Jelajah Tatar Sunda, Majalengka (bagian 2)
Tatar Sunda
Majalengka, masih ada beberapa spot yang wajib dikunjungi. Saya sengaja membagi
menjadi dua bagian cerita perjalanan saya di Majalengka. Tujuan dari pembagian
ini adalah agar teman-teman bisa fokus menentukan mana wisata yang akan
dikunjungi saat ada di Majalengka, berikut how
to get there dan what should we do in there.
1.Curug Cipeteuy
Tentang Wisata
Taman Nasional Gunung Ciremai
mempunyai jangkauan daerah konservasi di tiga kabupaten. Kabupaten Kuningan,
Majalengka dan Cirebon. Curug Cipeteuy merupakan salah satu tujuan wisata alam
binaan Taman Nasional Gunung Ciremai. Terletak di Desa Bantar Agung
Kecamatan Sindangwangi Majalengka dengan
akses yang mudah menjadikan Curug Cipeteuy tempat wisata yang cocok untuk
dikunjungi bersama keluarga. Dikelilingi hutan pinus, menjadikan curug ini semakin
asri dan sejuk. Mengapa dinamakan Curug Cipeteuy? Hasil simpulan dari si rian
sahabat saya mengatakan bahwa “mungkin karena di sekitar curug banyak tumbuh
pohon pete, makanya dinamakan curug cipeteuy,’ (entah benar atau hanya simpulan
sok tahu dari si rian hahahaha)
| Lingkungan Cipeteuy |
Tentang Rute
Dari Arah Majalengka saya dan
sahabat saya menuju curug menggunakan motor melalui jalur Sumber Cirebon.
Sebelum Kantor Kecamatan Sindangwangi ada pertigaan, kami
mengambil arah kiri dari arah Majalengka.
Rute menuju Curug Cipeteuy sudah bagus dan mudah. Plang petunjuk arah
juga lengkap di setiap persimpangan. Masuk ke Desa Bentar Agung jalan mulai
menanjak, agak kerepotan juga bagi yang menaiki motor matic apalagi dengan
beban penumpang
yang berlebih.
Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan terasering sawah
yang rapi. Entah majalengka entah Ubud, sama-sama terasering rapi, hijau,
pematang sawah memanjang dan pancuran irigasi yang apik menambah khas
pemandangan menuju curug cipeteuy. Ada yang bilang sesuatu yang indah itu susah
untuk didapat dengan mudah butuh perjuangan. Lain halnya dengan curug cipeteuy,
curug bertingkat nan asli dengan tatanan yang sudah dikelola dengan baik mudah
untuk didatangi. Jalan aspal halus namun agak sempit.
| jembatan menuju curug cipeteuy |
Tentang Fasilitas
Mitrawisata Taman Nasional Gunung
Ciremai berhasil menyulap Curug Cipeteuy yang menurut saya seperti kebanyakan
curug yang lainnya, tapi diubah menjadi sesuatu yang berbeda. Seni penataan
air, vegetasi, jalan setapak, gazebo dan bumi perkemahan semua apik.
Pembangunan yang dilakukan pengelola tidak merusak keasrian dan kealamian dari
lingkungan Curug Cipeteuy. Toilet cukup bersih dengan mengambil air alami dari
curug, jadi kalau habis berenang di curug dan akan bilas, akan berasa dingin
banget air bilasnya.
Tempat Makan, walaupun banyak warung
didirikan di sekitar objek wisata, yang biasanya menimbulkan efek negatif
sampah dimana-mana. Lain halnya dengan lokasi ini, di sepanjang jalan setapak
yang kami lewati tak kami temukan satu pun sampah tercecer. Tempat sampah yang
tergantung dari karung beras berjajar rapi di sepanjang jalan setapak.
Gazebo dan Tempat penyimpanan
pakaian disediakan apabila ada keluarga yang sedang mengadakan piknik bersama.
Selain wisata curug, ternyata
cipeteuy juga mempunyai bumi perkemahan yang dibuka untuk umum. Fasilitas
lainnya adalah jalur hiking yang memang sudah di atur rute dan jalan setapaknya
agar aman dan selalu dalam pengawasan. Berlokasi di kaki gunung ciremai membuat
Curug Cipeteuy mempunyai hawa sejuk dan vegetasi hutan pinus membuat daya tarik
tersendiri bagi wisata ini.
Estetika dari pembuatan jembatan,
kolam, tangga, dan alur jalannya air sangat-sangat diperhatikan dari pihak
pengelola. Jadi tidak heran banyak spot foto yang ciamik di cipeteuy ini. Bisa
juga tempat ini untuk dijadikan setting tempat prewedding foto.
Simpulan
Pengelola Curug Cipeteuy berhasil
mempertahankan keasrian dan kelamian dari wisata curug cipeteuy. Walaupun
pembangunan di berbagai aspek, seperti tangga, saung, toilet, bumi perkemahan
dan konservasi tumbuhan dimana-mana, estetika tetap diperhatikan. Wisata ini
cocok untuk wisata keluarga karena akses cukup mudah dari pusat kota
Majalengka, hanya saja perlu diperhatikan parkir mobil yang masih kurang.
· 2.Goa Lalay
Tentang Wisata
Majalengka bisa disebut daerah
dengan sejuta kemiripan dengan wisata daerah lain. Cadas Gantung yang
menyerupai Tebing Keraton, Panyaweuyan yang menyerupai ubud, kemudian cipeteuy
yang menyerupai mata jitu di Sumbawa. Sekarang giliran green canyon
di Pangandaran yang mendapat kembaran dari wisata Majalengka. Goa lalay
berlokasi di desa Sukadana masih di Kecamatan Argapura, Majalengka. Lalay
sendiri berasal dari bahasa sunda yang berarti kelelawar. Memang banyak
kelelawar yang mendiami goa ini, terlihat dari kotoran yang memenuhi batu-batu
besar ditengah sungai goa lalay. Goa lalay sendiri merupakan cerukan yang
ditengahnya mengalir sungai cilongkrang.
Di hulu goa lalay terdapat curug
pelangi atau ibun pelangi, yang apabila
terkena sinar matahari terdapat lengkung pelangi. Batu-batu besar yang menghimpit
sungai dan ditumbuhi pepohonan membuat goa lalay seperti green canyon di
pangandaran.
Saat kami ke sana, sepulang dari
terasering argapura, ada peristiwa penangkapan ular phyton di sekitar goa
lalay. Agak merinding juga, yang tadinya kami berniat mau berenang di bawah
curug, dan memang batal karena terlalu banyak orang.
Terbayang waktu kami
renang ada ular melintas di bawah kami. Saya pernah mencari asal muasal goa lalay ini . secara kebetulan di internet
disebutkan ada oray lalayki yang mendiami goa ini. Oray lalaki artinya ular
yang berwujud manusia pria, kepalanya pria dan tubuhnya ular. Tapi kebenaran
akan cerita ini belum dapat dipertanggungjawabkan, seperti biasa local talk saat wisata.
Tentang Rute
Goa Lalay berlokasi di Desa
Sukadana, Kecamatan Aragapura Majalengka. Untuk mencapai lokasi ini kami berangkat dari pusat kota
Majalengka menuju pasar Maja, sekitar 40 menit kami berkendara motor.
Dari Pasar Maja, kami mengambil arah
yang ke Desa Sukadana atau arah Apuy, Argalingga. Secara gampangnya rute nya :
- Majalengka Kota – Pasar Maja = dari pasar Maja, belok kiri kearah Argalingga/Apuy
- Pasar Maja – Desa Sukadana(Sebelum Kecamatan Argalingga) = tanya warga aja
- Tempat Parkir (halaman rumah warga setempat) – Goa Lalay = harus jalan tracking sekitar 10 menit, lewat batu-batu andesit yang dibuat tangga.
Tenang ga akan kesasar kalau mau ke
sini, wisata Goa Lalay cukup terkenal, tinggal tanya penduduk sekitar
yang ramah dan beres.
Tentang Fasilitas
Jalan menuju Goa Lalay merupakan
jalan setapak curam
yang merupakan lembah sungai Cilongkrang. Ujung dari jalan ini adalah sebuah
tambang batu andesit. Nah.. dari sini baru bisa melihat
kemegahan tebing batu yang menjadi lorong bagi aliran sungai Cilongkrang. Bila
ingin turun kebawah menuju sungai Cilongkrang harus dengan meniti tebing batu
andesit, harap berhati-hati dikarenakan tebing merupakan tumpukan pecahan batu
andesit, untuk selalu memastikan kekuatan pijakan salah salah kita bisa
terperosok dan jatuh atau batu yang anda pijak longsor dan mengenai teman yang
sudah dulu turun, jadi harus ekstra hati-hati. Bila sudah bawah kita bisa
menelusuri sungai menuju Goa lalay yang tak jauh dari sana.
Fasilitas di
wisata Goa Lalay sudah terdapat warung makan dan toliet seadanya. Selain fasilitas tersebut,
disediakan tempat parkir
disediakan dan berjarak sekitar 500 m dari objek wisata. Tangga-tangga yang terbuat dari bambu dibuat untuk
mempermudah pengunjung menuruni goa lalay agar tidak tergelincir.
Simpulan
Setiap wisata alam mempunyai risiko
tersendiri. Pernah terjadi kecelakaan di lokasi Goa Lalay. Beberapa pengunjung
terseret air bah waktu menuju goa alaly. Waktu itu keadaan hujand deras dan
pengunjung tersebut memaksakan kehendak untuk turun ke curug dekat goa. Dari
fasilitas, objek wisata Goa Lalay sebenarnya sudah memperhatikan keselamatan
pengunjung. Dari kebersihan dan kealamian objek, semua dijaga dengan baik. Rute
untuk menuju lokasi ini juga dapat dijangkau dengan mudah. Lokasinya berdekatan
dengan terasering panyawean Argapura, tanya penduduk sekitar pasti tahu, get
local untuk berkelana secara bijak.
Ini video dokumentasi saya berkelana (bahasanya.... hahahahaha) ke Majalengka