan
hati. Ketersediaan air juga dibilang mencukupi walaupun kami datang saat musim
kemarau.
Aktivitas di Buniayu
1. Menikmati
Museum Bawah Tanah
Goa dan segala keindahan di dalamnya merupakan fenomena alam yang
luar biasa. Layaknya museum yang berada di bawah tanah goa menyuguhkan
keindahan yang istimewa dengan ornamen-ornamen goa yang terbentuk dari proses
alam ribuan tahun lamanya. Goa merupakan laboratorium evolusi binatang dan
wahana penelusuran sejarah atas berjalannya proses pembentukan bumi.
2. Sensasi
Kegelapan Abadi
Pembagian zona cahaya dalam goa akan memberikan sensasi luar biasa yang
belum pernah dialami sebelumnya. Hanya di dalam goa, kita dapat merasakan
sensasi kegelapan abadi yang tidak bisa ditemui di manapun juga, yang
menyadarkan kita terhadap kebesaran Sang Maha Pencipta.
| Memasuki Zona Gelap Abadi |
3. Gerbang
Vertikal
Hanya sedikit goa di Indonesia yang memiliki gerbang masuk vertikal, dan
Goa Cipicung Buniayu adalah salah satunya. Pengalaman yang jarang bisa ditemui
oleh paracavers di Indonesia. Caving di goa vertical memerlukan
persiapan khusus. Dengan wearpack, headlamp, rope dan
boots kami siap untuk menulusuri goa sepanjang 3km.
| Persiapan Caving Goa Vertical |
| Udah siap peralatan, tapi batin belum siap..... |
Sepanjang perjalanan
terdapat banyak Stalaktit, Stalakmit,
Drapery, Gourdam, Canopy, Flow stone, Column. Benar-benar kuasa Allah,
banyak banget keindahan-keindahan didalam gua, kita sempet nemuin batu yang
dipukul bisa bunyi seperti gong. Selama perjalanan didalam gua banyak
terdapat lorong2 sempit yg harus merayap, merangkak, bermandi lumpur, menyusuri
sungai berbasah2an, menanjak dan turun lagi. Pernah lihat film 127 hours? untuk melintasi goa vertical kami harus
beradegan ala-ala film itu dengan menenmpelkan punggung di dinding gua dan
menjejakkan kaki di dinding gua lainnya, harus hati-hati, kalau engga ya
wassalam bakal jatuh ke celah sempit gua.
| Berasa pekerja tambang ;) |
Goa vertical atau yang yang diberi istilah goa minat khusus memang
meiliki paket komplit. Di dalam goa ini ada sungai dalam goa, air terjun dalam
goa hingga danau pun ada. Tak berhenti di situ, lumpur abadi yang berada dalam
goa ini seakan mengelem kaki kami saat menginjakan di area lumpur abadi.
| Contoh Aliran Sungai dalam Goa Photo Credit: Adhira |
Goa vertical atau goa kerek dibagi menjadi beberapa zona. Zona pertama,
zona terang tempat dimana kami diturunkan dari mulut gua sekitar 25m dari
permukaan tanah. Berjalan beberapa menit kami mulai menyusuri sungai dalam gua.
Sungai ini akan bermuara ke curug bibijilan. Aliran sungai ini sudah memasuki
zona gelap abadi. Dalam zona gelap abadi terdapat fauna seperti laba-laba buta,
jangkrik buta yang memang tidak membutuhkan cahaya untuk hidup.
Hanya bermodalkan headlamp dan lampu karbit dari pemandu kami, stalaktit
dan stalagmit masih berdiri dan tergantung kokoh. Butiran-butiran kalasit yang
seperti salju apabila terkena cahaya ikut menghiasi ornamen ini. Pemandangan
yang luar biasa dan tidak dapat kami temui di permukaan.Berikut foto-foto Ornamen Goa Buniayu yang berhasil diabadikan oleh trip buddy saya Adhira.
| Stalaktit Buniayu, masih tumbuh |
| Stalaktit menajam ke bawah dasar goa |
| Gourdam Kalasit seperti butiran salju putih |
| Canopy Goa Buniayu |
| Rembesan air pada stalaktit menandakan stalaktit tersebut masih akan terus tumbuh |
| Flow Stone Buniayu |
Hanya bermodalkan headlamp dan lampu karbit dari pemandu kami, stalaktit
dan stalagmit masih berdiri dan tergantung kokoh. Butiran-butiran kalasit yang
seperti salju apabila terkena cahaya ikut menghiasi ornamen ini. Pemandangan
yang luar biasa dan tidak dapat kami temui di permukaan.
Tidak hanya stalaktit dan stalagmit, gourdam ikut menghiasi zona gelap
goa vertical. Gourdam itu ornament goa yang berbentuk seperti sengkedan dan
biasanya yang masih aktif itu yang dialiri air. Gemericik air menemani perjalanan menysusuri
goa. Semakin lama gemericik itu semakin terdengar jelas, ternayat kami sampai
pada air terjun dalam goa. Air terjun ini terletak di lapisan bawah kami, hanya
terlihat melalui celah sempit goa. Tak berhenti-berhentinya saya kagum pada
keindahan dalam goa buniayu. Paket komplit saya temukan di goa vertical ini.
| dua wanita perkasa, yang ga takut buat berlumpur2an di dalam goa |
4. Goa
Horizontal
Berbeda dengan goa vertical, goa horizontal
lebih mudah untuk ditelusuri. Goa horizontal disebut juga goa angin atau ga
minat umum. Ya memang untuk pengunjung yang ingin wisata goa dengan medan yang
tidak terlalu menantang. Goa sepanjang 500 m yang dapat ditempuh selama 1 jam
(plus waktu foto-foto) di dalam.
| Kang Gareng menjelaskan struktur goa Horizontal |
Kang Gareng, guide kami menjelaskan bahwa
sebenarnya goa horizontal ini juga sambungan ke goa-goa lain, namun untuk
melewatinya sangat tidak mungkin karena medannya yang sempit. Di goa horizontal
akan ditemui instalasi lampu-lampu penerangan yang sudah tidak terpakai lagi.
Di goa horizontal lah dulu dilakukan syuting film si buta dari goa hantu. Maka tidak
heran banyak ditemukan ornament batu yang berbentuk seperti meja kursi dan
tempat pertapaan, hal-hal tersebut dimaksudkan untuk properti syuting.
5. Rapling
Curug Bibijilan
Satu lagi aktivitas yang dapat kita lakukan
di Buniayu, rapling atau turun tebing dengan menggunakan tali dapat dilakukan
di curug ini dengan catatan saat debit air besar. Saat kami ke sana, debit air
kecil maka kegiatan rapling tidak dapat dilaksanakan (padahal belum tentu
berani juga…..hahahahha).
Bedanya dengan turun gua vertical tadi, kalo rapling
itu menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai
pendorong gerak turun. Sebenarnya penasaran dan takut akan aktivitas ini,
mungkin lain kali bisa mencoba saat debit air cukup dan keberanian pun cukup.
Jadi kami hanya sempat mandi-mandi di curug bibijilan membersihakan sisa-sisa
lumpur dari goa vertical.
| Habis mandi seger di Bibijilan, bagus buat kesehatan kulit (yakali...) |
Bibijilan berarti jalan keluar, karena memang curug
ini merupakan jalan keluar air dari goa vertical. Air dari curug ini
dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan air bersih. Dari alam
kembali ke alam dan menjaga untuk alam.
Waktu yang tepat ke Buniayu
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, untuk melakukan wisata ke site
buniayu lebih baik saat pergantian musim dari kemarau ke penghujan (sekitar
bulan . Hal ini disebabkan lumpur dan debit air dalam goa belum terlalu tinggi.
Menurut keterangan guide kami, saat musim hujan air dapat menggenangi goa
hingga ketinggian yang tidak ditentukan. Jalan akses goa bisa tertutup, dan
lumpur semakin licin. Selain itu saat menjelang musim penghujan debit air di
curug bibijilan belum terlalu penuh dan tidak banjir sehingga dapat digunakan
untuk rapling dan mandi-mandi setalah caving.
| Sarana Transportasi kami, pick up!!!!!!! |
| Kemana-mana diangkutnya pake pick up |
Persiapan yang diperlukan
- 1. Bawa
headlamp dan sandal gunung, kenapa headlamp bukan sentar? Karena medanya sulit
khususnya buat goa vertical, tangan kita akan sibuk mencari pegangan daripada
megang senter. Kenapa sandal atau sepatu gunung? Karena medannya licin,
walaupun sudah disediakan boots di sana apa salahnya persiapan dari awal.
- 2. Persiapkan
stamina yang prima dan bagi yang syndrome ruang sempit gelap dan ketinggian,
mungkin ini terapi yang bagus (hahahahaha)
- 3.Untuk
menghindari dehidrasi, bawa air minum ketika menysuri goa vertical, masukan dalam dry bag biar aman,
berikut kamera dsb.
- 4.Berangkat lebih pagi karena jadwal kereta ke
sukabumi hanya sekali yaitu pukul 08.00. disarankan menggunakan kereta daripada
menggunakan bus untuk berangkat, begitu pula pulangnya.
Untuk lebih mudahnya akomodasi di site Buniayu, bisa menghubungi guide Kang Gareng di nomor 085759549615
Bahagia kami lengkap mulai tumbuh pascasidang dengan trip ini. Kami
berpetualang untuk sesuatu yang ingin dikenang baik dalam perjalanan, tujuan,
maupun melepas kepulangan.
Buniayu, kecantikan yang tersembunyi dalam perut bumi dengan bijak, boleh
mengaggumi tanpa perlu menyakiti sejauh apapun kami melangkah,
Sejauh apapun kami berhijrah, yang kami yakini tujuan terindah adalah
rumah...
Raih bahagiamu dengan caramu tanpa harus melukai rasa sedihmu.
Berikut Video perjalanan yang kami buat saat di Buniayu....
Author
| Repyssa A. |
