Dieng Culture Festival 2014
Saat kebudayaan masyarakat lokal
mulai dilestarikan dengan baik dan dikelola untuk tujuan pariwisata, hal ini
akan mendatangkan multiflier efek untuk penduduk sekitarnya. Dieng Culture
Festival 2014, digelar kali kelima dengan tambahan-tambahan acara yang berbeda
di tahun sebelumnya. Dieng Culture Festival digelar di Dataran Tinggi Dieng,
Kabupaten Banjarnegara pada tanggal 30-31 Agustus 2014. Acara ini digagas oleh
Pokdarwis Dieng Pandawa, Kelompok Sadar Wisata Dieng yang bekerja sama dengan
Disbudpar Banjarnegara.
| Acara Utama Dieng Culture Festival V |
Acara Dieng Culture Festival
2014, terpusat di komplek Candi Arjuna, yang berada di Desa Wisata Dieng Kulon.
Multiflier efek yang ditimbulkan dengan adanya Dieng Culture Festival sangat
membantu masyarakat dieng, mulai dari
menggerakan roda perekonomian lokal melalui industri kreatif, kuliner, jasa
homestay, parkir, jasa guide, retribusi daerah, dan penghasilan-penghasilan
tersamar lainnya bagi penduduk Dieng Kulon maupun Dieng Wetan. Keistimewaan
Dieng Culture Festival adalah kerukunan yang diciptakan untuk menjadikan
upacara pemotongan rambut gimbal yang dahulunya dilakukan secara individual
kekeluargaan dengan biaya orang tua anak gimbal untuk mendanai semua
kelengkapan upacara adatnya, namun dengan adanya event ini, biaya-biaya
tersebut dapat ditanggung bersama karena diadakan secara masal dan menjadi daya
tarik wisata yang berimbas positif bagi penduduk Dieng.
| Sekretariat Dieng Culture Festival V di Camping Zone |
Dieng Culture Festival 2014 merupakan
perpaduan antara budaya daerah, potensi wisata alam, dan pemberdayaan
masyarakat lokal untuk menyajikan suatu event yang unik dibanding
festival-festival kebudayaan lainnya. Acara utama Dieng Culture Festival 2014
adalah Ruwatan / Pemotongan Rambut Bocah Gimbal Dieng, dan acara pendukung
lainnya seperti Kirab Budaya, Screening Film Dieng, gelar budaya tradisional
(Rampak Yakso, Tari topeng, Warok), Pagelaran wayang kulit, Sky Lantern Party (penerbangan lampion
dan kembang api), pameran produk kreatif bahkan Festival Jazz Atas Awan pun
ikut memeriahkan Dieng Culture Festival 2014 kali ini.
| Ruwatan Pencukuran Rambut Gimbal di depan Candi Arjuna |
Ruwatan Pencukuran Rambut Gimbal Dieng
Ruwatan merupakan prosesi
penyucian yang sudah sangat lekat dengan kebudayan Jawa. Ruwatan Pencukuran
Rambut Gimbel kurang lebih sama dengan ruwatan jawa lainnya bertujuan mengusir
nasib buruk atau ritual menjauhkan kesialan baik bagi si bocah rambut gimbal
maupun masyarakat Dieng. Bocah rambut gimbal merupakan fenomena unik, dimana
anak-anak tertentu tumbuh rambut gimbal secara alami. Masyarakat Dataran Tinggi
Dieng percaya bahwa anal-anak rambut gimbal merupakan titipan Kyai Kolo Dete.
Kyai Kolo Dete merupakan Punggawa di masa Mataram Islam yang ditugaskan untuk
membangun pemerintahan di wilayah Dataran Tinggi Dieng (untuk belajar sejarah kerajaan mataram dengan cara asyik, bias dilihatdi sini). Sesampainya di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Kolo Dete bersama
istrinya Nini Roro Rence mendapat wahyu dari Ratu Pantai Selatan bahwa mereka
ditugaskan untuk membawa Masyarakat Dieng ke kesejahteraan. Tolak ukur
kesejahteraan masyarakat Dieng dengan keberadaan anak-anak berambut gimbal,
sejak saat itulah muncul anak-anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng.
| Kawah Sikidang, Napak Tilas Sebelum Cukuran |
Sehari sebelum diadakan Ritual
Ruwatan, terlebih dahulu dilakukan prosesi Napak Tilas yang dipimpin oleh
sesepuh pemangku adat serta sejumlah tokoh menuju beberapa tempat yaitu: Candi
Dwarawati, Komplek Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, Candi Bima, Telaga
Balaikambang, Kawah Sikidang, Komplek Pertapaan Sendang Maerokoco, Mandalasari,
Kali Pepek dan komplek pemakaman Dieng. Di tempat-tempat tersebut dilakukan
ritual do’a kepada Yang Maha Kuasa agar prosesi Ruwatan Rambut Gimbal dapat
berlangsung lancar.
| Darmasala. lokasi jamasan anak gimbal |
Prosesi pencukuran rambut gimbal
didahului dengan kirab budaya yang terdiri dari pengawal utama, dua orang
pembawa dupa, para pembawa tombak, para pembawa permintaan (sesaji dan Ubo
Rampe) Anak gimbal berbaju putih. Kemudian anak gimbal akan dilakukan upacara
jamasan di Utara Sendang Maerokoco, utara Darmasala Kompleks Candi Arjuna.
Jamasan adalah ritual mencuci rambut gimbal oleh sesepuh dengan kembang tujuh
rupa dan 7 mata air yang ada di daerah Dieng. Setelah dilakukan jamasan, anak
gimbal dikawal ke tempat pencukuran dan prosesi dimulai dengan didampingi tokoh
masyarakat dan sesepuh. Pencukuran dilakukan di depan Candi Arjuna, dan barang
permintaan sang anak gimbal pun dibawa ke area pencukuran.
| Kompleks Candi Arjuna, tempat ritual cukuran rambut gimbal |
Waktu itu anak berambut gimbal
mempunyai permintaan sepeda warna pink, apel merah, es lilin warna ungu dan doa
selamat dan bahagia di hidupnya. Masing-masing anak mempunyai permintaan yang
berbeda-beda sebelum dilakukan pencukuran dan permintaan ini harus dipenuhi
demi kesehatan sang anak. Tak jauh dari tempat prosesi pencukuran dilakukan
adat Ngalap Berkah yang dipercaya dapat mendatangkan kemakmuran apabila
berhasil mengambil tumpeng dan makanan yang disusun rapi secara berebutan.
| Telaga Warna, tempat melarung rambut gimbal |
Setelah dilakukan pencukuran,
kemudian rambut gimbal tersebut akan dilarung ke Telaga Warna. Tradisi ini dilakukan secara turun-temurun dan dimulai karena
permintaan atas anak itu sendiri untuk mencukur rambut gimbalnya. Apabila
rambut gimbal dicukur tanpa permintaan anak dan tanpa ruwatan, maka rambut
gimbal akan tumbuh lagi dan kesehatan anak tersebut akan terganggu.
| Jazz atas awan, jauh banget dapet posisinya jadi ga oke dapet fotonya |
Selain acara utama Ruwaatan
Pencukuran Rambut Gimbal, adapula Jazz atas Awan dengan menampilkan 14 group
jazz, diantaranya R & The Groove,
Pandawa Jazz, Lune Accoustic, Dawai, Mosya, Absurdnation, Sounday, Gubuk Poci,
Japra, SummerHouse Project, SNF, Jess Kidding, 4 U Feat Jam, Band of BPD
Jateng. Jazz atas awan diselenggarakan di kompleks Candi Arjuna hari Sabtu
Malam 30 Agustus 2014 setelah acara Sky
Latern Party di Lapangan Pandawa. Dinamakan Jazz Atas Awan karena Dieng
yang menjadi tempat terselenggaranya acara ini sering mendapat julukan negeri
atas awan. Dieng yang terletak di dataran tinggi dengan pemandangan yang
mempesona memang pantas mendapat sebutan negeri atas awan.
Para penonton jazz atas awan duduk bersahaja bersama menikmati alunan musik
jazz dengan menikmati jagung bakar dan dinginnya udara dieng. Perpaduan yang
pas yang disajikan di Dieng Culture Festival.
![]() |
| Sky Latern Party, penerbangan Lampion |
| Buat yang mau camping siap2 membeku |
Selain itu, diselenggarakan pula
pagelaran Wayang Kulit Pakeliran Ringkes pada sabtu sorenya di lapangan
pandawa. DCF 2014 kali ini menambahkan agenda Sky Latern Party yang berupa penerbangan 3000 lampion dan pesta
kembang api oleh peserta DCF 2014. Ribuan Lampion diterbangkan bersama di
lapangan Pandawa menghiasi langit Dieng mencoba menghangatkan dinginnya udara
Dieng pada malam hari. Acara semakin semarak dengan banyaknya lampion yang
terbang dan ditambah letupan-letupan kembang api yang mewarnai langit Dieng.
Tak jauh dari lapangan tempat Sky Latern
Party, terdengar gending jawa yang mengiringi para Warok menari sampai
malam. Konon para Warok ini sering dimasuki arwah hingga kesurupan. Dieng
Culture Festival 2014 berhasil memadu padankan antara pesona wisata alam dieng,
kebudayaan adat daerah, dan kebersamaan masyarakat Dieng.
| Camping Zone Dieng di Lapangan Pandawa |
Saran Bagi Panitia DCF
Hanya ada beberapa sedikit
catatan saran untuk penyelenggarana Dieng Culture Festival tahun mendatang,
fasilitas parkir harus lebih ditertibkan agar jalan menuju dan keluar kawasan
desa wisata Dieng dapat berjalan lancar. Kemudian penertiban cara masuk ke
lokasi pencukuran rambut gimbal juga akan lebih baik kalo dirubah sehingga
antrian tidak terlalu panjang. Untuk fasilitas-fasilitas lainnya seperti penginapan dipersiapkan sematang
mungkin dengan memperhitungkan banyaknya wisatawan yang akan ke Dieng untuk
menyaksikan acara ini. Pihak panitia memfasilitasi wisatawan yang hendak
menginap untuk menikmati acara ini tetapi kehabisan homestay karena jumlah
pengunjung yang hadir mencapai 15.000 orang (dari tiket DCF yang terjual)
dengan menyediakan camping ground di lapangan pandawa dekat komplek candi
arjuna. Para pengunjung dapat mendirikan tenda di area tersebut setelah
melakukan pemesanan terlebih dahulu ke panitia, tenda pun disediakan oleh
panitia apabila diperlukan, dengan catatan telah melakukan reservasi terlebih
dahulu. Camping ground dilengkapi dengan mushola, MCK, api unggun, Coffee Corner, secretariat loker dan lain sebagainya.
| Camping Zone |
Tips Bagi Wisatawan DCF
Ada beberapa tips untuk wisatawan
yang ingin menyaksikan Dieng Culture Festival tahun depan, segeralah reservasi
tiket DCF 2015 begitu sudah dibuka di (www.dieng.co) karena banyaknya permintaan sering kali tiket
habis, kemudian bagi yang tidak tahan dingin, lebih baik reservasi home stay
setelah mendapat tiket DCF karena apabila mendirikan tenda di Camping Ground
udara Dieng dapat mencapai 0 derajat ya gambarannya embun-embun pada membeku
gitu. Tips lainnya, bawa kendaraan pribadi untuk mempermudah akses dari satu
objek wisata ke objek lainnya, karena jaraknya lumayan jauh, tapi ingat parkir
jangan sembarangan karena akan menyebabkan macet.
![]() |
| Dengan Tiket DCF kamu dapet akses ke objek wisata Dieng, akses ritual , Kaos, Kain, Lampion, Jagung |
Berikut sedikit cupilkan tentang Dieng Culture Festival V yang dapat saya liput :
Patut diapresiasi usaha Pokdarwis
Pandawa Dieng selaku panitia penyelenggara Dieng Culture Festival 2014 untuk
melestarikan budaya adat lokal yang dipadukan dengan wisata alam dieng yang
mempesona. Sudah sepantasnya daya tarik wisata budaya menjadi salah satu sumber
lain penggerak ekonomi masyarakat sekitar yang menimbulkan multiflier efek yang
positif.
| Repyssa A. |

